Peneliti Perempuan Indonesia Memenangkan Underwriters Laboratories-ASEAN-U.S. Science Prize for Women 2021




Peneliti Loka Penelitian Teknologi Bersih Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Neni Sintawardani. (KalderaNews.com/Dok.BRIN)
Peneliti Loka Penelitian Teknologi Bersih Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Neni Sintawardani. (KalderaNews.com/Dok.BRIN)

JAKARTA, KalderaNews.com – Peneliti Loka Penelitian Teknologi Bersih Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Neni Sintawardani memenangkan The Underwriters Laboratories-ASEAN-U.S. Science Prize for Women 2021 untuk kategori Senior Scientist.

Neni mendapat penghargaan atas kontribusi penelitiannya dalam meningkatkan sistem sanitasi masyarakat untuk mendukung ketersediaan air bersih dengan menggunakan biogas dari air limbah olahan. Ia menyisihkan 22 kandidat lainnya yang berasal dari berbagai negara anggota ASEAN.

BACA JUGA:

Atas prestasi tersebut, Neni meraih penghargaan sebesar $15.000 dari The Science Prize for Women yang digelar melalui kemitraan antara ASEAN Committee on Science, Technology, and Innovation (COSTI), U.S. Agency for International Development (USAID), dan Underwriters Laboratories yang merupakan sebuah organisasi nirlaba internasional yang bergerak di bidang keselamatan masyarakat dan berbasis di Amerika Serikat.

ASEAN-U.S. Science Prize for Women merupakan penghargaan sekaligus pengakuan bagi para ilmuan perempuan yang telah memberikan kontribusi signifikan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus bertindak sebagai mentor dan role model bagi para peneliti perempuan lainnya.

Penghargaan pada 2021 ini ditujukan bagi ilmuwan perempuan terpilih yang mendedikasikan penelitiannya di bidang “Air Bersih dan Udara Bersih di kawasan ASEAN”.

Neni mengangkat penelitian terkait penanganan masalah sanitasi yang berlokus di Kiaracondong dan pengelolaan limbah tahu di Sumedang, Jawa Barat. Ia menyampaikan dengan total populasi 2,5 juta penduduk Kiaracondong tercatat hanya 45-55% yang memiliki toilet permanen dan selebihnya memanfaatkan toilet umum.

Sebanyak 42% rumah tangga tidak memiliki septic tank dan mengalirkan limbah toilet langsung ke Sungai Jondol. Masalah lainnya muncul karena sulitnya akses masyarakat terhadap ketersediaan air bersih.

“Pemanfaatan Composting Toilet (Dry Toilet Technology) merupakan solusi efektif untuk mengurangi pencemaran air sungai, mengurangi penggunaan air bersih warga, dan mengurangi biaya infrastruktur dalam sentarlisasi pengolahan air limbah domestik secara signifikan,” tutur Neni.

Dalam mencermati permasalahan air limbah tahu yang tercemar di Desa Giriharja, Sumedang, dengan menggunakan metode Anaerobic multi-stage fixed bed reactor, Neni membuktikan penelitiannya efektif menstabilkan debit fluktuasi harian untuk meningkatkan pH air, sehingga limbah tahu yang telah diolah lalu diproses menjadi biogas menjadi air bersih dapat didistribusikan ke rumah tangga untuk kebutuhan sehari-hari.

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*