Cara Menyenangkan Baca Buku Teks Setebal Bantal: Resep dari Harvard




Eben E. Siadari adalah alumni Advanced Course for Practical Journalism, Thomson Foundation, Cardiff Wales, bekerja sebagai penulis dan trainer kepenulisan, buku karyanya antara lain Esensi Praktik Menulis (2019), tinggal di Jakarta.

Oleh Eben E. Siadari *

JAKARTA, KalderaNews.com — Salah satu kejutan bagi mahasiswa baru ketika memasuki dunia universitas adalah diharuskan membaca buku teks yang halamannya bisa setebal bantal. Ini seakan sudah jadi tradisi. Jika buku teks harus berukuran ‘kolosal.’ Sejak zaman generasi baby boomers hingga generasi Y. Setebal apa pun buku yang pernah kamu baca di SMA, tak dapat dibandingkan dengan buku teks di bangku universitas.

Di Fakultas Ekonomi, di antara buku teks wajib yang tebal itu adalah Principles of Economics. Ada berbagai versi, ditulis oleh profesor yang berbeda. Namun satu hal yang membuat semuanya sama selain judulnya adalah ketebalannya. Sungguh menakutkan.

Salah satunya adalah Principles of Economics yang ditulis oleh N. Gregory Mankiw. Dia profesor Ilmu Ekonomi di Harvard University. Buku karyanya menjadi buku teks wajib di sejumlah Fakultas Ekonomi di Indonesia. Saya sudah ukur tebalnya. Sekitar 8 cm. Jumlah halamannya 856. Dibagi dalam 13 bagian dan 36 bab, daftar isinya saja menempati 14 halaman.

BACA JUGA:

Seram? Tampaknya Prof Mankiw sudah mengantisipasinya. Ia agaknya telah membayangkan reaksi awal mahasiswa yang akan membacanya. Maka sebelum anak-anak muda yang baru lulus SMA frustrasi, di bagian permulaan bukunya ia menyajikan tips bagaimana membaca bukunya dengan tetap fun. Dia menyediakan sembilan tips. Dan saya kira tips itu manjur juga untuk buku teks apa pun, bukan hanya buku teks Ilmu Ekonomi.

Salah satu dari sembilan tip itu ialah tentang pentingnya membuat ringkasan buku yang sudah dibaca. Menurutnya, membaca buku teks adalah juga membuat catatan dengan cara parafrase –membahasakan ulang menurut kata-kata pembaca sendiri. Dengan begitu pembaca menjadi lebih aktif.

Ia tidak menyarankan membaca buku dengan menandai bagian-bagian baris atau paragraf bacaan dengan mewarnainya (misalnya, dengan Stabilo). Menurut dia, membaca dengan cara demikian terlalu pasif. Kurang terlibat. Prof Mankiw menyediakan margin kosong yang cukup lega di setiap lembar buku teks karyanya. Di margin kosong itulah pembaca diharapkan membuat ringkasan bagian yang dibaca.

Setelah rampung, ringkasan tersebut dapat dibandingkan dengan ringkasan yang sudah disediakan oleh penulis di akhir bab. Dengan membandingkannya, pembaca dapat mengukur seberapa klik dirinya memahami yang dimaksudkan penulis.

“Ilmu Ekonomi itu menyenangkan, tapi ia juga dapat menjadi sulit untuk dipelajari. Tujuan saya menulis buku teks ini ialah membuatnya semudah dan senikmat mungkin. Namun, kamu, para mahasiswa, juga memiliki peran yang harus dimainkan. Pengalaman menunjukkan, jika kamu aktif terlibat saat mempelajari buku ini, kamu akan memperoleh hasil yang lebih baik, kala ujian maupun di tahun-tahun berikutnya,” tulis Mankiw mengantarkan tips yang disajikannya.

Rupanya Mankiw sangat menekankan perlunya membaca buku secara aktif. Dengan alasan yang sama, ia melengkapi bukunya dengan kuis dan soal-soal latihan. Kuis dan latihan-latihan itu dimaksudkan sebagai sarana pembaca menguji diri sendiri. Jawaban yang dihasilkan, dapat dibandingkan dengan jawaban yang tersedia di situs online buku, yang sudah dibuat oleh penerbit. Membaca dan berlatih, menjadi pasangan yang tidak boleh dipisahkan dalam membaca buku teks.

Selanjutnya, cara lain membaca buku teks dengan menyenangkan, menurut Prof Mankiw, ialah mempelajarinya secara berkelompok. Di sini kita mendapat pemahaman bahwa mendiskusikan sebuah buku adalah juga cara lain dari membacanya. Dengan saling bertukar pendapat tentang isi sebuah buku yang sama, pemahaman akan bertambah baik.

Berikutnya adalah mengajar. Menurut Prof Mankiw, mengajarkan sesuatu yang baru dipelajari adalah juga cara belajar yang jitu. “Semua guru mengetahui tidak ada cara belajar yang lebih baik daripada mengajarkannya kepada orang lain,” kata Prof Mankiw.

Carilah seseorang yang yang sudi menjadi ‘murid.’ Bisa jadi ia seorang teman satu kos, kakak atau adik di rumah, bahkan orang tua. Jadikan kesempatan bercakap-cakap dengan mereka menguji kemampuan membagikan pemahaman kepada mereka.

Buku teks karya Prof Mankiw (seperti juga buku teks Ilmu Ekonomi lainnya) telah dilengkapi dengan contoh-contoh kasus dari kehidupan sehari-hari. Potongan-potongan peristiwa penting, yang menarik, yang unik, termasuk tentang Mick Jagger yang pernah kuliah di London School of Economics, menjadi selipan di antara narasi teori, grafik dan gambar pada buku. Ini bisa menjadi bekal menarik tatkala mencoba mengajarkan isi buku kepada orang lain.

Di atas semua itu, cara yang paling klasik tetapi masih efektif untuk menguasai isi buku teks ialah membacanya sebelum kuliah berlangsung. Menurut Prof Mankiw, membaca buku teks sebelum kuliah akan membantu mahasiswa fokus mengikuti pelajaran dan mampu merumuskan pertanyaan yang relevan kepada dosen. Dengan demikian, diperoleh pemahaman yang lebih baik.

Penutup, ada satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan. Praktikkan cara berfikir yang sudah dipelajari dari buku teks dalam kehidupan nyata.. Dimulai dari persoalan sederhana dan dari kehidupan sehari-hari yang paling dekat. Bila berhasil melakukannya, kata Prof Mankiw, kamu akan tiba pada sebuah cara berfikir baru, dimana dunia yang kamu lihat bukan lagi dunia yang sebelumnya.

Kepada para mahasiswa baru dan para calon mahasiswa, selamat datang di dunia universitas. Selamat membaca buku teks!

, * Eben E. Siadari adalah alumni Advanced Course for Practical Journalism, Thomson Foundation, Cardiff Wales, bekerja sebagai penulis dan trainer kepenulisan. Buku karyanya antara lain Esensi Praktik Menulis (2019), The Beautiful Sarimatondang (2020), Perempuan-perempuan Batak yang Perkasa (2020) dan Kerupuk Kampung untuk Gadis Berkacamata Bill Gates (2020).

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat, dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*