Analisis Ilmiah BMKG: Sebaran Abu Krakatau & Status Selat Sunda

Bandara yang ditutup akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau
Bandara yang ditutup akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (KalderaNews/Malena)
Sharing for Empowerment

Analisis ilmiah BMKG terkait dampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terhadap penerbangan, geomagnetik, dan potensi tsunami.

JAKARTA, KalderaNews.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengintensifkan pemantauan 24 jam berbasis multi-instrument untuk mengamati dampak aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).

BACA JUGA:

Berdasarkan analisis citra satelit terbaru, BMKG memetakan sebaran abu vulkanik di atmosfer serta mengevaluasi potensi dampak terhadap keselamatan penerbangan, aktivitas geomagnetik, dan kondisi pesisir Selat Sunda.

Sebaran Abu Vulkanik dan Dampak Navigasi Udara

Analisis citra satelit mencatat dua klaster utama sebaran abu vulkanik yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu. Dinamika pergerakan abu terbagi berdasarkan ketinggian atmosfer:

  • Ketinggian hingga 20.000 kaki: Bergerak ke arah timur laut hingga selatan, mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya.
  • Ketinggian hingga 50.000 kaki: Bergerak ke arah barat daya hingga barat laut, melingkupi Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia.

Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta telah menerbitkan 18 Significant Meteorological Information (SIGMET) sejak erupsi awal pada 4 September 2026.

Sebagai langkah mitigasi keselamatan penerbangan nasional, Otoritas Bandar Udara bersama AirNav Indonesia, BMKG, InJourney, dan TNI menerbitkan Notice to Airmen (NOTAM) terkait penutupan sementara empat bandara utama:

  1. Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta
  2. Bandar Udara Halim Perdanakusuma
  3. Bandar Udara Radin Inten II (Lampung)
  4. Bandar Udara Budiarto (Tangerang)

Dalam perkembangannya hingga Minggu malam, sebanyak delapan bandara di Indonesia terpaksa ditutup sementara pada waktu yang berbeda.

Menurut Direktur Meteorologi Penerbangan BMKG, Achadi Subarkah Raharjo, fasilitas udara yang terdampak penutupan ini meliputi:

  • Bandara Soekarno-Hatta
  • Halim Perdanakusuma
  • Radin Inten II Lampung
  • Husein Sastranegara
  • Budiarto Curug
  • Pondok Cabe
  • Taufik Kiemas
  • Atung Bungsu

Di antara seluruh lokasi tersebut, durasi penutupan Bandara Radin Inten II di Lampung berpotensi mengalami perpanjangan dari jadwal yang telah ditentukan.

Anomali Laut, Petir Vulkanik, dan Gangguan Geomagnetik

Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, memaparkan hasil evaluasi geofisika terhadap potensi dampak sekunder erupsi:

1. Potensi Tsunami Rendah

Pemantauan pada 20 sensor tsunami gauge dan teknologi High-Frequency (HF) Radar Array di Carita serta Tanjung Lesung menunjukkan tidak adanya anomali muka air laut. Probabilitas tsunami berada di tingkat rendah (di bawah 40%) dengan tinggi gelombang terjaga aman di kisaran 1 meter.

2. Fenomena Sekunder Atmosfer

Sensor geofisika di Lampung Selatan dan Serang mengidentifikasi adanya gangguan geomagnetik yang bersumber dari peningkatan intensitas sambaran petir vulkanik. Meski demikian, intensitas fenomena ini tercatat lebih rendah dibandingkan fase erupsi awal.

Imbauan Resmi BMKG

BMKG terus berkoordinasi secara terpadu bersama PVMBG-Badan Geologi untuk menyajikan data pemantauan real-time.

Masyarakat di pesisir Selat Sunda diimbau untuk tetap tenang, tidak menyebarkan informasi spekulatif, serta selalu merujuk pada saluran informasi resmi pemerintah.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


81 views