Siapakah Dandhy Laksono yang berada di balik karya film Pesta Babi yang dilarang tayang di beberapa titik di Indonesia?
JAKARTA, KalderaNews.com – Nonton bareng film Pesta Babi di beberapa titik dibubarkan aparat. Siapakah di balik film dokumenter ini?
“Pesta Babi” merupakan judul film dokumenter investigatif karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale yang menyoroti konflik agraria dan eksploitasi hutan di Papua akibat Proyek Strategis Nasional.
Film ini mengangkat kehidupan masyarakat adat Papua Selatan yang menghadapi tekanan akibat ekspansi proyek strategis nasional (PSN), termasuk pembukaan lahan pangan dan industri bioenergi.
BACA JUGA:
- Selain Unram, Nobar Film Pesta Babi di UIN Mataram Juga Dibubarkan
- Represi Rektorat Unram, Nobar Film “Pesta Babi” Dibubarkan Paksa!
- Profil 3 Ahli Hukum Tata Negara di “Dirty Vote”, Ungkap Kecurangan Pemilu 2024
Sinopsis Pesta Babi
Film ini menampilkan kehidupan masyarakat adat di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, Papua Selatan.
Kisah dibuka dengan ritual adat yang menampilkan simbol perlawanan masyarakat terhadap pembukaan hutan dan proyek industri di wilayah mereka.
Sepanjang film, penonton diperlihatkan dampak ekspansi lahan terhadap lingkungan dan kehidupan warga lokal, mulai dari hilangnya hutan adat, ancaman terhadap sumber pangan tradisional, hingga kekhawatiran masyarakat atas masa depan.
Dokumenter itu juga menyorot konflik kepentingan pembangunan nasional dan hak masyarakat adat yang merasa ruang hidupnya kian terdesak.
Siapa Dandhy Laksono?
Dandhy lahir di Lumajang, Jawa Timur pada 29 Juni 1976. Ia merupakan lulus Sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Padjajaran Bandung.
Ia juga pernah menempuh pendidikan nonformal dalam Ohio University Internship Program on Broadcast Journalist Covering Conflict Amerika Serikat (2007), dan British Council Broadcasting Program London (2008).
Dia mengawali karier jurnalistik pada 1990 dengan aktif mengikuti berbagai workshop dan seminar tentang jurnalistik atau media di Filipina, Thailand, China, Malaysia, dan Korea Selatan.
Pada 1998, Dandhy memulai karier di tabloid Kapital dan majalah Warta Ekonomi. Ia lantas beralih ke radio Pas FM, Smart FM, Ramako, atau menjadi stringer di radio ABC Australia.
Lalu, Dandhy berpindah ke televisi sebagai produser berita di Liputan 6 SCTV dan Kepala Seksi Peliputan di RCTI. Pada medio 2003-2005, ia menjadi pemimpin majalah dan situs acehkita.com, media alternatif di masa pemberlakuan darurat militer di Aceh.
Pada 2009, Dandhy mendirikan rumah produksi film-film dokumenter, Watchdoc Indonesia. Ia telah membuat 165 lebih episode dokumenter, 7.115 feature televisi, hingga 45 video komersial non komersial.
Dandhy juga berada sebagai orang paling penting dalam karya film berjudul Dirty Vote, yang mengungkap desain kecurangan Pemilu 2024. Film ini membuat heboh, lantaran baru satu hari rilis, Dirty Vote sudah ditonton lebih dari 4,1 juta kali, dan trending di berbagai media sosial.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply