YOGYAKARTA, KalderaNews.com– Masuk angin merupakan istilah yang sangat familiar di masyarakat Indonesia sebagai gangguan kesehatan.
Meski demikian, dalam dunia kedokteran, masuk angin tidak diklasifikasikan sebagai penyakit resmi. Istilah ini lebih sering dianggap sebagai gejala awal dari gangguan seperti flu atau penyakit lain.
Namun, menurut Prof. Dr. Atik Triratnawati, M.A., dosen Antropologi dari Fakultas Ilmu Budaya UGM, masuk angin bukan sekadar masalah kesehatan, melainkan fenomena budaya yang telah mengakar di masyarakat.
Buah pemikiran Prof. Atik mengenai masuk angin ini berhasil membawanya sebagai salah satu dari 17 guru besar aktif di Fakultas Ilmu Budaya UGM, serta menjadi bagian dari 532 guru besar aktif di tingkat universitas.
BACA JUGA:
- Kisah Iskandar Nazari, Dulu Berstatus Satpam, Sekarang Dilantik Jadi Guru Besar
- Unika Soegijapranata Hadirkan Dua Pengajar Dari Filipina, Visiting Professor
- The Story of Robert Francis Prevost, Now Pope Leo XIV
Pernyataan ini ia sampaikan dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam bidang Antropologi Kesehatan pada Selasa, 10 Juni 2025 di Balai Senat UGM.
Dalam pandangan Prof. Atik, masuk angin merupakan titik temu antara pemahaman medis dan kultural. Di kalangan masyarakat Jawa, gangguan ini diterima dan dipahami secara budaya sebagai kondisi kesehatan yang khas.
“Pada ranah budaya, masuk angin jatuh pada ranah magik atau sihir. Gejalanya yang tidak jauh berbeda dengan penyakit lain sehingga penderitanya tidak dapat melakukan kegiatan seperti biasanya,” ujarnya.
Ada 3 jenis masuk angin menurut masyarakat Jawa
Lebih lanjut, Prof. Atik menguraikan bahwa masyarakat Jawa membedakan masuk angin ke dalam tiga jenis: masuk angin biasa, masuk angin berat, dan masuk angin kasep (atau dikenal juga sebagai angin duduk).
Masuk angin biasa dianggap ringan, dengan gejala seperti perut kembung, demam ringan, dan rasa pegal. Penderitanya masih bisa menjalankan aktivitas harian tanpa hambatan.
“Gejalanya sendiri berupa kembung, panas, dan pegal-pegal,” ucapnya.
Sementara itu, masuk angin berat muncul ketika tubuh mengalami kelelahan namun tidak segera ditangani. Penderita sering mengabaikan makan, minum, atau istirahat demi menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu.
“Umumnya penderitanya sering sekali menunda makan, minum, dan istirahat karena berharap pekerjaannya akan diselesaikan dulu. Akibatnya muncul gejala-gejala tambahan seperti muntah dan mencret. Kedua gejala ini yang disebut Atik sebagai pembeda antara masuk angin biasa dan berat,” terangnya.
Adapun masuk angin kasep adalah kondisi yang lebih serius karena gejala awalnya tidak direspons secara tepat. Jenis ini bisa datang secara tiba-tiba dan berisiko tinggi terhadap keselamatan penderita.
“Gejala yang tidak teratasi pada masyarakat awam dapat menyebabkan kematian,” imbuhnya.
Fenomena masuk angin dan metode pengobatan yang diberikan
Fenomena masuk angin dalam masyarakat juga melahirkan berbagai metode pengobatan yang unik, baik yang dilakukan secara individual maupun kolektif. Prof. Atik menyebut bahwa bentuk penanganan bisa sangat beragam dan dipengaruhi oleh kepercayaan lokal.
Ia memberi contoh bagaimana suatu keluarga mengobati balita yang masuk angin dengan cara mengoleskan kotoran sapi ke perut sang anak. Di tempat lain, seorang petani mengatasi masuk angin dengan meminum minuman bersoda.
Namun, di antara semua cara tersebut, ada satu metode yang dianggap sebagai solusi utama oleh masyarakat Jawa, yakni kerokan.
“Menggurat bagian-bagian tubuh dengan koin dan minyak gosok atau sejenisnya mampu menimbulkan rasa hangat,” ujarnya.
Dalam dunia medis sendiri, kerokan menimbulkan perdebatan. Ada pendapat yang menyatakan bahwa praktik ini dapat merusak jaringan kulit dan pembuluh darah. Namun ada pula yang menyebut kerokan bermanfaat, khususnya jika dilakukan dengan teknik yang tepat.
Prosesnya bisa dimulai dari bagian atas punggung hingga ke pinggang, dan posisi koin pun dapat dimiringkan untuk hasil lebih efektif.
Menurut Prof. Atik, jika kerokan menimbulkan rasa sakit yang berlebihan, efektivitasnya justru menurun. Sebaliknya, kerokan yang benar akan membantu memperlancar sirkulasi darah dan meningkatkan suhu tubuh.
“Dengan demikian, prinsip pengobatan ini sesuai dengan prinsip pemikiran sehat-sakit dalam budaya Jawa,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply