Zankore AI Factory di Batang Kuras 9 Juta Liter Air/Hari, Warga Jateng Terancam?

Proyek Zankore AI Factory Rp82 T di Batang
Proyek Zankore AI Factory Rp82 T di Batang (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

Proyek Zankore AI Factory Rp82 T di Batang terancam sedot 9 juta liter air per hari di tengah krisis kekeringan Jawa Tengah.

BATANG, KalderaNews.com – Rencana pembangunan Zankore AI Factory, pusat pengembangan kecerdasan buatan hasil kolaborasi Indosat Ooredoo Hutchison, Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA menjadi salah satu langkah ambisius Indonesia untuk bertransformasi menjadi hub AI regional.

Namun, di balik nilai investasi fantastis mencapai Rp82 triliun, fasilitas superkomputer ini menyimpan risiko eksternalitas negatif yang cukup besar.

Rencananya, proyek berkapasitas total 1 gigawatt ini akan memulai pembangunan tahap awal sebesar 200 megawatt di Batang, Jawa Tengah, pada paruh pertama 2027.

BACA JUGA:

Masalah utamanya, fasilitas canggih ini tidak hanya membutuhkan pasokan listrik raksasa, tetapi juga pasokan air dalam jumlah sangat masif untuk sistem pendinginnya.

Zankore Butuh ‘Minum’ Hingga 9 Juta Liter Air per Hari

Setiap pemrosesan data pada ribuan chip superkomputer menghasilkan suhu panas ekstrem yang memerlukan air pendingin melalui menara pendingin evaporasi.

Berdasarkan laporan riset publikasi The Conversation yang mengutip kajian tim peneliti University of California (2025), Indonesia tercatat sebagai negara paling boros air pendingin pusat data mencapai 1,9 liter per kilowatt-jam listrik. Iklim lembab di Indonesia memaksa sistem pendingin bekerja lebih keras dan menguapkan air lebih banyak.

Dengan asumsi tersebut, operasional tahap pertama Zankore (200 MW) diperkirakan bakal menguapkan 4,8 hingga 9,1 juta liter air per hari.

  • Perbandingan Krisis Air: Hanya dalam waktu 8 hingga 16 hari, konsumsi air Zankore setara dengan total bantuan air bersih Pemprov Jateng (75,46 juta liter) untuk 2,34 juta warga terdampak kekeringan di 784 desa selama sebulan penuh.
  • Skala Maksimal (1 GW): Jika beroperasi penuh pada kapasitas 1 gigawatt, Zankore akan menyedot volume air setara bantuan sebulan tersebut hanya dalam waktu 2 sampai 3 hari saja.

Pemerintah memang menyiapkan infrastruktur air baku senilai Rp409,7 miliar APBN berkapasitas 24,5 juta liter per hari untuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batang.

Namun, jika Zankore menyerap lebih dari 30% kapasitas tersebut pada tahap awal, ketersediaan air bersih bagi warga lokal terancam kian terhimpit.

Investasi Rp82 Triliun: Padat Modal, Minim Serapan Kerja Lokal

Meski angka investasinya melampaui target lima tahun KEK Batang (Rp75,8 triliun), manfaat ekonomi proyek ini bagi warga lokal dipertanyakan.

Penelitian tahun 2026 yang mengompilasi manfaat ribuan pusat data di AS menemukan bahwa fasilitas semacam ini bersifat padat modal dan biasanya menyerap kurang dari 100 pekerja tetap.

Selain itu, struktur kepemilikan saham Zankore didominasi asing: Ooredoo 49%, Indosat 37%, NVIDIA 11%, dan Nokia 3%. Artinya, sekitar 63% porsi saham dipegang oleh entitas asal Qatar, AS, dan Finlandia. Sebagian besar belanja modal juga lari ke luar negeri untuk impor chip dan perangkat canggih.

Ancaman Permanen Penurunan Tanah di Pesisir Batang

Isu penggunaan air bawah tanah dan beban lingkungan menjadi kian krusial mengingat kawasan pesisir Pekalongan-Batang sedang mengalami penurunan tanah (land subsidence) berkisar 6 hingga 20 cm per tahun berdasarkan data Badan Geologi dan ITB. Pemadatan tanah yang parah berisiko memicu intrusi air laut dan banjir rob permanen.

Pemerintah didesak untuk bersikap tegas dengan mewajibkan Zankore membuka data kebutuhan airnya secara transparan, mendorong penggunaan teknologi pendingin hemat air (seperti pendinginan kering air laut), serta menerapkan sistem pengendalian risiko lingkungan yang ketat.

Kebijakan serupa juga diharapkan berlaku bagi proyek pusat data besar lainnya, seperti di Jatiluhur, Jawa Barat, agar pembangunan teknologi tidak mengorbankan ketahanan air masyarakat.

Apa Itu Zankore AI Factory?

ZanKore by Indosat adalah platform infrastruktur kecerdasan buatan (AI Factory) generasi terbaru yang dirancang untuk melayani pasar global dengan Asia-Pasifik sebagai titik awal pengembangannya.

Inisiatif strategis ini dihadirkan oleh Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) melalui kolaborasi konsorsium global bersama Ooredoo Group, NVIDIA, dan Nokia guna memperkuat posisi Indonesia sebagai hub AI regional yang berdaulat, aman, dan tepercaya.

Dirancang bagi penyedia layanan cloud, dunia usaha, pemerintah, hingga inovator AI, platform ini menjadi fondasi utama untuk mendorong adopsi agentic AI dan enterprise AI secara luas.

Menjawab lonjakan kebutuhan komputasi yang aman dan masif di kawasan, ZanKore hadir untuk mengakselerasi inovasi sekaligus membuka berbagai peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Dalam pembagian peran konsorsium, Ooredoo Group bertindak sebagai sponsor utama yang menyediakan modal jangka panjang untuk perluasan skala regional.

Indosat membawa kepemimpinan pasar dan infrastruktur digital lokal, sementara NVIDIA memperkuat platform lewat accelerated computing, perangkat lunak AI, serta GPU generasi terbaru. Adapun Nokia menghadirkan konektivitas jaringan berbasis AI-native guna menjamin infrastruktur yang aman dan berkinerja tinggi.

Dari sisi kepemimpinan, ZanKore by Indosat dipimpin oleh Ulf Ewaldsson sebagai Chief Executive Officer (CEO) dan Vikram Sinha (President Director & CEO Indosat) sebagai Director and Chairman of the Board. Jajaran dewan direksi turut diperkuat oleh Aziz Aluthman Fakhroo (Group CEO Ooredoo Group), Thomas Chevanne, Vishal Gupta, serta Arijit Ranjan Sarker untuk mengawal strategi, tata kelola, dan operasional perusahaan.

Secara teknis, ZanKore mengadopsi NVIDIA DSX sebagai reference architecture terpadu yang menyatukan sistem komputasi, jaringan, daya, pendinginan, dan operasional dalam satu ekosistem. Integrasi ini dirancang guna memaksimalkan output komputasi AI dari setiap megawatt listrik yang tersedia agar operasional berjalan secara efisien.

Pada paruh pertama 2027, ZanKore menargetkan tersedianya kapasitas awal sebesar 200 Megawatt (MW) yang ditenagai superchip NVIDIA GB300 NVL72. Platform ini juga dilengkapi teknologi NVIDIA DSX MaxLPS yang mampu mengoptimalkan daya secara dinamis di seluruh lapisan GPU, sehingga meningkatkan kapasitas komputasi hingga 40% lebih besar pada tingkat konsumsi daya yang sama.

Inisiatif raksasa bernilai strategis ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Digital RI. Kemitraan ini didukung oleh penasihat keuangan papan atas, di mana Citi bertindak sebagai penasihat keuangan eksklusif bagi Indosat, sementara FTI Capital Advisors mendampingi Ooredoo Group dalam pembentukan transaksi global ini.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


31 views