ITS Kukuhkan Profesor Pengolahan Citra Digital dan Kemo dan Biosensor Pertama di Indonesia




KI-KI: Prof Nadjadji Anwar, Prof Agus Zainal Arifin, Prof Fredy Kurniawan, Prof Adi Soeprijanto, dan Prof Imam Robandi usai pengukuhan
KI-KI: Prof Nadjadji Anwar, Prof Agus Zainal Arifin, Prof Fredy Kurniawan, Prof Adi Soeprijanto, dan Prof Imam Robandi usai pengukuhan (KalderaNews/Humas ITS)

SURABAYA, KalderaNews.com – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengukuhkan dua guru besarnya, yakni Prof Dr Agus Zainal Arifin SKom MKom dari Departemen Teknik Informatika dan Prof Dr rer nat Fredy Kurniawan MSi dari Departemen Kimia sebagai guru besar ke-123 dan 124.

Keduanya resmi dikukuhkan oleh Ketua Dewan Profesor ITS Prof Dr Ir Nadjadji Anwar MSc didampingi Wakil Rektor I ITS Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof Adi Supriyanto MT yang mewakili Rektor di Gedung Research Center ITS, Rabu, 12 Februari 2020.

Prof Dr Agus Zainal Arifin SKom MKom dalam orasi ilmiah menyampaikan topik Kecerdasan Artifisial dalam Pengolahan Citra Medis untuk Pengembangan Teknologi Kesehatan

BACA JUGA:

Dalam orasi ilmiahnya, Agus Zainal Arifin yang dikukuhkan menjadi guru besar bidang Pengolahan Citra Digital menyampaikan pentingnya kecerdasan buatan atau artifisial dalam pengolahan citra medis.

Menurutnya, kecerdasan buatan dapat membantu pakar kesehatan dalam melakukan visualisasi dan memahami pola kompleks dalam proses deteksi suatu penyakit.

Dosen Departemen Teknik Informatika pun mengakui telah mengaplikasikan beberapa kecerdasan buatan dalam citra medis. Beberapa hasil penelitiannya ialah, penggunaan klasifikasi citra Mammogram untuk mendeteksi kanker payudara, detektor parasit malaria pada citra apusan tebal darah, dan identifikasi penyakit periondititis kronis pada citra panorama gigi.

Selain itu, Kepala Pusat Kecerdasan Artifisial dan Teknologi Kesehatan ITS ini juga berhasil membuat perkiraan usia dari citra panorama gigi hingga mendeteksi penyakit osteoporosis dengan citra rahang.

Fokus Agus ialah memanfaatkan kecerdasan buatan pada citra medis agar dapat menjadi langkah preventif dalam menghadapi penyakit. “Sehingga saya harap proses deteksi penyakit akan lebih cepat dan akurat,” harap alumnus doktoral Hiroshima University, Jepang ini.

Sementara itu, Prof Dr rer nat Fredy Kurniawan MSi membawakan orasi ilmiah bertopik Peran Kemo dan Biosensor dalam Era Revolusi Industri 4.0. Selama ini, Fredy Kurniawan meneliti peran Kemo dan Biosensor dalam Revolusi Industri 4.0.

Penelitian inilah yang mengantarnya menjadi profesor dalam bidang Kemo dan Biosensor pertama di Indonesia. Dalam orasi ilmiahnya, Kepala Departemen Kimia ITS ini menerangkan, proses Kemosensor dan Biosensor melibatkan banyak rumpun keilmuan. Seperti Fisika, Biologi, Kimia, Matematika, Teknik Fisika, Teknik Material, Teknik Komputer, Teknik Elektro, dan masih banyak lagi.

Hal ini lantaran dalam pengaplikasiannya, Kemo dan Biosensor rupanya sudah banyak diterapkan berbagai pihak tanpa disadari. Seperti dalam penggunaan termometer dan alat deteksi gula darah. Lebih dalam lagi, alumnus Kimia ITS ini berhasil meneliti beberapa temuan baru di bidang medis, pertanian, dan produk halal.

Di antaranya ialah, indikator titik beku untuk mengawetkan vaksin polio, sensor glukosa, sensor dopamin, sensor sukrosa, sensor gelatin babi, hingga sensor kepedasan. Tidak hanya itu, alumnus doktoral Regensburg University, Jerman ini juga terus berusaha agar produk temuannya dapat lebih ekonomis.

Seperti contohnya, sensor gelatin babi yang ia rasa harus dibuat se-ekonomis mungkin agar mudah dijangkau masyarakat. “Terlebih lagi, masyarakat muslim Indonesia yang sangat membutuhkan sensor ini agar makanan yang dikonsumsi dapat jelas kehalalannya,” terang mantan Kepala Pusat Kajian Halal ITS ini.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*