Seabad Gedong Cai Tjibadak dan Cikendi di Bandung yang Melegenda




Gedong Cai Tjibadak dan Cikendi
Gedong Cai Tjibadak dan Cikendi di Bandung (KalderaNews/Disdik Jabar)

BANDUNG, KalderaNews.com – Bandung memiliki dua sumber mata air terbesar yang bersejarah karena sudah berusia satu abad. Kedua sumber mata air yang disebut warga setempat sebagai ledeng tersebut adalah Gedong Cai Tjibadak dan Cikendi.

Gedong Cai Tjibadak dan Cikendi ini diinisiasi oleh Wali Kota Bandung berkebangsaan Belanda, Bertus. Orang Belanda waktu itu berpikir sumber air itu harus mata air dan menggunakan air tanah. Dengan mengambil dari mata air, mereka mengharapkan air bisa langsung diminum.

Peneliti Geoteknologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Fajar Lubis baru-baru ini mengatakan Belanda berburu mata air dengan melakukan pemetaan kemungkinan mata air yang ada di Bandung Raya untuk dialirkan ke ke kota.

BACA JUGA:

Dari sanalah dibangun Gedong Cai Tjibadak, Cikendi, dan beberapa sumur penampung air (reservoir) lainnya untuk mengalirkan air ke warga Bandung. Saat ini, tak kurang ada 80 mata air yang dibangun di Kota Bandung.

Adapun jumlah debit air di kedua sumur penampungan tersebut kian berkurang. Fajar mencatat, saat awal dibangun Gedong Cai Tjibadak dapat menghasilkan 75 liter air per detik. Kemudian, saat diserahkan ke Perusahaan Air Minum (PAM) pada 1977 itu 55 liter air per detik. Sekarang, jumlah air yang mengalir hanya 22 liter per detik.

“Ini lampu merah, udah warning. Jangan sampai gedungnya dilestarikan, dalamnya kosong,” tegasnya di acara Napak Tilas 100 Tahun Tjibadak 1921 di Gedong Cai, Cidadap Girang, Kelurahan Ledeng, Kota Bandung yang digagas Geo Urban, bagian pemandu geowisata Indonesia pada akahit tahun lalu.

Dalam kondisi perubahaan iklim di bumi saat ini, sumber air tersebut sebagai benteng terakhir. Sehingga, dibutuhkan pemahaman bagi masyarakat bahwa mata air bukanlah warisan.

“Mata air itu bukanlah warisan, tapi titipan anak cucu. Kalau mikirnya warisan, mungkin akan dipake aja sehabis-habisnya. Tapi jika titipan maka ada amanah, jangan sampai kita diseuseulan sama anak-cucu gara-gara nyeeupkeun air,” tuturnya.

Sebab, secara pribadi, Fajar menganalogikan air sebagai komponen yang dipoyok-dilebok. “Artinya, kalau kalau sudah hilang baru sadar,” ucapnya.

Di samping itu, pemerintah harus berperan aktif dalam pelestarian sumber mata air tersebut.

“Perlu bantuan pemerintah untuk menjadikan ini sebagai geo-heritage, warisan leluhur untuk dijaga,” ungkapnya.

Hal inilah yang disorot oleh Geo Urban bahwa wisata tak harus jauh ke alam.

“Tetapi, melihat pertumbuhan kota pun paket wisata yang menarik dan sebenarnya memberikan makna bagaimana orang dulu berjuang membangun kota,” imbuhnya.

Ia pun mengajak sekolah-sekolah untuk membawa siswanya berkunjung ke tempat sepert ini. Selain berwisata, para siswa bisa belajar tentang sumber mata air.

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*