Begini Kisah Hymne Guru, Pahlawan Bangsa Tanpa Tanda Jasa, Diciptakan dengan Bersiul Lho

Ilustrasi: Sartono, pencipta Hymne Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. (KalderaNews.com/repro: y.prayogo)
Ilustrasi: Sartono, pencipta Hymne Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. (KalderaNews.com/repro: y.prayogo)

JAKARTA, KalderaNews.com – Di Hari Guru Nasional selalu digaungkan Hymne Guru yang terkenal. Lagu tersebut ternyata memiliki kisah yang menarik.

Sebelum tahu kisahnya, yuk nyanyikan dulu Hymne Guru ini:

Terpujilah
Wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup
Dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir
Di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Terpujilah wahai ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir didalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku

Tuk pengabdianmu
Engkau bagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa

BACA JUGA:

Sartono adalah sang pencipta Hymne Guru. Sartono lahir di Madiun, Jawa Timur, 29 Mei 1936. Sartono juga ternyata seorang guru di Madiun, Jawa Timur. Sartono memulai kariernya sebagai guru seni musik pada 1978. Istrinya pun seorang guru.

Ia adalah guru di SMP Katolik Santo Bernardus, Madiun. Sartono purnakarya dari sekolah tersebut pada 2002. Selama bertugas, gajinya sangat pas-pasan, bahkan tak banyak, mulai dari Rp 22.000 per bulan sampai Rp 60.000 per bulan. Penghasilan tersebut disesuaikan dengan jam mengajarnya. Sartono meninggal dunia pada 1 November 2015 pada usia 79 tahun.

Sartono belajar musik secara otodidak. Pada 1978, Sartono menjadi satu-satunya guru seni musik yang bisa membaca not balok di wilayah Madiun.

Nah, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional pada 1980, Sartono mengikuti lomba mencipta lagu tentang pendidikan. Dari ratusan peserta, lagu “Hymne Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” meraih juara pertama.

Uniknya, karena keterbatasan alat musik yang Sartono punyai, Hymne Guru diciptakan dengan bersiul sambil menuliskan nada dan liriknya ke dalam catatan kertas.

Selain mendapatkan hadiah berupa uang, Sartono bersama sejumlah guru teladan dari seluruh Indonesia dikirim ke Jepang untuk studi banding.

Meskipun Sartono telah tiada, Hymne Guru tetap abadi. “Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa.”

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*