
BEKASI, KalderaNews.com- Heboh di media sosial, warga Perumahan Dukuh Zamrud, Bekasi, menggerebek sebuah pengajian yang disebut-sebut memungut uang Rp 1 juta dengan janji tiket masuk surga.
Pengajian yang dipimpin perempuan berinisial PY atau dikenal sebagai ‘Umi Cinta’ itu sudah berjalan 8 tahun dan kini jadi sorotan publik.
Kegiatan ini disebut-sebut memuat ajaran menyimpang, termasuk pungutan uang dan janji surga bagi yang membayar Rp 1 juta. Sejumlah peserta juga dikabarkan mengalami perubahan perilaku yang meresahkan.
BACA JUGA:
- Tega! Siswa MAN di Tegal Jadi Korban Penganiayaan Senior di Toilet Sekolah
- Viral di Media Sosial! Ratusan Mahasiswa Baru Unmul Lakukan Gerakan Balik Badan Saat Wakil Gubernur Kaltim Berpidato
- Sempat Viral Siswa di Semarang Pergi ke Sekolah Lewat Pinggir Sungai, Kali ini Orangtuanya Diusir Warga
Puncak protes warga terjadi pada Minggu (10/8) pagi, saat ratusan orang mendatangi rumah Umi Cinta ketika kegiatan berlangsung.
Mereka membentangkan spanduk berisi tanda tangan penolakan dan menuntut kegiatan tersebut dihentikan. Tokoh agama setempat, AB (54), menyatakan kegiatan ini tidak pernah mendapat persetujuan RT dan RW.
“Iya, enggak ada izin lingkungan,” ujarnya.
Pengajian Rutin Dilakukan Setiap Akhir Pekan
Pengajian yang diikuti sekitar 70 peserta ini rutin diadakan setiap akhir pekan sejak pukul 05.00 WIB hingga menjelang siang, dan kerap membuat macet karena parkir sembarangan.
Beberapa peserta bahkan berasal dari luar daerah. Menurut Ustaz Abdul Halim, ada mantan peserta yang mengaku pernah dipungut biaya.
“Setiap datang dipungut seratus ribu rupiah per orang. Kalau suami-istri berarti dua ratus ribu. Kalau bawa anak dua, ya dihitung semua bisa empat ratus ribu sekali datang. Lalu dari anggota yang keluar, katanya dijanjikan masuk surga bila bayar Rp 1 juta,” katanya.
Warga juga menyoroti dampak sosial, seperti istri yang melawan suami, ancaman perceraian, anak yang membangkang orang tua, pencampuran jemaah laki-laki dan perempuan, serta beberapa perempuan yang melepas hijab setelah bergabung.
“Selain mengganggu kenyamanan, ini sudah merusak keharmonisan keluarga dan memecah belah warga,” kata TS (53).
Pasca-penggerebekan, rumah dua lantai bercat hijau milik PY tampak sepi dan tertutup rapat. Aris, warga sekitar, menyebut PY tidak tinggal di rumah itu dan hanya ada orang datang untuk bersih-bersih.
Ia juga mengungkap perilaku tak wajar dari anggota pengajian, termasuk anak yang lebih memilih mengurus guru ketimbang orang tua yang sakit.
MUI Tanggapi Kasus yang Sedang Heboh Ini
Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun turut menanggapi kasus ini. Ketua MUI, KH Cholil Nafis, menegaskan,
“Itu pasti tidak benar, kalau itu jadi keyakinan, pasti keyakinan sesat. Jangan mau dibohongi. Karena kita sebenarnya yang pertama bukan ingin mendapatkan surga, tapi ingin mendapat ridho Allah.”
Ia menambahkan, sedekah atau zakat adalah amalan baik, namun tidak bisa dijadikan syarat masuk surga.
“Jadi saya sarankan agar umat belajar kepada guru yang benar, yang jelas belajar agamanya dan bagaimana menjalankan ajaran agamanya. Yang gitu-gitu pasti salah itu,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua MUI Kota Bekasi, KH. Saifuddin Siroj, mengatakan pihaknya masih mengumpulkan bukti sebelum memutuskan status kegiatan tersebut.
“Indikasi-indikasi yang dikategorikan sesat itu sudah kita pegang. Tapi kami belum mendapatkan bukti yang valid, baru sebatas penyampaian warga,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply