BANDUNG, KalderaNews.com – Kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa makin marak. Terakhir, menimpa mahasiswa ITB yang dtemukan tewas di halaman apartemen di Sumedang.
Korban ditemukan tewas pada Selasa, 19 November 2024. Hal ini dinyatakan Kapolsek Jatinangor, Kompol Rogers Thomas.
Menurutnya, mahasiswa ITB yang berinisial JA, yang berusia 18 tahun itu diduga bunuh diri dengan melompat dari lantai 27 apartemen tempat JA tinggal.
BACA JUGA:
- Duh, Mahasiswa ITB Bunuh Diri, Diduga Lompat dari Lantai 27 Apartemen, Berikut Kronologinya!
- Tanggapi Kasus Bunuh Diri Orang Muda yang Semakin Meningkat, Kemendikdasmen akan Lakukan Hal Ini
- Kasus Bunuh Diri di Kalangan Mahasiswa Terus Berulang, Apakah Kampus Peduli?
Ternyata, kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa di Jawa Barat sudah terjadi berulang. Total 7 kasus bunuh diri sejak 2015 sampai Agustus 2024.
Lima dari tujuh kasus ini terjadi di Kota Bogor dan Kabupaten Bogor. Sementara dua kasus lainnya di Kota Bandung dan Kota Tasikmalaya.
Dari 7 kasus ini, semua korban melakukan aksi dengan gantung diri. Satu orang berhasil tertolong sesudah diselamatkan warga sekitar.
Mahasiswa, kelompok rentan bunuh diri
Pendiri Organisasi Nirlaba Into The Light Indonesia, Benny Prawira Siauw mengatakan, pada umumnya mahasiswa berada dalam kelompok usia remaja akhir yang dipenuhi beragam tantangan.
Mereka sedang belajar ambil tanggung jawab dengan dewasa, meski belum banyak pengalaman.
“Saat itulah, perkembangan biologis otak untuk pengambilan keputusan juga belum matang. Pun ada perubahan signifikan dari sistem belajar di SMA ke pendidikan tinggi, tuntutan belajar, sampai kehidupan sosial dan romantis masa kuliah,” ujarnya.
Kondisi ini kian pelik jika mahasiswa jauh dari keluarga atau merantau, atau bahkan harus sambil bekerja untuk membiayai kuliah.
Namun, Benny menyatakan bahwa ada perbedaan antara faktor yang memengaruhi pemikiran bunuh diri dan faktor percobaan bunuh diri.
Pemikiran bunuh diri biasanya berkaitan dengan perasaan terperangkap, tersakiti, atau terkalahkan.
Sedangkan, faktor yang memungkinkan percobaan bunuh diri lebih disebabkan akses terhadap metode mematikan di sekitar dan tidak takut akan kematian.
Pencegahan bunuh diri
Upaya pencegahan bunuh diri sejatinya perlu dilakukan bersama lintas sektor.
“Tak hanya berfokus pada orang agar tidak mengambil nyawa, tapi ciptakan masyarakat yang aman, sehat, sejahtera, dan dunia yang layak dirayakan,” kata Benny.
Maka, mitigasi keinginan melakukan bunuh diri harus dimiliki semua kalangan, tak pandang usia.
Disclaimer: Artikel ini tak bertujuan untuk menginspirasi tindakan bunuh diri. Jika kamu pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, ataupun mengenal orang-orang dalam kondisi tersebut, jangan ragu bercerita dan berkonsultasi kepada ahlinya.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply