
Ribuan pelajar SMA di Prancis menggelar demo masif hingga bentrok dengan polisi. Simak pemicu dan 4 tuntutan utamanya di sini!
PARIS, KalderaNews.com – Gelombang demonstrasi besar-besaran yang melibatkan ribuan pelajar sekolah menengah atas (lycée) mengguncang berbagai kota di Prancis dalam sepekan terakhir.
Aksi protes yang berdampak pada setidaknya 1.200 sekolah tersebut berujung ricuh hingga diwarnai bentrokan sengit antara massa aksi dan aparat keamanan.
Aparat kepolisian dilaporkan menembakkan gas air mata, meriam air, hingga peluru karet untuk membubarkan barikade siswa. Kementerian Dalam Negeri Prancis mengonfirmasi lebih dari 5.000 orang yang mayoritas merupakan remaja berusia 14–18 tahun telah ditangkap sejak aksi pecah pada awal pekan.
BACA JUGA:
- Polisi Amankan 21 Orang Pembawa Molotov Jelang Demo Mahasiswa di Bundaran HI
- 2 Demo Mahasiswa Hari Ini, 597 Personel Gabungan Disiagakan
- Viral Aksi Demo Mahasiswa Membawa Truk Tinja ke Kejagung, Ini Alasannya
Selain itu, Menteri Pendidikan Prancis Édouard Geffray mengungkapkan sekitar 735 lembaga pendidikan terdampak langsung, dengan 400 sekolah di antaranya terpaksa ditutup total.
Pemicu Protes: Krisis Guru, Fasilitas Rusak, dan Sistem Parcoursup
Aksi demonstrasi yang meluas dari Paris, Strasbourg, Marseille, hingga Rennes ini dipicu oleh akumulasi kekecewaan para siswa terhadap merosotnya kualitas dan fasilitas pendidikan di Prancis. Beberapa poin utama yang menjadi tuntutan para pelajar meliputi:
- Krisis Tenaga Pendidik: Kekurangan guru yang parah menyebabkan hampir 10% jam pelajaran di sekolah menengah negeri tidak terlaksana selama tahun ajaran 2024–2025.
- Kondisi Kelas Tidak Layak: Kapasitas ruang kelas yang membludak (mencapai 35 siswa per kelas), kurangnya fasilitas meja-kursi, fasilitas sanitasi rusak, hingga ketiadaan pendingin ruang saat gelombang panas.
- Penolakan Sistem Parcoursup: Ketidakpuasan mendalam terhadap sistem pendaftaran universitas secara daring yang dinilai membingungkan dan memicu kecemasan tinggi bagi calon mahasiswa.
- Pemotongan Anggaran Pendidikan: Penolakan terhadap rancangan anggaran pemerintah yang dinilai tidak memadai untuk membenahi sektor pendidikan.
“Anak-anak muda hanya ingin belajar dalam kondisi yang layak. Negara Prancis tampaknya terkejut melihat hasil pendidikan yang semakin memburuk, tetapi mereka tidak melakukan apa pun untuk mengatasinya,” ujar seorang siswa peserta aksi di Strasbourg.
Tudingan Kekerasan Polisi dan Rencana Mogok Kerja Guru
Eskalasi kekerasan ini menarik perhatian lembaga hak asasi manusia yang mengecam keras tindakan represif kepolisian terhadap anak di bawah umur.
Pihak berwenang Prancis kini tengah menyelidiki sejumlah dugaan pelanggaran prosedur oleh aparat, termasuk insiden seorang pelajar berusia 16 tahun yang mengalami luka berat pada bagian mata akibat tembakan peluru karet.
Di sisi lain, Pemerintah Prancis menuduh kelompok politik sayap kiri garis keras menunggangi aksi para pelajar tersebut. Kendati demikian, gelombang penolakan dipastikan belum akan mereda.
Serikat pekerja dan guru telah mengumumkan rencana aksi mogok kerja nasional lanjutan yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa (6/10/2026) guna mendukung tuntutan para siswa.
Pelajar Terus Menggelar Demo
Sebanyak 400 hingga 500 sekolah menengah di seluruh Prancis diprakirakan akan ditutup sebagian atau sepenuhnya pada hari Senin akibat tidak terpenuhinya kondisi keamanan. Menteri Pendidikan Prancis, Édouard Geffray, mengonfirmasi bahwa sejak dimulainya gelombang protes, sebanyak 24 sekolah telah dibakar atau dijarah oleh massa.
Ribuan pelajar terus menggelar aksi unjuk rasa yang telah meluas dari kota Paris ke berbagai wilayah lain seperti Montpellier, Nantes, dan Marseille. Para siswa menyampaikan protes atas krisis kekurangan guru, kondisi ruang kelas yang terlalu padat, serta kerusakan fasilitas infrastruktur sekolah.
Pemerintah Prancis menuding adanya perusakan dan penunggangan dalam gerakan pelajar ini. Geffray mengklaim bahwa aktivis, khususnya dari kelompok sayap kiri garis keras, telah menyusup ke dalam aksi siswa dan melakukan tindakan kekerasan ekstrim yang mengancam keselamatan staf serta pelajar.
Dampak dari bentrokan antara polisi antihuru-hara dan para demonstran mencatatkan angka yang signifikan. Sebanyak 78 staf pendidikan dilaporkan terluka, sementara Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez mengonfirmasi bahwa 1.747 orang telah ditangkap pada hari Jumat lalu.
Penyelenggara aksi menyerukan agar demonstrasi terus berlanjut pada hari Selasa karena menganggap pemerintah belum memberikan langkah konkret. Menanggapi hal tersebut, Perdana Menteri Sébastien Lecornu berjanji akan memperbaiki fasilitas, transparansi pendaftaran universitas, serta mempercepat pembahasan RUU yang mewajibkan pelaku perusakan menanggung biaya ganti rugi.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com


Leave a Reply