Miris! Siswa SD di Lombok Timur Jadi Korban Bullying hingga Kakinya Patah

Ilustrasi kaki patah (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

LOMBOK TIMUR, KalderaNews.com–Kasus dugaan perundungan terhadap seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi sorotan setelah korban harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit dengan kondisi kaki kiri diduga mengalami patah tulang.

Korban berinisial MHASF, siswa kelas 1 SD di Kecamatan Pringgabaya, dilaporkan mengalami memar serius dan pembengkakan pada kaki kiri akibat dugaan tindak kekerasan yang dilakukan oleh teman sekolahnya.

Saat ini, korban dirawat di RSUD Dr R Soedjono Selong dan masih menunggu hasil pemeriksaan rontgen untuk memastikan apakah diperlukan tindakan operasi.

BACA JUGA:

Kronologi Siswa Alami Perundungan Hingga Kakinya Patah

Ayah korban, Supriadi, mengaku awalnya tidak mencurigai adanya perundungan. Ia sempat mengira anaknya hanya sakit biasa karena disertai demam dan kesulitan berjalan.

“Awalnya saya kira sakit biasa. Tapi setelah satu hari tidak bisa jalan, saya tanyakan kenapa kakinya sampai seperti itu,” ujar Supriadi, Selasa (3/2/2026).

Dari pengakuan korban, keluarga kemudian mengetahui bahwa peristiwa tersebut diduga terjadi di lingkungan sekolah.

Korban menyebut kakinya diinjak oleh temannya hingga menyebabkan pembengkakan parah. Keluarga juga menemukan sejumlah memar di bagian kaki dan tubuh korban.

“Dia bilang kakinya diinjak. Kami juga melihat ada memar di kakinya dan badannya,” jelas Supriadi.

Peristiwa tersebut diduga terjadi pada Rabu (28/1/2026). Sehari setelah kejadian, korban sempat dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Dr R Soedjono Selong untuk penanganan lanjutan di ruang bedah.

“Sudah tiga hari dirawat di RSUD. Sekarang masih menunggu hasil rontgen, apakah perlu operasi atau tidak,” tambahnya.

Namun hingga kini, pihak keluarga mengaku belum memperoleh kejelasan dari pihak sekolah terkait penyelesaian kasus tersebut.

Supriadi menyebut telah berupaya menjalin komunikasi, tetapi respons yang diterima dinilai tidak memuaskan.

“Kami sudah coba komunikasi, tapi tidak ada jawaban jelas. Akhirnya saya unggah di Facebook, baru setelah itu pihak sekolah datang, tapi justru kecewa dengan postingan saya,” tuturnya.

Dikbud Lombok Timur Telusuri Kasus

Menanggapi kejadian tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lombok Timur menyatakan tengah melakukan penelusuran mendalam atas dugaan perundungan yang menimpa korban.

Kepala Dikbud Lombok Timur, Muhammad Nurul Wathoni, menegaskan bahwa lingkungan sekolah harus terbebas dari perundungan, kekerasan, maupun tindakan lain yang dapat mengganggu kenyamanan dan keselamatan siswa.

“Sekolah harus memastikan lingkungan yang aman dan nyaman bagi seluruh warga sekolah. Pengawasan terhadap aktivitas siswa harus dilakukan secara maksimal,” ujar Wathoni, Rabu (4/2/2026).

Ia menambahkan, penyelenggaraan pendidikan wajib berpedoman pada Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Aman dan Nyaman di Sekolah. Sebagai langkah penguatan pengawasan, Dikbud Lombok Timur juga telah menerbitkan surat edaran terkait penetapan guru piket sejak awal Januari 2026.

Selain itu, pihak Dikbud telah memanggil sekolah, UPTD, korban, serta pihak-pihak terkait untuk dimintai keterangan guna memperoleh gambaran kejadian secara utuh dan objektif.

Polisi Lakukan Pendalaman

Sementara itu, aparat kepolisian dari Polsek Pringgabaya juga tengah melakukan pendalaman terhadap kasus tersebut.

Polisi masih mengumpulkan keterangan dari sejumlah pihak untuk mengungkap kronologi lengkap dugaan perundungan yang dialami korban.

Kasus ini kembali menegaskan pentingnya pengawasan ketat di lingkungan sekolah serta peran aktif keluarga dan institusi pendidikan dalam mencegah praktik perundungan, khususnya terhadap siswa usia dini.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*