
Utas Shabrina Jasmine soal anak dibully memicu pro-kontra dan jadi boomerang. Netizen kritik balik sang ibu karena dinilai umbar trauma anak.
JAKARTA, KalderaNews.com – Jagat media sosial X (dahulu Twitter) kembali dihebohkan oleh sebuah utas (threads) yang diunggah oleh selebgram sekaligus kreator konten, Shabrina Jasmine melalui akun pribadinya @shabrinajasmine.
Dalam unggahan yang emosional tersebut, ia meluapkan rasa sedih dan kecewanya melihat sang putri, Jasmine (14), yang diduga mengalami perundungan (bullying) hingga mengganggu psikisnya.
Shabrina mengungkapkan bahwa putrinya yang berusia remaja tersebut memiliki postur tubuh yang bongsor sejak kecil. Jasmine bahkan sempat mengalami GERD akibat mencoba melakukan diet ekstrem demi memenuhi ekspektasi lingkungan.
BACA JUGA:
- Kronologi Siswa SMP PGRI Sukodono Lumajang Tewas Di-bully
- Viral! Bocah 6 Tahun di Jakpus Diduga Dibully hingga Tersengat Listrik
- Viral Bullying SMP di Tuban: Mengapa Baru Terungkap Setelah 40 Hari?
“Kalian sedih ga liat anak kalian nangis sesenggukan! Tp kali ini kalian harus menyaksikan anak baik ini. Anak soleha ini di hancurkan mentalnya sama orang lain! Jasmine sedari kecil memang punya tubuh yg bongsor! Tinggi besar dan untuk diet di usia dia 14th dia sudah mencoba pelan,karena jasmine kena gerd karena diet extreme! Saya menyekolahkan jasmin homeschooling di kaseto,” tulis Shabrina Jasmine dalam potongan utasnya.
Pro dan Kontra Netizen: Beri Dukungan vs Kritik Balik
Alih-alih mendapatkan simpati penuh, unggahan Shabrina Jasmine justru memicu reaksi beragam dari warganet. Kolom komentar akunnya dipenuhi perdebatan antara pihak yang menguatkan sang anak dan pihak yang mengkritik cara sang ibu dalam menyelesaikan masalah di media sosial.
1. Dukungan Hangat untuk Sang Anak
Sejumlah netizen yang telah mengikuti perjalanan keluarga ini sejak lama memberikan kalimat penguat bagi Jasmine dan memuji paras serta kebaikan hatinya.
- @hi_kyata: “Subhanallah ngeliat jasmine udah gede, makin cantik, aku follow kak bina dr jaman berjuang dulu, si jasmine masih bayi… tolong sampaikan ke jasmine, dia cantik, ga perlu insecure karna jujurly aku iri sekali ngeliat rambut nya, hidung nya, cantik banget 🫶🏼”
- @feliciapukiat: “Waduh, prihatin banget … 🙁 Orang yg bully ternyata juga lemah, Buat Jasmine, kalo butuh bantuan, boleh kontak Ci Felic yaa :)”
2. Kritik Netizen yang Menilai Ibu Terlalu Berlebihan
Di sisi lain, banyak netizen yang menyayangkan sikap Shabrina karena dinilai terlalu sering mengumbar masalah pribadi dan urusan anak ke ranah publik demi kehebohan media sosial. Beberapa di antaranya bahkan mengaitkan dengan insiden viral sang ibu sebelumnya di sebuah salon kepang di Bali.
- @putriabiga: “Sumpah lamalama eneg liat postingan kek ginj mulu. Berlebihan ya lamalama anda. Mau jadi anaknya kalo begini penyelesaian masalahnya. Lagian diluar sana banyak tantangan hidup perkara dikatain gendut aja kok sampe berjuta postingan”
- @fzahara30: “Iya lagi ibu ini yg marah2 di salon kepang bali🤣 ternyata emang ibunya jg rada rada ya~ demen hebohhhh!!!!”
- @a_manurung2022: “Tujuannya di posting di thread supaya apa ya? Terus terang kami ga kenal dengan anda dan keluarga. Kalau memang ada masalah dengan tetangganya, ya selesaikan saja dengan yg bersangkutan.”
Saran Bijak Netizen untuk Pola Asuh Remaja
Di tengah riuhnya pro-kontra, sebuah komentar dari netizen berwawasan luas memberikan pandangan yang objektif mengenai langkah terbaik yang seharusnya diambil oleh orang tua ketika mendapati anaknya mengalami perundungan fisik (body shaming).
Akun @tifalatifhaaa membagikan tiga poin krusial sebagai saran penanganan alternatif:
- Konsultasi Psikologis: Mengajak anak ke profesional (psikolog/psikiater) untuk memulihkan dan merawat kondisi psikisnya secara tepat.
- Pendekatan Medis untuk Fisik: Mengonsultasikan kondisi tumbuh kembang anak ke dokter gizi serta Dokter Spesialis Anak (DSA) agar program penurunan berat badan berjalan sehat tanpa memicu penyakit seperti GERD.
- Bijak dalam Berpakaian: Memilihkan pakaian yang pantas dan sesuai usia anak, dengan mempertimbangkan norma sosial budaya di Indonesia agar anak tetap percaya diri tanpa mengundang reaksi negatif dari lingkungan.
Eskalasi Memanas, Netizen Soroti Kontra-Bullying dan “Enabling”
Perseteruan di media sosial ini memasuki babak baru setelah Shabrina Jasmine kembali mengunggah utas terbaru yang menunjukkan kondisi psikologis putrinya yang kian memburuk.
Dalam unggahannya, ia meluapkan kemarahan besar karena sang anak mengalami trauma berat hingga mengurung diri, sekaligus mengecam para pelaku perundungan yang disebutnya sebagai oknum orang dewasa.

“Kalian fikir saya ga stres mikir anak saya yg trauma,2hr ga mau keluar,makan pun dipaksa cuma 1-2suap,kalian enak cuma bilang udah gitu doang,jangan lebay! Bayangin dia dibully bukan sama seumurannya, dia dibuly sama orang bangkotan, tua bangka,ibu2 yg badannya jg ga sempurna, dia dihina sama mereka! Terus masih banyak org yg bela dia dengam alasan ga masuk otak! Plis gunakan hati,anak sy yg ceria jadi begini karena mereka berdua itu yang super songong! Ga ada kata damai buat kalian berdua!” tulis @shabrinajasmine, Minggu (5/7/2026).
Namun, alih-alih meredam suasana, pilihan diksi Shabrina yang menyerang balik fisik para pelaku justru memicu serangan balik dari warganet.
Mayoritas netizen kini menilai bahwa tindakan sang ibu yang terus-menerus mengunggah video anaknya yang sedang menangis justru menjadi bumerang yang memperparah perundungan digital (cyberbullying).
Kritik Tajam Netizen: Menolak Eksploitasi Trauma Anak
Warganet menilai bahwa tindakan menjadikan kesedihan anak sebagai konten publik secara berulang-ulang adalah kesalahan fatal dalam pola asuh (parenting).
- @anggrainiwulandari: “Udahlah stop upload anak ini nangis2. Kalo anaknya punya trauma ya di bawa ke psikolog bukan di upload berkali-kali di sosmed… Kamu juga ngatain fisik orang bangkotan, tua bangka, ibu2 yg badannya ga sempurna. YA KAMU SAMA AJAAAA BULLY ORANG.”
- @fadhli.arrasyid: “Nih orang tua oon juga, kenapa di up terus vidio anaknya, kalau seperti ini sama saja anda mempersilahkan anak anda dibully oleh orang lain. Ingat tidak semua org berfikir yang sama.”
- @fmaulidna_: “Emosimu yg meledak meledak begini yang bikin anakmu tertekan, sedih dan emosi ibu itu nular ke anak… Ocehanmu juga lebih kasar dari sekedar dibilang gendut, justru kamu bisa dituntut balik.”
Sorotan terhadap “Mental Survival” dan Pola Asuh Enabler
Sejumlah netizen secara gamblang mengingatkan bahwa peran orang tua seharusnya adalah membangun mental anak agar tangguh (survive), bukan selalu menjadi tameng protektif yang justru melemahkan karakter sang anak di masa depan.
- @cassaciooo: “I’m gonna be brutally honest here. Elu sbg ibunya yg salah! Keliatannya elu selalu manjain anak lu dan enabling dia, mknya mental dia gak cukup kuat dlm menghadapi si pembully… Hidup ini keras, Bu! Lu gak bisa jadi ‘shield’ anak lu terus menerus 24/7.”
- @iwidnancy: “Terlepas dr apapun yg terjadi jgn lupa ajari anak cara survive di kondisi apapun. Kita org tua ini ga selamanya ada di sebelah mereka buat puk puk mereka terus! Bukan ga empati, tp kalo semuanya km enabler, anakmu gakan punya jiwa survival sama sekali.”
Peringatan Netizen tentang Bahaya Jejak Digital dan Masa Lalu
Tidak sedikit netizen yang mengingatkan Shabrina agar segera menarik diri dari media sosial sebelum warganet mulai “menguliti” kehidupan pribadinya, termasuk rekam jejak digital masa lalu yang dinilai juga pernah melakukan hal serupa ke orang lain.
- @delaandini: “Aku memang tdk membenarkan pembuli, tp kalo kata aku udah sih… kamu jg dulu prnh ngehina suaminya ibu nya rahul kamu blg ‘nikah sm kakek tua’… Ati-ati netizen mah bisa ngulitin abis-abisan takutnya nanti mba nya yg balik malu.”
- @siruptjaportu: “Saran ya mbak, untuk sementara anak dan kamu lebih baik istirahat dari media sosial. Fokus ke anak. Jangan reaktif… Lama lama orang akan menangkap kalau mbak mulai menikmati drama ini.”
Pentingnya Batasan Privasi Anak di Media Sosial
Fenomena curhat masalah anak di media sosial seperti yang dilakukan oleh akun @shabrinajasmine menjadi pengingat penting bagi para orang tua di era digital.
Meskipun niat awalnya adalah membela anak dan meluapkan emosi, mengekspos trauma serta masalah pribadi anak secara berlebihan ke publik justru berisiko menimbulkan cyberbullying baru atau respon negatif yang berbalik menyerang psikologis keluarga sendiri.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply