Tren Baru! Calon Mahasiswa Baru Asal Cina Banjiri Kampus di Asia, Termasuk Indonesia?

Kiat Mahasiswa Baru
Mahasiswa Baru (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

JAKARTA, KalderaNews.com – Studi terbaru menyebutkan bahwa mahasiswa baru asal Cina mulai banjiri kampus-kampus di Asia. Indonesia terdampak?

Pada periode sebelumnya, mahasiswa asal Cina banyak yang tertarik masuk ke kampus-kampus top di Barat seperti Harvard, Yale, Oxford, atau Cambridge.

Data statistik menunjukkan pergeseran haluan yang signifikan. Jumlah mahasiswa China yang mendaftar ke AS dilaporkan anjlok 20 persen di medio 2018-2023.

Sebagai gantinya, kampus-kampus Asia mulai menjadi “magnet” baru.

BACA JUGA:

Asia jadi destinasi utama

Faktor kedekatan dengan rumah dan meningkatnya kualitas universitas Asia (yang kini mulai merajai peringkat global seperti THE dan QS) menjadi pendorong utama.

Beberapa negara mencatatkan lonjakan pendaftar Cina yang fantastis:

  1. Malaysia: Pertumbuhan hingga 273 persen.
  2. Hong Kong: Melonjak 82 persen.
  3. Korea Selatan: Naik 17 persen.
  4. Singapura: Negara ini menjadi destinasi favorit, di mana hampir setengah dari mahasiswa internasionalnya diperkirakan berasal dari China.

Fenomena ini mulai terlihat jelas sejak awal 2024. Kampus-kampus ternama di Asia Timur hingga Asia Tenggara kini dipenuhi rombongan turis asal Cina yang tengah melakukan survei pendidikan.

Di Seoul, Korea Selatan, misalnya, universitas seperti Ewha Women’s University ramai dikunjungi turis yang tertarik pada arsitektur dan lingkungan kampus yang menampilkan budaya muda Korea.

Sementara itu, University of Hong Kong (HKU) di Hong Kong menarik perhatian berkat bangunan bersejarah bergaya kolonial Inggris yang viral di media sosial Cina, Xiaohongshu.

Operasional kampus terganggu

Sayangnya, lonjakan “turis calon maba” ini mulai mengganggu operasional kampus.

Kemacetan lalu lintas dalam kampus, kantin yang penuh sesak oleh turis, hingga kelas-kelas yang terasa seperti “akuarium” karena diintip pengunjung menjadi pemandangan sehari-hari.

Menanggapi masalah ini, sejumlah universitas terpaksa mengambil kebijakan tegas:

  1. Beberapa kampus di Hong Kong dan Singapura menjadikannya sebagai sumber pendapatan baru. Hong Kong University (HKU), misalnya mulai mengenakan biaya masuk sebesar HK$140 (sekitar Rp 38 ribu) untuk tur berpemandu selama 90 menit. Nanyang Technological University (NTU) di Singapura juga menerapkan kebijakan serupa.
  2. Sementara, National University of Singapore (NUS) memilih pendekatan yang lebih ramah namun terkontrol. Sejak awal 2025, NUS melatih lebih dari 70 mahasiswanya untuk menjadi pemandu wisata resmi dan bahkan membangun pusat pengunjung khusus untuk mengelola arus wisatawan.

Meskipun langkah-langkah ini efektif mengendalikan keramaian, beberapa akademisi mulai menyuarakan kekhawatiran.

Jung Jisun, seorang profesor madya dari HKU, mengungkapkan bahwa komersialisasi dan pembatasan akses ini berpotensi mengikis peran universitas negeri sebagai ruang publik yang terbuka bagi masyarakat lokal yang notabene adalah pembayar pajak.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


626 views