
Astronom menemukan GJ 523b, planet dengan massa 23 kali Bumi tetapi radius hanya 2,5 kali. Planet ini juga memiliki orbit hampir polar.
JAKARTA, KalderaNews.com– Astronom menemukan sebuah planet dengan karakteristik yang tidak biasa. Planet bernama GJ 523b tersebut memiliki massa sekitar 23 kali lipat Bumi, tetapi radiusnya hanya sekitar 2,5 kali radius Bumi.
Keunikan GJ 523b tidak hanya terletak pada ukuran dan massanya. Planet ini juga mengelilingi bintang induknya, GJ 523, dengan orbit yang hampir tegak lurus terhadap bidang orbit bintang.
Karakteristik tersebut membuat GJ 523b masuk dalam kelompok langka yang dikenal sebagai mega-Earth atau Bumi raksasa.
BACA JUGA:
- Musim Hujan Jabodetabek Mulai Oktober 2026, Jumat Ini Ada Potensu Hujan
- Ada Gerhana Bulan Sebagian 27-28 Agustus 2026, Begini Cara Lihatnyaya!
- Apa itu Flores Back Arc Thrust? Sesar Pemicu Gempa M 7,7 di NTT
Ditemukan oleh Thomas Beatty dari University of Wisconsin-Madison
Penemuan ini dilakukan tim yang dipimpin mahasiswa pascasarjana Max Kroft dan astronom Thomas Beatty dari University of Wisconsin-Madison. GJ 523b diketahui menyelesaikan satu kali orbit terhadap bintang induknya dalam waktu sekitar 17,8 hari.
Dari pengamatan, GJ 523b memiliki radius sekitar 2,5 kali Bumi, sedangkan massanya mencapai 23 kali massa Bumi. Perbandingan tersebut membuat kepadatan planet ini sekitar 50 persen lebih tinggi daripada Bumi.
Karakteristik itu tergolong tidak lazim karena planet yang berada di antara ukuran Bumi dan Neptunus biasanya terbagi ke dalam dua kelompok.
Kelompok pertama adalah super-Earth, yakni planet berbatu dengan ukuran hingga sekitar dua kali Bumi. Kelompok kedua adalah sub-Neptune, yang berukuran lebih besar dan umumnya memiliki lapisan gas tebal sehingga kepadatannya lebih rendah.
GJ 523b justru tidak sesuai dengan kedua kategori tersebut. Ukurannya terlalu besar untuk disebut super-Earth, sementara kepadatannya terlalu tinggi jika dimasukkan sebagai sub-Neptune.
GJ 523b Hampir Tak Punya Gas
Massa GJ 523b juga menimbulkan pertanyaan bagi para astronom. Dengan massa mencapai 23 kali Bumi, gravitasi planet tersebut seharusnya cukup kuat untuk mempertahankan gas hidrogen.
Secara teori, kondisi itu memungkinkan GJ 523b memiliki atmosfer tebal dan karakteristik yang lebih menyerupai sub-Neptune.
Namun, hasil pengamatan justru menunjukkan planet tersebut hanya memiliki sedikit gas atau bahkan hampir tidak memiliki gas di sekitarnya.
Salah satu kemungkinan yang diajukan adalah GJ 523b dahulu berada lebih dekat dengan bintang induknya. Paparan suhu ekstrem di lokasi tersebut mungkin menyebabkan hidrogen di atmosfernya terlepas ke luar angkasa.
Akan tetapi, skenario tersebut juga memunculkan pertanyaan baru. Jika GJ 523b memang pernah berada lebih dekat dengan bintangnya, mekanisme apa yang kemudian membuat planet tersebut berpindah ke orbitnya saat ini?
Kemungkinan lainnya adalah GJ 523b terbentuk akibat tabrakan antara dua planet yang masing-masing memiliki massa beberapa kali lebih besar daripada Bumi.
Tumbukan tersebut dapat menghasilkan panas dalam jumlah besar sekaligus membantu menghilangkan sebagian besar hidrogen dari planet.
Orbit Planet Hampir Tegak Lurus
Keanehan GJ 523b juga terlihat dari jalur orbitnya. Planet tersebut memiliki orbit yang hampir polar, sehingga lintasannya nyaris tegak lurus terhadap bidang ekuator bintang induknya.
Kondisi ini berbeda dari kebanyakan planet yang diketahui mengorbit pada bidang yang relatif sejajar dengan ekuator bintang tempat mereka berada.
Astronom menduga keberadaan planet lain dengan ukuran jauh lebih besar mungkin pernah memengaruhi orbit GJ 523b melalui interaksi gravitasi. Namun, hingga kini belum ditemukan planet pendamping yang diduga dapat menyebabkan perubahan tersebut.
Para peneliti berharap pengamatan lanjutan menggunakan metode radial velocity serta data dari teleskop Gaia dapat membantu mengungkap apakah ada planet raksasa yang masih tersembunyi di sistem GJ 523.
Penemuan GJ 523b Dinilai Bantu Ungkap Kelompok Mega-Earth
Penemuan GJ 523b dinilai penting karena dapat memperkuat bukti bahwa mega-Earth memang merupakan kelompok planet tersendiri, bukan sekadar karakteristik aneh yang hanya ditemukan pada satu objek.
Thomas Beatty menjelaskan bahwa dalam satu dekade terakhir, astronom telah menemukan 13 dunia dengan karakteristik serupa. Jumlah tersebut dinilai sudah cukup untuk mulai melakukan analisis statistik terhadap kelompok planet tersebut.
Menurut Beatty, hasil analisis populasi menunjukkan bahwa 13 planet tersebut berada di luar dua kelompok planet yang selama ini lebih dikenal, yakni super-Earth dan sub-Neptune. GJ 523b menjadi salah satu objek yang membantu memperkuat jumlah sampel untuk penelitian tersebut.
Meski demikian, Max Kroft mengingatkan bahwa kesimpulan mengenai pembentukan planet secara umum belum dapat ditarik hanya berdasarkan satu objek.
Para peneliti berharap penemuan mega-Earth lainnya dapat memperbesar jumlah sampel. Dengan semakin banyak objek yang ditemukan, astronom berpeluang menemukan pola yang menjelaskan bagaimana planet-planet tersebut terbentuk, kehilangan atmosfer, hingga akhirnya memiliki orbit yang tidak biasa.
GJ 523b pun menjadi petunjuk bahwa proses pembentukan planet di alam semesta mungkin jauh lebih beragam daripada yang selama ini dipahami.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply