Rekaman suara terakhir dr Myta mengungkap beratnya beban dokter magang usai tetap bekerja meski sakit hingga wafat tragis.
JAKARTA, KalderaNews.com –Meninggalnya dr. Myta Aprilia Azmy, dokter magang lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, membuka tabir kerasnya tekanan kerja yang masih dihadapi dokter muda di Indonesia.
Berdasarkan hasil investigasi Kementerian Kesehatan, Myta diduga tetap dipaksa menjalani jadwal kerja berat meski kondisi kesehatannya terus menurun drastis.
Rekaman pesan suara yang diungkap Kemenkes menjadi bukti memilukan perjuangan terakhirnya. Pada 1 April 2026, saat menjalani tugas di IGD, dr. Myta diketahui mengalami demam tinggi hingga mencapai 40 derajat Celsius, disertai batuk, pilek, sesak, menggigil, dan mual berat.
BACA JUGA:
- Viral! dr Myta Internship Meninggal, BEM Unsri Soroti Adanya Bullying
- Fakta Pilu di Balik Wafatnya dr Myta, IKA FK Unsri Beberkan Ini
- Selain dr. Myta, Siapa 3 Dokter Internship yang Gugur 3 Bulan Ini?
Rekaman suara Dr. Myta ungkap beratnya beban kerja yang diemban
Meski demikian, ia tetap berupaya bertahan menjalankan tugas medisnya.
“Iyo Bang, batuk pilek, Bang, demam, panas nian. Silau dak bisa buka mato gitu kan,” ungkap Myta dalam rekaman yang kemudian diperdengarkan dalam konferensi pers Kemenkes.
Dalam kondisi tubuh yang terus melemah, dr. Myta bahkan harus tetap berjaga. Rekannya sempat memberikan obat penurun panas, lansoprazole, hingga infus untuk menopang kondisinya.
Ironisnya, pada 13 April 2026, bertepatan dengan hari ulang tahunnya, dr. Myta justru menerima infus agar tetap mampu bekerja, bukan beristirahat.
Situasi mencapai titik kritis pada 15 April 2026 ketika Myta mengirim pesan suara terakhir kepada rekannya, dr. Astri, memohon bantuan untuk menggantikan jadwal jaga paginya.
“Astri… Aku… Aku mau minta tolong… Mau minta tolong… Aku kayak… Enggak kuat Astri,” ucapnya dengan suara terputus-putus dan napas berat.
Pesan tersebut menjadi simbol nyata kelelahan fisik dan mental yang dialaminya. Permintaan pergantian jadwal itu akhirnya disetujui, namun kondisi kesehatannya terus memburuk.
Pada 27 April 2026, Myta dilarikan ke RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang dan dirawat intensif mulai dari ruang isolasi infeksi hingga ICU.
Setelah beberapa hari menjalani perawatan, dr. Myta meninggal dunia pada 1 Mei 2026 akibat gangguan paru-paru berat yang diperparah kelelahan berkepanjangan.
Kasus ini memicu kritik tajam terhadap budaya kerja dokter internsip yang dinilai masih eksploitatif.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa jam kerja dokter magang seharusnya dibatasi maksimal 40 jam per minggu atau delapan jam per hari, serta menekankan pentingnya menghapus budaya kerja buruk yang membahayakan tenaga medis muda.
Kematian dr. Myta kini menjadi momentum evaluasi nasional terhadap sistem pendidikan dan penempatan dokter magang, terutama terkait hak istirahat, perlindungan kesehatan, serta pengawasan beban kerja.
Banyak pihak menilai tragedi ini bukan sekadar kasus individual, melainkan alarm serius bagi reformasi sistem kerja tenaga kesehatan di Indonesia.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com


Leave a Reply