Mahasiswa Asing di China Melonjak, Pelajar Asia dan Afrika Makin Mendominasi

Beasiswa Kuliah ke China
Study in China (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

Jumlah mahasiswa asing di China pulih ke 380 ribu. Pelajar Asia-Afrika dominasi, sementara Eropa & AS turun. Simak analisisnya!

JAKARTA, KalderaNews.com – Pendidikan tinggi di China mengalami pemulihan signifikan pasca-pandemi COVID-19.

Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Pendidikan (Ministry of Education/MOE) China, negara tersebut menerima sebanyak 380.000 mahasiswa internasional dari 191 negara dan kawasan pada tahun ajaran 2024–2025.

Angka ini melonjak drastis jika dibandingkan dengan titik terendah pada tahun 2021 yang hanya mencatat sekitar 255.720 mahasiswa.

BACA JUGA:

Kendati demikian, tren ini menunjukkan pergeseran peta demografi yang menarik: China kian menjadi magnet bagi pelajar dari wilayah Asia dan Afrika, sementara minat mahasiswa dari negara-negara Barat justru mengalami penurunan.

Dominasi Negara-Negara Asia dan Afrika

Laporan MOE menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa asing di China didorong oleh keterjangkauan biaya pendidikan, khususnya pada program STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) serta pengaruh geopolitik Beijing yang kian meluas.

  • Mahasiswa Asia (61%): Negara-negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan menjadi pemasok terbesar. Indonesia, India, Vietnam, Thailand, dan Pakistan berada di barisan terdepan.
    • Vietnam: Data Kedutaan China mencatat jumlah mahasiswa Vietnam naik hampir dua kali lipat, dari 11.300 (2020) menjadi 23.500 (2023).
    • Pakistan: Lebih dari 29.000 mahasiswa Pakistan terdaftar di China pada akhir 2025, naik pesat dari 15.654 mahasiswa pada 2015.
  • Mahasiswa Afrika (16%): Pertumbuhan dramatis terlihat dari tren jangka panjang, di mana jumlah mahasiswa Afrika melonjak dari 27.000 (2012) menjadi lebih dari 81.000 (2018), dan kini pulih secara bertahap di angka sekitar 61.500 pada periode 2024–2025.

Penurunan Pelajar dari Eropa dan Amerika Serikat

Di saat gelombang kedatangan dari Asia dan Afrika meningkat, persentase mahasiswa asal Eropa, Amerika Serikat, dan Oseania justru menyusut.

Penurunan proporsi mahasiswa asing di China sangat terlihat pada kelompok yang berasal dari negara-negara Barat. Data mencatat bahwa persentase mahasiswa asal Eropa mengalami penurunan tipis dari 16,1% pada tahun 2016 menjadi 15,6% pada tahun 2026.

Penurunan jauh lebih drastis terjadi pada kelompok mahasiswa dari kawasan Amerika dan Oseania; sebagai gambaran, jumlah pelajar asal Amerika Serikat yang berkuliah di China merosot tajam dari sekitar 11.000 orang pada tahun 2019 menjadi kurang dari 2.000 orang saja pada tahun 2026.

Menurut laporan dari US-China Education Trust (USCET), jumlah mahasiswa AS yang berkuliah di China menyusut drastis dari 11.000 orang pada 2019 menjadi kurang dari 2.000 orang per tahun.

Faktor Pengaruh: Geopolitik dan Jalur Belt and Road Initiative

Pakar dan konsultan pendidikan menilai ada dua faktor utama yang memicu pergeseran peta pendidikan tinggi di China ini:

1. Dampak Belt and Road Initiative (BRI)

Wang Xiaokai, seorang konsultan pendidikan senior, menjelaskan bahwa daya tarik China di Afrika dan Asia Tenggara tidak lepas dari proyek infrastruktur global Belt and Road Initiative (BRI). Kerjasama ekonomi ini menciptakan sinergi pendidikan dan peluang kerja yang besar bagi lulusan universitas China di negara-negara berkembang.

2. Tensi Geopolitik dan Kebijakan Visa

Di sisi lain, hubungan diplomatik yang memanas antara negara-negara Barat dan China berdampak langsung pada pertukaran akademik.

  • Kebijakan Pembatasan: Pengetatan pendanaan federal AS, pembatalan ribuan visa pelajar, hingga penangguhan proses perjalanan menciptakan iklim ketidakpastian bagi calon mahasiswa Barat.
  • Kekhawatiran Karir: Benjamin Mulvey, dosen kebijakan pendidikan di University of Glasgow, menyoroti bahwa tingginya tekanan politik membuat riset kolaboratif dan program pertukaran semakin sulit. Banyak peneliti dan mahasiswa Amerika khawatir bahwa studi di China dapat memengaruhi prospek karir mereka di sektor pemerintahan di masa depan.

China berhasil memulihkan posisinya sebagai salah satu hub pendidikan internasional terbesar di dunia pasca-pandemi.

Meski menghadapi tantangan dalam menarik minat pelajar dari negara-negara Barat akibat ketegangan geopolitik, dukungan biaya yang kompetitif, program beasiswa, dan kemitraan BRI memastikan arus mahasiswa dari Asia dan Afrika tetap mengalir deras ke kampus-kampus di Tiongkok.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnyadi Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


223 views