Memanen Anggur Vitis Alphonso Lovalle di Pulau Dewata Bali




Panen anggur di kebun anggur Komang Sutama di Umanyar, Kecamatan Seririt, Buleleng
Panen anggur di kebun anggur Komang Sutama di Umanyar, Kecamatan Seririt, Buleleng (KalderaNews/JS de Britto)

BULELENG, KalderaNews.com – Kabupaten Buleleng adalah sentra anggur di Pulau Dewata Bali, dengan sebarannya di Kecamatan Gerokgak, Seririt dan Banjar. Pada suatu ketika di masa lalu, jelajah KalderaNews dipertemukan dengan petani anggur bernama Komang Sutama di Umanyar, Kecamatan Seririt, Buleleng dan Made Mangka di Desa Banyupoh, Gerokgak.

Ir. Rindang Dwiyani, M.Sc dari artikelnya yang berjudul “Tanah Pulau Bali dan Potensinya untuk Pertanian” menjelaskan pada dasarnya tanaman anggur cocok dan tumbuh baik di daerah dengan ketinggian 0-300 mdpl dengan suhu rata-rata 25-31°C, kelembaban udara 40-80%, curah hujan 800mm/tahun, tanah liat berpasir dengan pH 6,5-7,0. Jika dilihat dari syarat tumbuhnya maka wajar kalau anggur memang potensial diproduksi di Buleleng ini.

Ada pun anggur Bali yang banyak tumbuh di Buleleng adalah jenis anggur Vitis vinivera atau Vitis alphonso lovalle. Dra. Lilies Sukartini, MM dalam karya ilmiahnya “Terpesona oleh Flora dan Fauna di Bali” dalam Expedisi Geografi Bali 2007 menjelaskan anggur ini berwarna ungu kehitaman, rasanya manis masam, mengandung vitamin C, vitamin B, voloitile oil, etil alkohol dan etanol hasil panen.

BACA JUGA:

Anggur Bali dengan nama ilmiah Vitis vinifera L. var. Alphonso Lavallee ini oleh orang Portugal disebut Alfredo dan di Australia dikenal dengan nama Ribier.

Jenis anggur yang berwarna ungu kehitaman ini sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai buah segar atau buah meja (table grapes) dan wine (wine grapes).

Mau untuk buah segar atau untuk diolah jadi wine, rasa manis merupakan jaminan yang harus dimiliki buah anggur. Selain sebagai buah meja, anggur ini dapat dibuat kismis dan selai minuman.

Namun sayangnya, anggur Bali yang dihasilkan di Kecamatan Gerokgak, Seririt dan Banjar, Kabupaten Buleleng tersebut kadang rasanya asam, padahal semua daerah tersebut, baik dari segi climate maupun tanahnya sangat potensial ditanami anggur, karena dua penyebabnya.

Petani anggur Komang Sutama di Umanyar, Kecamatan Seririt, Buleleng
Petani anggur Komang Sutama di Umanyar, Kecamatan Seririt, Buleleng (KalderaNews/JS de Britto)
Petani anggur Komang Sutama di Umanyar, Kecamatan Seririt, Buleleng
Petani anggur Komang Sutama di Umanyar, Kecamatan Seririt, Buleleng (KalderaNews/JS de Britto)
Panen anggur di kebun anggur Komang Sutama di Umanyar, Kecamatan Seririt, Buleleng
Panen anggur di kebun anggur Komang Sutama di Umanyar, Kecamatan Seririt, Buleleng (KalderaNews/JS de Britto)
Petani anggur Made Mangka di Desa Banyupoh, Gerokgak, Buleleng
Petani anggur Made Mangka di Desa Banyupoh, Gerokgak, Buleleng (KalderaNews/JS de Britto)
Panen anggur di kebun anggur Komang Sutama di Umanyar, Kecamatan Seririt, Buleleng
Panen anggur di kebun anggur Komang Sutama di Umanyar, Kecamatan Seririt, Buleleng (KalderaNews/JS de Britto)

Pertama, sering kali buahnya dipanen sebelum saatnya tiba. Idealnya, buah anggur jenis ini dipanen setelah 105 hari setelah pemangkasan atau kadar gulanya mencapai sekitar 15°Brix. Para petani memanennya lebih awal karena dua alasan, yaitu ketakutan akan serangan cendawan menjelang panen dan permintaan para pengepul (wholesaler).

Biar tahan dari kerusakan pada saat pengangkutan, para pengepul membeli buah dari petani ketika buah belum siap dipanen, meskipun warnanya memang sudah ungu kehitaman.

Dipanen ketika kadar gula buah belum cukup inilah yang menjadi salah satu penyebab rasa asam pada anggur Bali. Petani mungkin belum tahu teori pembentukan kadar gula pada buah yang bersifat “non-climateric” seperti anggur.

Kadar gula buah yang tergolong “non-climateric” tak akan bertambah setelah dipanen, berbeda dengan pisang atau mangga yang bisa dipanen awal dan bisa diperam hingga rasanya menjadi manis.

Panen anggur di kebun anggur Komang Sutama di Umanyar, Kecamatan Seririt, Buleleng
Panen anggur di kebun anggur Komang Sutama di Umanyar, Kecamatan Seririt, Buleleng (KalderaNews/JS de Britto)
Panen anggur di kebun anggur Komang Sutama di Umanyar, Kecamatan Seririt, Buleleng
Panen anggur di kebun anggur Komang Sutama di Umanyar, Kecamatan Seririt, Buleleng (KalderaNews/JS de Britto)
Panen anggur di kebun anggur Komang Sutama di Umanyar, Kecamatan Seririt, Buleleng
Panen anggur di kebun anggur Komang Sutama di Umanyar, Kecamatan Seririt, Buleleng (KalderaNews/JS de Britto)
Panen anggur di kebun anggur Komang Sutama di Umanyar, Kecamatan Seririt, Buleleng
Panen anggur di kebun anggur Komang Sutama di Umanyar, Kecamatan Seririt, Buleleng (KalderaNews/JS de Britto)

Kedua, sistem para-para. Sistem perambatan tanaman yang menggunakan sistem para-para pada anggur Bali juga diduga sebagai penyebab lainnya dari rasa asam pada anggur Bali.

Dalam penanaman anggur yang bersifat merambat, dikenal istilah “trelissing“, yaitu cara bagaimana tanaman anggur dirambatkan. Pada “trelissing” dengan sistem “para-para” atau yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan “umbrella system“, buah-buah anggur dibiarkan menggantung di bawah “para-para” atau payung (umbrella), sehingga terhindar dari sinar matahari.

Padahal, pada fase pemasakan, buah anggur yang masih di pohon memerlukan sinar matahari dengan intensitas cukup untuk terjadinya pembentukan gula di dalam buah. Sistem “para-para” ini tidak memungkinkan buah terkena cahaya, itu sebabnya tidak cukup kadar gula terbentuk dalam buah, sehingga buah anggur kurang manis.

Sementara itu, permasalahan umum yang dihadapi petani dalam budidaya tanaman ini adalah serangan cendawan di musim hujan, yang mengakibatkan mutu buah benar-benar merosot, sehingga kalah bersaing dengan produk anggur luar di pasaran.

Selain itu, teknologi pengolahan buah untuk dijadikan minuman, kismis, atau manisan masih sangat terbatas. Winery masih terbatas jumlahnya dan itu pun didominasi asing.

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu!




1 Comment

  1. permisi saya tertarik dengan perkebunan anggur ini. apakah ada informasi lebih lanjut atau ada nomor yang bisa saya kontak dari pihak perkebunan anggur ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*