Mitos dan Fakta IHSG Anjlok di Bulan September, Terbukti?

IHSG
IHSG Anjlok (EduFulus/Malena)
Sharing for Empowerment

Pahami mitos September Effect di pasar saham global & IHSG. Temukan alasan ilmiah serta tips DCA saat pasar sedang koreksi!

The Path To Financial Freedom, EduFulus – Dunia finansial global sering kali diselimuti oleh berbagai mitos dan pola musiman yang berulang setiap tahunnya. Salah satu anomali paling populer yang kerap menjadi perbincangan para investor berpengalaman adalah September Effect.

Istilah ini merujuk pada fenomena historis di mana pasar saham cenderung menunjukkan kinerja yang lesu, terkoreksi, atau bahkan mencatatkan imbal hasil negatif pada bulan September.

SIMAK JUGA: September Effect, Benarkah IHSG di September Selalu Loyo?

Artikel ini akan membedah data statistik, alasan di balik tren musiman tersebut, perbandingannya di berbagai bursa, serta strategi terbaik bagi investor dalam menghadapinya.

Jejak Historis September Effect: Apa Kata Data?

Secara historis, anggapan bahwa bulan September adalah periode yang menantang bagi investor bukan sekadar isapan jempol belaka. Data statistik jangka panjang dari bursa saham Amerika Serikat, khususnya Indeks S&P 500 sejak tahun 1928, menunjukkan fakta yang menarik sekaligus mencemaskan.

September tercatat sebagai satu-satunya bulan dalam satu tahun kalender yang memiliki rata-rata imbal hasil (return) historis berada di zona negatif, dengan kisaran antara -0,7% hingga -1,2%. Probabilitas pasar mengalami penurunan pada bulan ini bahkan mencapai sekitar 55% sepanjang sejarah pencatatannya.

SIMAK JUGA: Paceklik IPO 2026: IHSG Ambruk & Target Anjlok 84%!

Fenomena serupa ternyata juga dirasakan di pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara historis sering kali menunjukkan pola koreksi atau ditutup melemah pada bulan September, dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan dinamika likuiditas domestik dalam tren satu dekade terakhir.

Meski demikian, penting untuk dicatat bahwa tren musiman (seasonality) ini merupakan kecenderungan rata-rata historis, bukan sebuah kepastian mutlak yang wajib terjadi setiap tahun.

Pasar keuangan bersifat dinamis dan tidak selalu tunduk pada kalender. Sebagai contoh nyata, indeks S&P 500 tetap mampu mencatatkan kinerja positif pada bulan September 2025, membuktikan bahwa analisis fundamental dan makroekonomi tetap memegang peran utama di atas anomali musiman.

Mengapa Bulan September Cenderung Lesu?

Para ekonom dan analis pasar keuangan mengaitkan tren pelemahan di bulan September dengan beberapa faktor psikologis, teknis, dan institusional yang terjadi secara global:

Aksi Ambil Untung (Profit Taking): Menjelang akhir musim panas (periode Juni hingga Agustus), pasar saham sering kali mengalami fase penguatan. Memasuki bulan September, investor cenderung mengamankan keuntungan yang telah terkumpul.

Kembalinya Manajer Investasi: Selepas masa libur musim panas di belahan bumi barat, para pengelola dana institusional besar kembali aktif di meja kerja. Mereka biasanya melakukan penataan ulang portofolio (rebalancing), yang kerap memicu tekanan jual di pasar.

Siklus Korporasi dan Reksa Dana: Banyak lembaga keuangan dan korporasi besar menutup tahun fiskal mereka di kuartal ketiga. Hal ini mendorong mereka melakukan aksi jual saham tertentu untuk kebutuhan pelaporan pajak maupun pembukuan akhir tahun (window dressing).

Karakteristik Pasar di Bulan September: Global vs Domestik

Jika diamati lebih mendalam, karakteristik pergerakan pasar saham selama bulan September menunjukkan pola yang konsisten baik di kancah global maupun domestik.

Di pasar saham global seperti S&P 500 dan Nasdaq, rata-rata historis menunjukkan angka negatif di kisaran -0,7% hingga -1,1% dengan probabilitas turun sekitar 55% sepanjang sejarah, di mana pemicu utamanya adalah penataan portofolio pasca-liburan dan siklus fiskal.

Sementara itu, di pasar saham domestik, IHSG secara historis cenderung mengalami koreksi atau pelemahan dengan tren dominan berada di zona merah dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Pergerakan di pasar domestik ini umumnya sangat dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global serta aksi jual yang dilakukan oleh investor asing.

Langkah Bijak dan Strategi Menghadapi September Effect

Sebagai investor yang rasional, Anda tidak perlu merasa panik atau terburu-buru melikuidasi seluruh portofolio hanya karena faktor kalender. Alih-alih menghindari pasar, Anda dapat memanfaatkan situasi ini dengan menerapkan beberapa strategi investasi yang bijak:

Gunakan Metode Dollar-Cost Averaging (DCA): Manfaatkan penurunan harga yang terjadi di bulan September untuk mencicil kepemilikan saham atau reksa dana berfundamental kuat secara bertahap. Penurunan harga ini sering kali diasumsikan sebagai momentum mendapatkan aset berkualitas dengan harga “diskon”.

Siapkan Cadangan Kas (Cash King): Memiliki porsi likuiditas atau kas yang sehat di akhir Agustus memberikan keleluasaan finansial. Anda memiliki fleksibilitas penuh untuk menyerok saham-saham unggulan tatkala pasar mengalami koreksi tajam yang bersifat sementara.

Fokus pada Horison Jangka Panjang: Fluktuasi bulanan hanyalah riak kecil dalam perjalanan investasi jangka panjang. Secara historis, pasar saham hampir selalu menunjukkan pemulihan dan kembali menguat memasuki Kuartal IV (Oktober hingga Desember).

SIMAK JUGA: September Effect: Mitos atau Fakta bagi Investor Kripto?

* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus lainnya di Google News. Dus, jika Anda ingin bekerjasama dengan kanal EduFulus, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


27 views