
BMKG sebut erupsi Gunung Anak Krakatau berjenis strombolian. Frekuensi erupsi kini mulai meluruh dan terus menurun.
JAKARTA, KalderaNews.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi belakangan ini merupakan tipe erupsi strombolian.
Karakteristik ini ditandai dengan munculnya letusan-letusan kecil yang terjadi secara berulang.
Karakteristik Erupsi Strombolian Gunung Anak Krakatau
Kepala BMKG, Teuku Faisal, menjelaskan bahwa erupsi strombolian terjadi karena adanya dorongan magma cair dengan tingkat tekanan gas sedang.
BACA JUGA:
- 5 Bandara Ini Masih Ditutup Akibat Erupsi Anak Krakatau, OMC Digeber
- Inilah Daftar Wilayah yang Terdampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau
- Eskalasi Erupsi Gunung Anak Krakatau Meluas ke Jakarta-Jabar, Bandara Soetta Lumpuh
“Untuk letusan Gunung Anak Krakatau, erupsinya berjenis strombolian akibat magma cair dengan tekanan gas sedang. Jadi, terjadi letusan-letusan kecil yang berulang secara teratur,” ujar Teuku Faisal dalam keterangannya, Minggu (6/9/2026).
Erupsi jenis ini menyemburkan berbagai material vulkanik ke udara, antara lain:
- Kembang api lava
- Bom vulkanik
- Lapili (batuan kecil hasil lontaran erupsi)
Kronologi dan Status Kebencanaan
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menetapkan status Gunung Anak Krakatau pada Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026.
Aktivitas vulkanik tercatat meningkat signifikan pada Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB, di mana gunung tersebut mulai mengalami erupsi menerus.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menyampaikan bahwa letusan yang terpantau pada Minggu pagi masih merupakan rangkaian dari erupsi yang menerus tersebut.
BMKG terus melakukan pemantauan intensif terhadap frekuensi erupsi berdasarkan aktivitas di permukaan, termasuk memonitor munculnya kilat atau petir vulkanik.
Tren Erupsi Mulai Meluruh
Meskipun aktivitas Gunung Anak Krakatau diprediksi masih dapat berlangsung dalam beberapa waktu ke depan, pengamatan BMKG menunjukkan tren penurunan intensitas secara bertahap.
“Memang tidak ada semburan-semburan lava, dan aktivitas ini kemungkinan masih akan terus terjadi. Namun, aktivitasnya sudah mulai meluruh dan kami pastikan frekuensinya akan terus menurun dibandingkan dengan kondisi pada 4 September pukul 23.07 WIB,” pungkas Wijayanto.
Masyarakat dan pengguna moda transportasi di sekitar area yang terdampak imbauan abu vulkanik diharapkan tetap waspada serta selalu mematuhi arahan resmi dari PVMBG dan BMKG.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply