Warga Ramai-ramai Geruduk Sekolah Aqib, Siswa SD di Pemalang yang Tewas

Warga Geruduk SD di Pemalang, Siswa Tewas Diduga Dibully Kakak Kelas
Sharing for Empowerment

SDN 1 Kebondalem Pemalang didatangi warga dan wali murid setelah siswa kelas 2 meninggal dan diduga menjadi korban bullying.

PEMALANG, KalderaNews.com – Ratusan warga dan orang tua siswa mendatangi SDN 1 Kebondalem, Pemalang, Jawa Tengah, Senin (5/10/2026). Mereka menuntut kejelasan dan keadilan atas meninggalnya Aqib (7), siswa kelas 2 yang diduga mengalami perundungan oleh kakak kelas.

Aksi tersebut berlangsung sekitar pukul 09.30 WIB hingga 11.30 WIB. Sempat terjadi aksi saling dorong ketika sejumlah warga berusaha masuk ke lingkungan sekolah untuk meminta pertanggungjawaban pihak sekolah.

Salah satu peserta aksi, Yahrul (39), mengaku sengaja datang meski bukan wali murid di sekolah tersebut. Ia mengatakan dirinya prihatin dengan dugaan kekerasan yang disebut pernah terjadi di lingkungan sekolah.

BACA JUGA:

“Saya dari Pemalang. Saya bukan wali murid sini, tapi saya peduli, mengingat di sekolah sini, kerap terjadi hal serupa,” kata Yahrul.

Orang Tua Siswa Ikut Resah

Kekhawatiran juga dirasakan Antika (33), wali murid asal Kaligelang. Anaknya saat ini duduk di kelas 3 SDN 1 Kebondalem. Antika datang untuk memantau kondisi sekolah karena khawatir terjadi kejadian yang tidak diinginkan terhadap anaknya.

“Ya, jadi saya resah sebagai orang tua. Akhirnya saya sekalian mantau, barangkali ada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Antika.

Menurut Antika, kekhawatiran tersebut muncul karena anaknya pernah mengalami dugaan kekerasan ketika masih duduk di kelas 1. Saat itu, sang anak sempat mengalami sakit, demam, hingga kesulitan buang air besar.

“Sakit, demam. Tapi karena pertama, saya selidiki sendiri. Langsung diam-diam ke sini,” ujarnya.

Ia kemudian berkomunikasi dengan pihak sekolah dan wali kelas. Persoalan tersebut akhirnya diselesaikan setelah siswa yang diduga melakukan kekerasan meminta maaf.

Namun, Antika menilai kasus yang dialami Aqib jauh lebih serius karena berujung pada meninggalnya seorang siswa.

“Kalau ini kan sudah keterlaluan, sudah menyangkut nyawa anak. Jadi harus ditindaklanjuti,” tegasnya.

Antika berharap ada tindakan tegas terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab. Ia bahkan meminta kepala sekolah dan pelaku dikeluarkan dari sekolah.

Orang Tua Ungkap Dugaan Pemalakan

Selain dugaan kekerasan, orang tua siswa juga mengungkap persoalan lain yang disebut pernah terjadi di sekolah tersebut. Akuyas (45), warga Pemalang yang anaknya kini duduk di kelas 4, mengatakan anaknya pernah mengalami dugaan pemalakan oleh kakak kelas ketika hendak menuju kantin.

“Ya, anak saya cerita, saat mau ke kantin atau jajan, dipalak kakak kelasnya,” katanya.

Menurut Akuyas, dugaan pemalakan tersebut bukan hanya dialami oleh anaknya. Ia juga menyebut adanya uang saku siswa yang disebut kerap hilang.

“Sering. Terus uang yang disimpan juga banyak yang hilang, uang saku,” katanya.

Akuyas mengaku telah mengajarkan anaknya untuk segera bercerita kepada orang tua apabila mengalami kejadian serupa.

Ia juga pernah menyampaikan persoalan tersebut kepada pihak sekolah ketika anaknya masih kelas 2. Namun, setelah itu anaknya tidak lagi bercerita mengenai kejadian serupa.

Plt Bupati Pemalang Temui Warga

Plt Bupati Pemalang, Nurkholes, turut mendatangi SDN 1 Kebondalem sekitar pukul 10.10 WIB. Ia kemudian menemui perwakilan warga dan orang tua siswa.

Pertemuan tersebut berlangsung selama lebih dari satu jam. Dalam kesempatan itu, Nurkholes turut menyoroti dugaan adanya upaya menutupi kejadian yang menimpa Aqib.

“Karena dari kejadian itu sudah menutup-nutupi, sudah mengajarkan anak untuk berbohong. Jadi menurut saya enggak banget lah jadi kepala sekolah seperti itu,” katanya.

Warga dan orang tua siswa kemudian mendesak agar persoalan tersebut ditangani secara serius. Mereka berharap dugaan perundungan dapat diusut hingga tuntas dan ada langkah konkret untuk mencegah kejadian serupa kembali terjadi.

Aqib Meninggal Saat Dibawa ke Rumah Sakit

Aqib diketahui meninggal pada Rabu (30/9) sore ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sebelumnya, siswa tersebut sempat menjalani perawatan selama sembilan hari di RSUD dr M Azhari.

Ibunya, Diah Indriyanti (36), mengatakan Aqib mulai dirawat pada Kamis (17/9). Pada awal perawatan, keluarga disebut belum mengetahui adanya dugaan kekerasan yang dialami anaknya.

Setelah sembilan hari menjalani perawatan, Aqib sempat diperbolehkan pulang. Namun, kondisi tubuhnya kemudian kembali menurun.

Aqib disebut tidak dapat berjalan karena merasakan sakit di sekujur tubuh. Setelah tiga hari berada di rumah, kondisinya kembali memburuk.

Keluarga kemudian berencana membawa Aqib kembali ke rumah sakit pada Rabu (30/9). Namun, korban meninggal dunia ketika masih dalam perjalanan.

Kasus tersebut kini menjadi perhatian warga dan orang tua siswa. Mereka meminta dugaan perundungan yang dialami Aqib diusut secara menyeluruh sekaligus mendorong adanya evaluasi terhadap keamanan siswa di lingkungan sekolah.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


13 views