Hasil PISA 2025 Ungkap 24 Persen Siswa Indonesia Jadi Korban Bullying

rumus matematika, tips matematika
Matematika tidak lagi terasa sulit bila kita mengetahui tip dan trik mengerjakan soal dengan mudah. (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

Sebanyak 24 persen siswa Indonesia menjadi korban bullying menurut PISA 2025. Simak temuan perundungan sibernya di sini!

JAKARTA, KalderaNews.com– Sebanyak 24 persen siswa Indonesia mengaku pernah menjadi korban bullying atau perundungan berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025.

Para siswa tersebut melaporkan mengalami setidaknya satu bentuk perundungan beberapa kali dalam sebulan. Persentase ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara yang tergabung dalam Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), yakni 20 persen.

Fenomena perundungan juga mengalami peningkatan dibandingkan hasil PISA 2022. Kenaikan prevalensi bullying tersebut turut ditemukan di sebagian besar negara dan wilayah ekonomi yang berpartisipasi dalam PISA 2025.

BACA JUGA:

Pelaksanaan PISA 2025 melibatkan sekitar 760.000 siswa dari 91 negara dan wilayah ekonomi. Di Indonesia, sebanyak 14.168 siswa dari 419 sekolah mengikuti asesmen tersebut.

Bullying Siber Berdampak pada Prestasi Sains

Perundungan melalui dunia maya atau cyberbullying tercatat lebih jarang dialami siswa Indonesia dibandingkan bentuk bullying lainnya. Namun, siswa yang menjadi korbannya justru menunjukkan capaian akademik yang lebih rendah.

Sebanyak 7 persen siswa Indonesia mengatakan informasi yang menyakitkan mengenai diri mereka pernah dipublikasikan secara daring tanpa persetujuan.

Kejadian tersebut dialami setidaknya beberapa kali dalam sebulan selama 12 bulan sebelum pelaksanaan tes PISA. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata OECD yang berada di angka 3 persen.

Siswa yang melaporkan mengalami bentuk perundungan siber tersebut memperoleh nilai rata-rata 18 poin lebih rendah dalam bidang sains dibandingkan teman-teman mereka.

P2G Sebut Temuan Bullying Jadi Alarm bagi Sekolah

Kepala Bidang Advokasi Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Iman Zanatul Haeri menilai hasil PISA 2025 terkait perundungan menjadi peringatan bagi satuan pendidikan.

Menurut Iman, lingkungan yang aman merupakan salah satu unsur penting untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas.

Oleh sebab itu, sekolah perlu memastikan siswa dapat belajar dalam suasana yang aman, nyaman, sehat, dan terlindungi dari berbagai bentuk kekerasan.

“Bagaimana kualitas atau mutu pendidikan akan dicapai, jika murid alami kekerasan, jika lingkungan belajarnya tak aman,” kata Iman.

Ia menilai upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari kekerasan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah.

Kemendikdasmen, Kementerian Agama (Kemenag), dinas pendidikan, serta satuan pendidikan juga perlu membangun sistem sekolah dan madrasah yang mampu melindungi siswa dari berbagai bentuk kekerasan.

Iman juga menegaskan bahwa pemerintah pusat dan pemerintah daerah memiliki kewajiban untuk mendampingi, membimbing, serta mendukung satuan pendidikan dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman.

Lingkungan tersebut, menurutnya, harus mampu menghargai perbedaan dan tidak memberikan toleransi terhadap kekerasan dalam bentuk apa pun.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnyadi Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


26 views