Contoh, Dampak dan Cara Menghilangkan Kasus Cyberbullying di Lingkungan Sekolah




Cyberbullying pada perempuan
Cyberbullying pada perempuan (KalderaNews/Ist)

JAKARTA, KalderaNews.com – Pendiri SEJIWA, Diena Haryana menjelaskan tindakan perundungan tidak hanya dilakukan secara langsung, tetapi juga dapat terjadi secara daring atau yang biasa disebut dengan tindakan cyberbullying.

Tindakan cyberbullying adalah tindakan menghina seseorang melalui jejaring sosial, ponsel atau teknologi digital lainnya.

Ia pun merinci apa saja yang termasuk cyberbulling, yakni menyebarkan kebohongan, memposting foto seseorang yang mempermalukannya, menyampaikan kebohongan tentang korban (memfitnah), mengatasnamakan seseorang (pakai akun palsu) dan mengirim pesan jahat pada korban, korban dibuatkan akun palsu dengan profil yang tidak layak, menghina dan mengucilkan.

BACA JUGA:

“Berdasarkan laporan-laporan yang kami terima, anak-anak yang mengalami perundungan di sekolah ketika mereka sekolah online pun kembali mendapatkan perundungan secara daring,” kata Diena.

Diena kemudian merujuk data UNICEF 2020. Dalam data itu, 3 anak di 30 negara menjadi korban cyberbullying. Sementara itu tahun 2018 menurut APJII atau asosiasi penyelenggara jasa internet Indonesia mengungkapkan, 49% anak di Indonesia menjadi korban cyberbullying. Dan 31,6% korban memilih diam.

Dampak dari cyber bullying pada korban tidak kalah luar biasanya dari perundungan langsung. Akibat cyberbullying, korban akan merasa tertekan, depresi, hilang segala motivasi, hilang rasa percaya diri, menutup diri sampai bisa melakukan bunuh diri.

“Sedangkan alasan pelaku melakukan cyberbullying karena para pelaku ingin mempermalukan korban, ingin membalas dendam, menarik perhatian, dianggap jagoan dan juga iri hati,” tuturnya.

Diena menyebut, untuk mengurangi dan menghilangkan kasus perundungan banyak hal yang harus dilakukan semua pihak. Di antaranya memberikan pertolongan pada anak korban cyberbullying, memberikan dukungan kepada anak bahwa ia tidak layak menerima perlakuan tersebut.

Secara konkret, ia meminta untuk mengajak anak memblok pelaku dan melaporkannya dari medsosnya. “Lalu untuk membantu bangkit fokuskan anak pada minat dan hobinya dan yakinkan bahwa orang tua akan selalu mendukung mereka,” pungkasnya.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*