
BANDUNG, KalderaNews.com- Kekhawatiran dan kesedihan menyelimuti siswa-siswi Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) A Pajajaran di Kota Bandung setelah ruang kelas mereka tiba-tiba dibongkar.
Informasi beredar bahwa bangunan tersebut akan dialihfungsikan menjadi Sekolah Rakyat. Peristiwa ini menuai kemarahan dari orang tua dan guru.
Mereka memilih menyuarakan kegelisahan melalui sebuah video yang ditujukan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.
BACA JUGA:
- Miris! Atap Gedung SD di Lumajang Roboh Saat Jam Sekolah Masih Berlangsung
- Siswa Terdampak Gempa Bandung, Sekolah di Tenda Darurat
- Kadis DKI Jakarta Akhirnya Angkat Bicara Soal Robohnya Bangunan SMA Negeri 96 Jakarta
Dalam video tersebut, mereka membawa foto sang presiden sambil berharap suara anak-anak penyandang disabilitas bisa sampai ke telinga pemimpin negeri.
“Pak Presiden, Pak Prabowo, presiden kami, kami mendukung sekolah rakyat, tapi jangan usir kami, tempat belajar anak kami, tapi jangan hancurkan masa depan kami, tapi jangan bongkar sekolah kami, kami ingin anak kami belajar berkarya dan bermain di tempat ini. Kami ingin tetap belajar di SLBN A Pajajaran,”
“Kami ingin anak kami tetap belajar di sekolah Pajajaran, kami masih ingin bermain, belajar dan berkarya di tempat ini,” kata para siswa dan orang tua seperti dalam video yang beredar, Jumat (16/5/2025).
Tri Bagyo, Wakil Ketua Komite Orang Tua SLBN A Pajajaran, mengatakan bahwa pembongkaran dilakukan saat para siswa tengah menghadapi ujian akhir semester.
“Itu unit gedungnya sedang dipakai SLB. Sekarang SLB sedang melaksanakan ujian akhir semester kenaikan kelas,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa memang sebelumnya telah ada surat dari pihak berwenang agar bangunan dikosongkan pada 15 Mei 2025. Namun, komite meminta penundaan hingga 23 Mei. Permintaan tersebut disebut telah disetujui secara lisan.
“Harus kosong, suratnya dikirim tanggal 2 Mei, tanggal 15 harus kosong. Kami minta, kami melayangkan surat lewat kepala sekolah penangguhan. Menurut lisan dijawab boleh sampai tanggal 23 tapi lewat WA ya,” ujarnya.
SLBN A Pajajaran dibongkar secara mendadak
Namun di luar dugaan, pembongkaran dilakukan mendadak pada Rabu, 15 Mei, saat proses belajar masih berlangsung.
“Kami agak kaget para orang tua, anak kami harus bagaimana? Kan itu ada pengeluaran barang-barang, berisik, ramai, debu dan seterusnya,” keluh Tri.
Dengan 11 ruang kelas yang dibongkar, para siswa terpaksa harus pindah sementara ke SLB Cicendo mulai 19 Mei mendatang.
“Tanggal 19 Mei (pindah ke Cicendo),” katanya.
Meski begitu, ada kekhawatiran besar soal keberlanjutan pendidikan anak-anak mereka, sebab belum ada kepastian kapan dan di mana mereka bisa kembali belajar.
“Kita enggak tahu sampai kapan, karena tidak ada garansi setelah ini (pembangunan) selesai.”
Tri juga menyampaikan bahwa lahan sekolah saat ini milik Kementerian Sosial. Namun, menurutnya, Kemensos pernah menjanjikan akan menghibahkan aset di kompleks Wyata Guna sebagai pusat pendidikan disabilitas.
“Pak Prabowo harus turun tangan dan memerintahkan Menteri Sosial untuk memenuhi janjinya untuk menghibahkan komplek Wyata Guna menjadi tempat penyelenggaraan pendidikan bagi penyandang disabilitas,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnyadi Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com


Leave a Reply