100 Tahun Soeharto, Menilik Sejarah SD Inpres dan SD Pamong

Ilustrasi: Presiden Soeharto bersama dengan anak-anak. (KalderaNews.com/Ist.)
Ilustrasi: Presiden Soeharto bersama dengan anak-anak. (KalderaNews.com/Ist.)

JAKARTA, Kalderanews.com -Pada 8 Juni 2021 lalu, tepat peringatan 100 tahun kelahiran Presiden Soeharto. Presiden ke-2 Indonesia ini lahir di Kemusuk, Yogyakarta 8 juni 1921. Selama 32 tahun, ia memimpin Indonesia.

Di bidang pendidikan, Presiden Soeharto meninggalkan warisan SD Inpres atau Sekolah Dasar yang dibangun atas dasar Instruksi Presiden dan Sekolah Pamong. Atas prakarsa itu, Presiden Soeharto mendapat penghargaan Avicienna dari UNESCO pada 19 Juni 1993.

BACA JUGA:

SD Inpres dan Sekolah Pamong dibuat untuk membuka akses bagi anak-anak Indonesia agar mendapat pendidikan dengan biaya murah sekaligus pemerataan pendidikan ke seluruh negeri.

Presiden Soeharto menginstruksikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan membangun sekolah-sekolah dasar di seluruh Indonesia dengan dana APBN. Proyek SD Inpres didahului dengan keluarnya Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 1973 tentang Program Bantuan Pembangunan Gedung SD.

Tak hanya itu, setahun kemudian Presiden Soeharto mengeluarkan Instruksi Presiden No. 6/ 1974, 14 Mei 1974 tentang Program Bantuan Pembangunan SD. Program yang merupakan bantuan pembangunan SD tahap kedua ini dimaksudkan sebagai kelanjutan program pembangunan gedung-gedung SD tahap pertama yang ditetapkan setahun sebelumnya.

Pada tahap pertama, Presiden Soeharto berhasil membangunan 6.000 SD yang masing-masing memiliki tiga ruang kelas. Tahun 1975 dimulai pelaksanaan pengajaran di SD Inpres.

Sejak diluncurkan tahun 1973, SD Inpres untuk pertama kalinya meluluskan siswa pada 1980. Hingga tahun 1994, pembangunan SD Inpres mencapai jumlah 150 ribu unit.

Presiden Soeharto juga membangun SD Pamong (Pendidikan Anak oleh Masyarakat, Orangtua, dan Guru). Seperti halnya SD Inpres, Sekolah Pamong sudah dipersiapkan sejak 1974. Sekolah ini disediakan bagi anak-anak miskin.

SD Pamong diselenggarakan oleh masyarakat, orangtua, dan guru untuk memberikan pelayanan pendidikan bagi anak putus sekolah dasar dan anak yang tidak dapat datang secara teratur belajar di sekolah. Sekolah ini tidak memiliki gedung sekolah namun kegiatan belajar dibimbing oleh guru pamong. Kegiatan belajar bisa dilakukan di mana saja seperti balai desa atau rumah penduduk.

Proyek perintis SD Pamong dibuka di Kabupaten Karanganyar, Surakarta pada 1975. Kemudian pada 1977, proyek SD Pamong dibuka juga di Kabupaten Gianyar, Bali.

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu!




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*