
Imbas kabut asap karhutla, Timor Leste terpaksa menghentikan sekolah tatap muka dan menggelar PJJ mulai 15 Oktober 2026.
DILI, KalderaNews.com – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melintasi batas negara (transboundary haze) dan berdampak serius terhadap sektor pendidikan di wilayah regional.
Pemerintah Timor Leste secara resmi meliburkan seluruh sekolah tatap muka dan memindahkan aktivitas belajar-mengajar ke sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama tiga hari, terhitung mulai Kamis (15/10/2026).
BACA JUGA:
- Kabut Asap Masih Selimuti Samarinda, Siswa PJJ hingga 19 September
- Kabut Asap Masih Mengganggu, PJJ Jambi Diperpanjang Sampai 16 September
- Inilah Daftar Lengkap Daerah yang Masih PJJ Akibat Kabut Asap Menggila
Keputusan darurat ini diambil menyusul peningkatan konsentrasi partikel polutan berbahaya di udara yang mengancam kesehatan masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak dan pelajar.
PJJ Diberlakukan Imbas Krisis Kualitas Udara Perbatasan
Dalam pernyataan resminya yang dikutip dari Reuters, Pemerintah Timor Leste menegaskan bahwa keselamatan serta kesehatan para siswa menjadi prioritas utama di tengah paparan polusi udara yang kian memburuk.
“Pemerintah memutuskan untuk menangguhkan kegiatan pembelajaran tatap muka selama tiga hari mulai 15 Oktober karena kontaminasi partikel polutan dari kebakaran hutan di wilayah atau negara tetangga,” tulis pernyataan resmi Pemerintah Timor Leste.
Pemerintah Timor Leste secara diplomatis tidak secara langsung menunjuk Indonesia sebagai sumber utama polusi tersebut. Namun secara geografis, Timor Leste berbagi batas darat langsung di Pulau Timor dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia.
Berdasarkan pantauan data satelit dan laporan pemantauan titik panas (hotspot), sejumlah wilayah di NTT terdeteksi memiliki titik api yang cukup intensif, sehingga kepulan asap terdorong oleh angin hingga melintasi batas negara (cross-border pollution).
Peta Krisis Karhutla Regional: Terparah dalam 11 Tahun
Fenomena iklim ekstrem El Niño yang memicu cuaca kering berkepanjangan memperparah kondisi karhutla tahun ini. Berbagai data menunjukkan bahwa ini merupakan bencana karhutla terhebat dalam 11 tahun terakhir di Asia Tenggara.
Dampak buruk krisis kualitas udara ini tidak hanya memicu PJJ di Timor Leste, melainkan juga melumpuhkan aktivitas publik di berbagai negara tetangga:
- Timor Leste: Seluruh sekolah dari jenjang dasar hingga menengah dihentikan dari tatap muka dan beralih ke moda PJJ.
- Malaysia: Beberapa negara bagian menghentikan aktivitas belajar mengajar dan menutup sekolah secara penuh akibat Indeks Pencemaran Udara (IPU) yang menembus level berbahaya.
- Singapura: Mencatatkan penurunan kualitas udara hingga ke tingkat paling buruk sepanjang tahun 2026 pada Rabu (14/10/2026).
- Indonesia: Lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dilaporkan terjadi di berbagai provinsi terdampak.
Kondisi Ekstrem di Kalimantan Tengah
Salah satu wilayah terparah berada di Provinsi Kalimantan Tengah. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Palangka Raya pada Rabu tercatat menembus angka ekstrem 1.200.
Angka ini berada lebih dari empat kali lipat di atas ambang batas kategori sangat berbahaya (300).
Rekaman visual media lokal memperlihatkan kabut asap kuning pekat menyelimuti jalanan kota, membatasi jarak pandang pengendara hingga hanya beberapa meter saja, sementara petugas kepolisian terus berjibaku memadamkan titik api di lahan gambut pinggir jalan.
Respons Darurat: Indonesia Kerahkan 69.000 Personel
Menanggapi krisis yang makin meluas di tingkat nasional dan regional, Presiden Prabowo Subianto secara langsung menginstruksikan percepatan penanganan bencana dan pengerahan seluruh sumber daya nasional.
Dalam konferensi pers pada Rabu, Pejabat Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Honi Havana, menyampaikan besarnya skala pengerahan pasukan penanggulangan karhutla.
“Kami mengerahkan seluruh sumber daya dan kemampuan kami,” tegas Honi Havana.
Saat ini, pemerintah telah menerjunkan lebih dari 69.000 personel gabungan, terdiri dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, dan relawan di seluruh wilayah rawan karhutla. Jumlah ini meningkat drastis dari pertengahan September yang tercatat sebanyak 44.000 personel.
Selain pemadaman darat dan water bombing, pemerintah juga tengah menguji coba metode pemadaman baru menggunakan bahan kimia khusus.
Tantangan Pemadaman di Lahan Gambut
Meskipun puluhan ribu personel telah diturunkan, proses pemadaman di lapangan menemui kendala teknis yang sangat berat, terutama di area lahan gambut.
Juru Bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berton Panjaitan, menjelaskan karakteristik khusus kebakaran gambut yang sulit dipadamkan secara instan.
Kebakaran pada lahan gambut dapat membara secara perlahan di bawah permukaan tanah (underground fire) tanpa terlihat titik api di atasnya, lalu tiba-tiba muncul kembali saat tertiup angin.
“Kita harus menyadari bahwa satu-satunya cara untuk menyelesaikan ini adalah melalui hujan yang berkelanjutan,” ujar Berton.
Imbauan Keselamatan Selama PJJ di Timor Leste
Selama masa penangguhan kegiatan belajar tatap muka selama tiga hari ini, Kementerian Pendidikan Timor Leste mengimbau para orang tua untuk memastikan anak-anak tetap berada di dalam rumah (stay indoors).
Penggunaan masker standar medis atau N95 sangat disarankan jika terpaksa beraktivitas di luar ruangan. Pihak sekolah juga diminta memantau kelancaran tugas siswa melalui sistem pembelajaran jarak jauh guna meminimalkan ketertinggalan materi akademis di tengah situasi darurat iklim ini.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply