Perlukah Indonesia Lockdown? Ternyata Ini Kata Para Pakar

Petugas memeriksa dengan alat thermo scanner di sejumlah pintu masuk perkantoran yang ada di Sudirman Central Business District atau SCBD di Jakarta Selatan, Rabu, 11 Maret 2020
Petugas memeriksa dengan alat thermo scanner di sejumlah pintu masuk perkantoran yang ada di Sudirman Central Business District atau SCBD di Jakarta Selatan, Rabu, 11 Maret 2020 (KalderaNews/Malena)

JAKARTA, KalderaNews.com  Penyebaran virus corona di Indonesia mencuatkan wacana lockdown atau mengisolasi wilayah untuk mencegah penyebaran lebih luas. Beberapa negara tetangga, seperti Malaysia dan Filipina telah melakukan itu. Tapi sejauh ini, belum ada kota-kota di Indonesia yang melakukan lockdown.

BACA JUGA:

Pemerintah rupanya lebih memilih opsi untuk melakukan pembatasan orang untuk berkumpul atau berkerumun. Maka, kegiatan pendidikan di sekolah dan kampus pun diliburkan untuk sementara waktu. Pemerintah juga menyarankan agar perusahaan swasta mengambil opsi agar karyawan bisa bekerja dari rumah.

Pembicaraan ini juga mengemuka dalam webinar atau seminar secara online bertajuk “Menghadapi Covid-19 di Indonesia” yang digelar oleh Harvard Club of Indonesia.

Dokter Panji Hadisoemarto, jebolan Harvard T.H.Chan School of Public Health berkata, Indonesia tak harus melakukan lockdown, namun yang diperlukan adalah social distancing atau menjaga jarak sosial. “Saya memang tak bisa menjawab dengan pasti kapan harus dilakukan social distancing, tetapi satu jawaban tentatif yang selalu saya berikan adalah ‘The sooner the better’,” ujarnya. Dokter Panji juga menjelaskan bahwa ini masa penuh ketidakpastian. “Kita belum punya data, sebuas apa virus ini di Indonesia,” imbuh Dosen Departemen Kesehatan Publik dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran ini.

Dokter Panji Hadisoemarto (Ist.)

Social distancing, menurut Dokter Panji, bisa dilakukan secara pribadi yakni dengan menghindari keramaian atau orang yang sedang sakit, atau dilakukan oleh pemerintah dan otoritas dengan memberlakukan kebijakan agar tidak ke kantor dan berkerumun. Penerapan social distancing sebaiknya dilakukan sedini mungkin dengan memikirkan mekanismenya agar dampak disrupsi sosialnya minimal.

“Kita tentu enggak bisa bilang hari ini atau besok, tapi kalau menunggu sampai sudah ada community transmission, maka akan sedikit terlambat. Saya bukan bilang tidak bermanfaat, tapi akan lebih bermanfaat jika mendahului community transmission,” katanya. Community transmission adalah klasifikasi dari WHO untuk menyebut kondisi di mana sebagian besar kasus yang terkonfirmasi tidak bisa dihubungkan melalui rantai penularan.

Dokter Nafsiah Mboi (Ist.)

Sementara, Dokter Nafsiah Mboi yang juga alumni dari Harvard T.H. Chan School of Public Health mengatakan, social distancing dan larangan perjalanan (travel ban) sebaiknya dilakukan secepatnya tanpa menunggu data. Hal ini, ujar mantan Menteri Kesehatan Republik Indonesia ini, bisa dilakukan dengan prioritas, misal dengan melakukan lebih banyak screening untuk pengunjung dari daerah yang epidemik virus corona.

Tapi, Dokter Nafsiah menekankan bahwa social distancing harus melibatkan pemerintah daerah, mulai dari dinas kesehatan setempat hingga puskesmas. Tujuannya untuk mensosialisasikan mengenai pencegahan virus corona hingga ke akar rumput. “Jika masyarakat sudah mengerti, saya kira itu akan banyak sekali dampaknya. Sebelum lockdown dan sebagainya,” pungkasnya. (yp)

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*