
JAKARTA, KalderaNews.com– Erupsi Gunung Anak Krakatau membuat sebaran gas sulfur dioksida (SO2) mencapai sejumlah wilayah, termasuk Banten dan Jakarta.
Kondisi ini membuat masyarakat tidak hanya perlu mengantisipasi abu vulkanik, tetapi juga paparan gas SO2.
Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi pada Sabtu, 5 September 2026 merupakan erupsi magmatik. Jenis erupsi tersebut dapat melepaskan gas SO2 dalam jumlah besar ke atmosfer.
Berdasarkan pemantauan melalui aplikasi Windy, gas SO2 dari erupsi Anak Krakatau berada di lapisan atmosfer yang relatif rendah.
BACA JUGA:
- PVMBG: Erupsi Menerus Anak Krakatau Berhenti, Tapi Status Tetap Siaga!
- Inilah Daftar Wilayah yang Terdampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau
- Eskalasi Erupsi Gunung Anak Krakatau Meluas ke Jakarta-Jabar, Bandara Soetta Lumpuh
Kondisi tersebut berkaitan dengan karakter erupsi berupa lava fountain sehingga gas dapat menyebar di lapisan atmosfer bawah yang lebih dekat dengan permukaan.
“Karena terbawa angin maka paparan gas SO2 dapat dirasakan atau tercium oleh masyarakat di wilayah Banten, Jabodetabek, ataupun Lampung,” ucapnya.
Cara Melindungi Diri Dari Erupsi Anak Krakatau
Lana menjelaskan paparan SO2 dalam konsentrasi yang melampaui batas normal dapat menimbulkan iritasi pada mata dan paru-paru. Gas tersebut juga berpotensi menyebabkan sejumlah gangguan pernapasan, seperti batuk, sesak napas, hingga kegagalan alat pernapasan.
Menurutnya, masyarakat tidak perlu panik selama tidak mencium bau gas yang menyerupai belerang. Namun, ketika bau tersebut mulai tercium, masyarakat perlu melakukan sejumlah langkah untuk mengurangi risiko paparan.
Berikut cara yang dapat dilakukan:
1. Gunakan masker respirator khusus
Masyarakat disarankan menggunakan masker respirator yang dilengkapi cartridge atau filter khusus untuk gas, termasuk SO2 dan H2S. Salah satu contoh yang disebutkan adalah masker 3M.
2. Gunakan kain basah jika tidak memiliki masker gas
Apabila tidak mempunyai masker khusus gas, alat pernapasan dapat ditutup menggunakan kain basah. Lapisan air pada kain dapat membantu menyerap sebagian gas sulfur.
3. Berlindung di dalam rumah
Masyarakat sebaiknya menghindari area yang terpapar gas dan berlindung di dalam rumah ketika bau gas sulfur mulai tercium.
4. Hindari keluar rumah saat paparan gas tercium
Jika kondisi udara di luar rumah terindikasi terpapar gas SO2, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan tetap berada di tempat yang terlindung hingga kondisi membaik.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply