JAKARTA, KalderaNews.com – Universitas Indonesia (UI) tengah menjadi sorotan setelah menghadirkan Peter Berkowitz, akademisi dari Stanford University yang dikenal luas dengan sikap pro-Israel.
Pada Sabtu (23/8/2025), Berkowitz menyampaikan orasi ilmiah di Balairung UI, Depok. Kehadiran sosok yang kerap menyuarakan pandangan tegas mengenai politik Timur Tengah ini menimbulkan kontroversi.
Hal ini karena rekam jejak panjangnya di dunia akademik, penelitian, hingga keterlibatannya dalam pemerintahan Amerika Serikat (AS).
BACA JUGA:
- Profil dan Biodata Roche, Mahasiswi Kedokteran UI yang Berhasil Jadi Grand Finalist Clash of Champions Season 2
- Profil dan Biodata Vannes, Mahasiswa NTU yang Jadi Grand Finalist Clash of Champions Season 2
- Profil Aliah Sakira, Pembawa Baki Penurunan Bendera HUT RI ke-80 di Istana Negara 17 Agustus 2025
Profil Peter Berkowitz
Saat ini, Berkowitz menjabat sebagai Tad and Dianne Senior Fellow di Hoover Institution, sebuah lembaga think tank kebijakan publik yang berada di bawah Stanford University.
Hoover dikenal sebagai salah satu pusat riset prestisius di AS yang berfokus pada isu kebebasan individu, kesejahteraan ekonomi, hingga keamanan global.
Di lembaga tersebut, Berkowitz aktif dalam riset sekaligus berkontribusi dalam kelompok kerja mengenai kewarganegaraan dan sejarah militer kontemporer.
Selain di Hoover, ia juga menduduki posisi penting sebagai Direktur Studi The Public Interest Fellowship (TPIF), program dua tahun yang dirancang untuk membekali lulusan baru maupun profesional muda dengan pemahaman mendalam tentang tradisi liberal, demokrasi konstitusional, serta keterampilan kepemimpinan.
Melalui TPIF, Berkowitz berperan dalam membentuk generasi muda Amerika yang bergerak di ranah kebijakan publik dan pemerintahan.
Perjalanan akademik Berkowitz dimulai di Swarthmore College, tempat ia menuntaskan gelar BA di bidang Sastra Inggris.
Ia kemudian melanjutkan ke Hebrew University of Jerusalem, Israel, dan meraih gelar MA Filsafat. Universitas ini sendiri memiliki reputasi panjang karena didirikan oleh tokoh-tokoh besar seperti Albert Einstein dan Chaim Weizmann.
Setelah itu, ia melanjutkan studi di Yale University, di mana ia memperoleh gelar profesional hukum Juris Doctor (JD) sekaligus menyelesaikan PhD Ilmu Politik.
Dari sinilah fokus akademiknya semakin jelas, terutama dalam bidang pemerintahan konstitusional, konservatisme, progresivisme, politik Timur Tengah, pendidikan liberal, hingga keamanan nasional.
Riset, Karya Tulis, dan Pandangan Peter Berkowitz
Berkowitz dikenal sebagai penulis produktif. Ia kerap mengisi tulisan di RealClearPolitics, membahas isu-isu sensitif seperti kesepakatan Israel-Hamas, ancaman Iran terhadap Israel dan Barat, hingga kontroversi mengenai keberadaan profesor konservatif di kampus Amerika.
Selain artikel, ia juga menulis sejumlah buku penting, antara lain Explaining Israel: The Jewish State, the Middle East, and America; Constitutional Conservatism: Liberty, Self-Government, and Political Moderation.
Ia juga menuliskan tentang Israel and the Struggle over the International Laws of War. Karya-karya tersebut memperlihatkan fokus pemikirannya yang erat dengan isu Zionisme, hukum internasional, serta konservatisme politik.
Nama Berkowitz juga tercatat dalam lingkaran pemerintahan Amerika. Pada masa pertama Presiden Donald Trump (2019–2021), ia dipercaya menjabat sebagai Direktur Staf Perencanaan Kebijakan Departemen Luar Negeri AS.
Ia juga sempat mengemban tugas sebagai sekretaris eksekutif Komisi Hak-Hak yang Tidak Dapat Dicabut serta penasihat senior Menteri Luar Negeri AS.
Pengalaman tersebut semakin mempertegas peran Berkowitz dalam urusan kebijakan luar negeri, khususnya terkait kawasan Timur Tengah, isu keamanan nasional, dan hubungan internasional.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply