Toleransi: Implementasi Akhlak dalam Kurikulum Merdeka

SMA Sint Carolus Tarakanita Bengkulu
Peserta didik SMA Sint Carolus Tarakanita Bengkulu (KalderaNews/Dok. Sekolah)
Sharing for Empowerment

Oleh: Mardiana, S.Pd., Guru SMA Sint Carolus Tarakanita Bengkulu

JAKARTA, KalderaNews.com – Toleransi merupakan nilai fundamental dalam kehidupan bermasyarakat yang multikultural dan multireligius. Secara etimologis, kata “tolerance” dalam bahasa Inggris berarti membiarkan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) toleransi diartikan sebagai sikap membiarkan atau mendiamkan perbedaan. Dalam bahasa Arab, istilah “tasamuh” merujuk pada sikap lapang dada dalam menghadapi perbedaan.

Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) menegaskan bahwa toleransi adalah sikap dan tindakan menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain.

BACA JUGA:

Dalam konteks keagamaan toleransi bukan berarti mengikuti ajaran agama lain, melainkan menghormati dan memberikan kebebasan kepada penganut agama lain untuk menjalankan keyakinannya.

Sikap ini penting untuk diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk di lingkungan sekolah. Salah satu contoh konkret adalah memberikan kesempatan kepada teman dari agama lain untuk beribadah sesuai dengan ajarannya.

Merdeka Belajar dan Pendidikan Akhlak

KBBI mendefinisikan “belajar” sebagai usaha untuk memperoleh pengetahuan atau mengubah perilaku berdasarkan pengalaman. Sementara “merdeka” berarti bebas, tidak terikat, dan tidak bergantung pada orang lain.

Maka, “merdeka belajar” berarti proses pembelajaran yang bebas dan leluasa, yang memberi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan potensi intelektual, moral, dan keterampilan lainnya.

Menurut Ibnu Maskawaih, akhlak adalah sikap batin yang mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan baik secara spontan. Dalam konteks ini, pendidikan akhlak memegang peranan penting dalam membentuk karakter peserta didik agar terbiasa berperilaku baik, memiliki sopan santun, dan patuh terhadap ajaran agama masing-masing.

Peran guru dan orang tua sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan nilai-nilai akhlak tersebut baik di rumah maupun di sekolah.

Peran Kurikulum Merdeka

Kurikulum merupakan komponen utama dalam mencapai tujuan pendidikan. Tanpa kurikulum yang tepat, peserta didik akan kesulitan mencapai kompetensi yang diharapkan. Kurikulum Merdeka hadir sebagai respons terhadap kebutuhan zaman, termasuk tantangan di era digital.

Kurikulum ini menekankan pada peran aktif peserta didik dalam proses pembelajaran, sementara guru berperan sebagai fasilitator.

Dalam prosesnya, Kurikulum Merdeka bertujuan membentuk karakter pelajar yang beriman, berkebhinekaan, mandiri, bernalar kritis, kreatif, dan bergotong royong. Salah satu dimensi penting dalam Profil Pelajar Pancasila adalah kebinekaan global.

Dimensi ini bertujuan membentuk pelajar yang mampu mengenali dan menghargai keberagaman budaya, suku, agama, dan ras di lingkup lokal maupun global. Kebinekaan global juga menekankan pada pentingnya kemampuan komunikasi antarbudaya, sikap inklusif, dan tindakan nyata untuk mewujudkan keadilan sosial.

Sejalan dengan Kebinekaan Global, Tarakanita juga memiliki nilai Community, yang dimaknai sebagai persaudaraan sejati. Menghidupi kedua value tersebut, peserta didik Tarakanita diharapkan mampu menumbuhkan sikap toleran, menghormati perbedaan, dan memperkuat persatuan di tengah keberagaman.

Dengan mengintegrasikan nilai-nilai ini ke dalam pembelajaran dan kegiatan peserta didik, sekolah membantu menyiapkan generasi yang adaptif, terbuka, dan bertanggung jawab dalam kehidupan global.

Integrasi nilai Kebhinekaan Global dan Community di SMA Sint Carolus tertuang melalui program “Tolerance dan Bina Iman”. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Jumat pukul 12.10–13.10, bertepatan dengan waktu salat Jumat bagi peserta didik laki-laki Muslim.

Peserta didik Muslim perempuan melakukan salat Zuhur dan tilawah bersama guru perempuan Muslim. Peserta didik yang beragama Kristen Protestan, Hindu, dan Budha belajar bersama guru agama masing-masing.

Program ini selaras dengan semangat Kurikulum Merdeka dalam menanamkan nilai-nilai toleransi dan pendidikan akhlak. Program ini memberikan ruang bagi peserta didik non-Katolik untuk memperdalam pemahaman agama mereka dan menjalankan ibadah sesuai keyakinannya.

Program ini menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah karena selaras dengan tujuan pendidikan karakter dan toleransi dalam Kurikulum Merdeka. Pendidikan akhlak merupakan pilar penting dalam proses pembelajaran. Melalui pendidikan akhlak yang baik, peserta didik dapat mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan sejati.

Oleh karena itu, integrasi antara pendidikan karakter, toleransi, dan kurikulum yang adaptif seperti Kurikulum Merdeka menjadi kunci keberhasilan pendidikan di era modern.

Sumber Pustaka

Pengelola Web Kemdikbud. (2022, Februari 11). Pulihkan pembelajaran, Mendikbudristek luncurkan Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar. Kemdikbud.go.id.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*