Jangan remehkan tikus di rumah! Peneliti BRIN ingatkan bahaya Hantavirus yang mematikan. Simak cara cegah dan gejalanya di sini.
JAKARTA, KalderaNews.com – Informasi mengenai hantavirus belakangan ini kembali mencuat dan menjadi perbincangan hangat di jagat maya.
Menanggapi hal tersebut, para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan edukasi komprehensif agar masyarakat tidak terjebak dalam kepanikan yang tidak perlu, namun tetap menjaga kewaspadaan tingkat tinggi.
BRIN ungkap gejala dan cara mencegah penularannya.
BACA JUGA:
- Siklon Algupit Mengintai, Waspada Cuaca Ekstrem di 5 Wilayah Ini!
- 6 Fenomena Langit Sepanjang Bulan Mei 2026, Cek Jadwalnya!
- Sesar Aktif Kepung Kuningan, Masa Lalu Kelam Ciremai Terbongkar!
Sumber penularan bukan hanya tikus
Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto, menjelaskan bahwa hantavirus adalah virus zoonotik yang dibawa oleh hewan pengerat atau rodensia.
Beberapa spesies seperti tikus rumah, tikus got, hingga tikus ladang merupakan reservoir alami virus ini.
Salah satu varian yang paling diwaspadai adalah Andes virus, yang memicu penyakit Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), sebuah infeksi paru-paru berat yang berisiko menyebabkan gagal napas.
“Penularan utamanya terjadi ketika manusia menghirup partikel dari urin, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi yang terbang di udara,” ungkap Ristiyanto.
Gejala menipu, risiko kematian
Satu hal yang membuat hantavirus berbahaya adalah gejalanya yang mirip flu biasa, sehingga sering kali terlambat didiagnosis. Masyarakat perlu waspada jika mengalami:
- Demam tinggi dan nyeri otot.
- Sakit kepala dan lemas.
- Mual atau gangguan pencernaan.
Jika kondisi memburuk, pasien bisa mengalami sesak napas akut yang memerlukan perawatan intensif.
Tercatat, tingkat kematian akibat HPS cukup mengkhawatirkan, yakni mencapai 20% hingga 35%.
Kondisi di Indonesia
Meski riset telah dilakukan sejak 1991, Ristiyanto menegaskan bahwa kasus Andes virus belum pernah ditemukan di Indonesia.
Berdasarkan studi periode 2015–2018, kelompok tikus di tanah air masih negatif dari virus tersebut.
Namun, mengingat tingginya populasi tikus dan kepadatan penduduk, langkah antisipasi tetap wajib dilakukan.
Terkait isu penularan antarmanusia, peneliti BRIN Arief Mulyono meluruskan bahwa hal tersebut sangat jarang terjadi.
“Penularan antarmanusia hanya mungkin melalui kontak fisik yang sangat intens dalam waktu lama, bukan menyebar luas melalui udara seperti Covid-19,” jelasnya.
Langkah pencegahan
BRIN menyarankan beberapa tindakan preventif yang bisa dilakukan di rumah:
- Gunakan masker dan sarung tangan, terutama saat membersihkan gudang atau area yang lama tidak terjamah.
- Jangan langsung menyapu kotoran tikus yang kering. Semprot dengan disinfektan terlebih dahulu agar debu mengandung virus tidak terhirup.
- Pastikan makanan tersimpan rapat dan tidak ada celah bagi tikus untuk masuk ke dalam rumah.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply