Fasilitas Kampus Rusak Akibat Gempa M 7,7 NTT, Kuliah Diliburkan?

Posko pascagempa M 7,7 NTT
Posko pascagempa M 7,7 NTT (KalderaNews/Kemdiktisaintek)
Sharing for Empowerment

Kemdiktisaintek pantau kondisi kampus pascagempa M 7,7 NTT. Mendiktisaintek Brian Yuliarto prioritaskan keselamatan serta flexibilitas pembelajaran.

JAKARTA, KalderaNews.com – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengukuhkan komitmen penanganan darurat pascagempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026).

Selain memastikan keselamatan seluruh sivitas akademika, pemerintah juga mendorong skema pembelajaran fleksibel agar kegiatan akademik tetap berlangsung secara aman.

BACA JUGA:

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menegaskan bahwa aspek keselamatan jiwa menjadi fokus utama pemerintah dalam penanggulangan dampak bencana di lingkungan kampus.

“Perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya proses pembelajaran, tetapi juga bagian dari ekosistem masyarakat. Dalam situasi bencana seperti ini, yang pertama harus kita pastikan adalah keselamatan sivitas akademika. Setelah itu, kita bersama-sama memastikan proses pendidikan tetap dapat berjalan dengan penyesuaian yang diperlukan,” ujar Menteri Brian.

Kondisi Fasilitas Kampus dan Pemantauan LLDIKTI XV

Laporan awal Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XV per 16 Agustus 2026 mencatat sejumlah dampak kerusakan pada fasilitas Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di NTT:

  • Sekolah Tinggi Pertanian Flores Bajawa (STIPER Bajawa): Mengalami keruskaan tingkat ringan pada fasilitas gedung.
  • Politeknik ElBajo Commodus: Mengalami kerusakan fisik pada bagian plafon ruang belajar-mengajar.

Kepala LLDIKTI Wilayah XV, Adrianus Amheka, telah menginstruksikan seluruh pimpinan PTS dan badan penyelenggara di wilayah NTT untuk segera melakukan konsolidasi internal serta memantau kondisi keamanan area kampus secara aktif.

Aksi Tanggap Darurat Perguruan Tinggi di Lokasi Bencana

Hingga 17 Agustus 2026, berbagai perguruan tinggi di Indonesia bergerak menggalang bantuan teknis, medis, serta kemanusiaan untuk masyarakat terdampak:

  • Posko Bencana Kampus: Universitas Nusa Nipa, Universitas Muhammadiyah Maumere, STIPER Bajawa, dan Universitas Nusa Cendana (Undana) mendirikan posko aktif penyaluran bantuan.
  • Tim Medis dan Psikologis: Universitas Mataram mengirimkan tim tanggap darurat gabungan, sementara Klinik Mu Ende dan Klinik Universitas Muhammadiyah Kupang menerjunkan tenaga medis ke kawasan Mbay.
  • Logistik dan Relawan: Tim ITB Peduli NTT bersama Rumah Amal Salman berkoordinasi dengan BPBD Manggarai Barat menuju wilayah Reok, didukung aksi relawan mahasiswa dari daerah yang aman.
  • Evakuasi Mahasiswa KKN: Sebanyak 61 mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di Manggarai Barat dan Manggarai Timur, serta peserta KKN Tematik GENTASKIN 2026, dilaporkan selamat dan telah dievakuasi ke zona aman.

Fleksibilitas Akademik dan Keberlanjutan Pembelajaran

Guna mengantisipasi hambatan pascabencana, Kemdiktisaintek memberikan kewenangan bagi perguruan tinggi untuk menetapkan kebijakan akademik khusus:

  • Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ): Diterapkan sebagai alternatif utama apabila infrastruktur dan jaringan internet memadai.
  • Penyesuaian Jadwal Perkuliahan: Penundaan sementara untuk kegiatan praktikum, ujian, penelitian, maupun tugas akhir yang mewajibkan keberadaan mahasiswa di lokasi rawan.
  • Standar Pembelajaran Aman: Pembelajaran tatap muka hanya diizinkan kembali setelah seluruh infrastruktur kampus dinyatakan aman oleh pihak berwenang.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


76 views