
Erupsi menerus Anak Krakatau memang reda, tapi Badan Geologi ingatkan potensi ancaman di Selat Sunda. Cek imbauannya!
BANDUNG, KalderaNews.com – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan perkembangan terbaru mengenai dinamika vulkanisme Gunung Anak Krakatau (GAK) per Senin, 7 September 2026.
Berdasarkan evaluasi pengamatan, episode erupsi menerus (continuous eruption) yang sempat berlangsung panjang selama 25 jam resmi berakhir.
BACA JUGA:
- Erupsi Gunung Anak Krakatau Lepaskan Gas SO2, Ini 4 Cara Melindungi Diri
- PVMBG: Erupsi Menerus Anak Krakatau Berhenti, Tapi Status Tetap Siaga!
- Gas SO2 Anak Krakatau Kepung Jabodetabek? Ini Kata Badan Geologi
Kendati demikian, Badan Geologi menegaskan bahwa potensi terjadinya letusan susulan dalam beberapa waktu ke depan masih sangat tinggi.
Kronologi Erupsi & Karakteristik Karakter Strombolian
Melalui kaji cepat yang diunggah akun resmi @badan.geologi, dijelaskan bahwa episode erupsi menerus dimulai sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan berakhir pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.
Setelah fase menerus tersebut usai, tercatat terjadi 3 kali erupsi Strombolian. Kembalinya tipe letusan ini diinterpretasikan oleh para ahli vukanologi sebagai penanda berakhirnya episode erupsi panjang sementara waktu.
“Kembalinya erupsi strombolian sebagai karakteristik erupsi Gunungapi Anak Krakatau saat ini untuk sementara ini diinterpretasikan sebagai akhir dari episode erupsi menerus yang cukup panjang. Meskipun demikian, perkembangan dinamika vulkanisme Gunungapi Anak Krakatau masih terus dipantau dan dievaluasi,” tulis Badan Geologi.
Potensi Bahaya Utama yang Perlu Diwaspadai
Meskipun fase erupsi menerus telah reda, Badan Geologi mengingatkan bahwa potensi ancaman bahaya letusan masih mengintai kawasan Selat Sunda dan sekitarnya:
- Lontaran Batu Pijar & Hujan Abu Lebat: Risiko utama jika terjadi erupsi Strombolian atau letusan susulan secara mendadak.
- Aliran Lava: Ancaman yang berpotensi kembali muncul apabila episode erupsi menerus terjadi lagi di kemudian hari.
4 Rekomendasi Resmi Badan Geologi untuk Masyarakat
Menyikapi perkembangan tersebut, Badan Geologi mengelurkan empat rekomendasi penting demi keselamatan warga, wisatawan, serta instansi terkait:
- Sterilkan Radius 3 KM: Masyarakat, wisatawan, maupun pendaki dilarang keras memasuki atau beraktivitas dalam radius 3 km dari pusat kawah aktif Gunung Anak Krakatau. Waspadai ancaman awan panas, lava, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat.
- Penggunaan Masker: Warga yang terdampak sebaran abu vulkanik dianjurkan mengurangi aktivitas di luar rumah serta wajib mengenakan masker untuk mengantisipasi gangguan saluran pernapasan (ISPA).
- Masyarakat Pesisir Diharapkan Tenang: Warga di wilayah pesisir Banten dan Lampung diimbau tetap tenang dan tidak mempercayai isu hoaks terkait ancaman tsunami. Aktivitas harian dapat berjalan normal dengan tetap mematuhi arahan BPBD setempat.
- Pantau Informasi Resmi: Informasi perkembangan erupsi dapat diakses langsung melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di nomor
(022) 7272606atau Pos Pengamatan G. Krakatau Pasauran di(0254) 651449 / 085846324506.
Masyarakat juga disarankan selalu memantau pembaruan status gunung api melalui platform digital tepercaya seperti MAGMA Indonesia (magma.esdm.go.id), situs resmi PVMBG (vsi.esdm.go.id), serta akun media sosial resmi Badan Geologi.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply