Program MIT di SGU Siapkan Lulusan “Baret Merah” dengan Tacit Knowledge

Dosen Master of Information Technology di Swiss German University (SGU), Dr. Ir. M. Amin Soetomo, M.Sc.
Dosen Program Master of Information Technology di Graduate School Swiss German University (SGU), Dr. Ir. M. Amin Soetomo, M.Sc. (KalderaNews/Dok. Pascasarjana SGU)

TANGERANG, KalderaNews.com – Perguruan tinggi sebagai kawah candradimuka menjadi tempat penggemblengan mahasiswa agar menjadi pribadi yang memiliki karakater pribadi yang kuat, terlatih dan tangkas.

Graduate School of Swiss German University sebagai universitas internasional pertama di Indonesia melalui kelas Master of Information Technology (1,5 Year Program) memahami pembentukan karakter pribadi yang kuat, terlatih dan tangkas ini dalam profil lulusan idaman yang harus memiliki integritas, leadership yang kuat dan kompetensi yang mumpuni.

“Mereka (mahasiswa) disiapkan menjadi baret merah ‘komando’ dengan integritas, leadership dan kompetensi,” tegas Dosen Program Master of Information Technology di Graduate School Swiss German University (SGU), Dr. Ir. M. Amin Soetomo, M.Sc saat berbicara dengan KalderaNews.

BACA JUGA:

Ia menjelaskan profil lulusan MIT SGU wajib memiliki integritas (integrity). “Kita mengajarkan karakter ini nomor satu. Di kuliah kita tidak hanya high technology, tetapi juga social technical approach-nya tinggi.”

“Kita juga mengajarkan leadership, misalnya di mata kuliah human capital atau organizational behavior diajarkan betul, yakni bagaimana sebagai leader dengan tacit knowledge bisa menghandel office politics.”

Sementara itu dari sisi kompetensi business informatics yang harus dimiliki mahasiswa menyangkut area governance dan area management serta business alliance: RoI tinggi (IT Investment yang RoI-nya tinggi), operational exellence hingga sustainabilty.

Karena itu, dalam praktiknya di kelas, materi yang diberikan sifatnya analisis, berbeda dengan level bachelor yang lebih ke implementasi dengan project. Kalau di master lebih ke analisis.

“Mahasiswa ditantang untuk membuat prioritas dengan analisis yang tepat,” tandas dosen yang mengambil jenjang master dan doktornya di The George Washington University.

Misalnya di masa pandemi Covid-19 saat ini, mahasiswa MIT SGU yang terdiri atas profesional, level manajemen dan fresh graduate (lulus S1) ditantang untuk mencari akar masalah dengan melakukan root cause analysis (RCA).

Menariknya, karena di setiap angkatan itu mahasiswa yang bergabung beragam, ini sangat bagus karena bisa saling berbagi dan memperkaya, sehingga tercipta lah yang dinamakan dengan dinamika tacit knowledge.

Dimensi kognitif (cognitive dimension) tacit knowledge ini sendiri berupa pengetahuan yang lebih dalam, seperti keyakinan, prinsip, nilai-nilai, schemata dan mental model.

Memang, secara tidak sadar dimensi ini sebenarnya sudah terdapat di dalam diri masing-masing pribadi mahasiswa. Tiap mahasiswa memiliki prinsip-prinsip hidup dan nilai-nilai yang ditanamkan sejak kecil di lingkungan keluarga dan lingkungan sosial serta memiliki mental model yang berbeda-beda yang biasanya akan mempengaruhinya dalam memahami sesuatu.

Ketika suatu knowledge sulit untuk diartikulasi, cognitive dimension of tacit knowledge ini membentuk cara seseorang dalam memahami sesuatu.

Pada dasarnya, tacit knowledge ini berkembang melalui pengalaman pribadi sehingga kontennya pun tercipta secara dinamis, meski senyatanya tidak dapat direplikasi secara identik.

Oleh sebab itu secara teknis, pengalaman konkret itu hanya bisa dibagikan melalui sesi sharing, meeting, diskusi, tanya jawab dan interaksi langsung karena pengetahuan ini adalah knowledge yang mengetahui bagaimana caranya sesuatu proses terjadi. Program MIT di SGU mengedepankan pendekatan tacit knowledge yang demikian ini untuk mencetak lulusan dengan integritas, leadership yang kuat dan kompetensi yang mumpuni.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*