
JAKARTA, KalderaNews.com – Kabar menarik! Komet langka Lemmon akan melintasi dekat Bumi mulai Jumat, 25 Oktober 2025 sampai Selasa, 28 Oktober 2025.
Menurut Peneliti Utama Pusat Riset Antariksa Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, komet ini tergolong sangat langka karena memiliki periode orbit yang sangat panjang, lebih dari 1000 tahun.
BACA JUGA:
- BRIN Ungkap Wilayah Pesisir Utara Jawa Terancam Tenggelam 2050-2070, Ini Penyebabnya!
- 2 Komet Langka Bakal Melintas Dekat Bumi, 20-21 Oktober 2025
- Waspada! Hujan di Jakarta Ternyata Bawa Mikroplastik Berbahaya, BRIN: Polusi Plastik Sudah Mencapai Langit!
Terlihat dari Indonesia, tapi perlu alat bantu
Kabar baiknya, Komet Lemmon bisa disaksikan dari Indonesia! Thomas menjelaskan, komet ini akan terlihat di daerah yang bisa mengamati aktivitas Matahari terbit atau terbenam.
“Komet Lemmon dapat diamati sesudah Maghrib di ufuk barat dekat titik Matahari terbenam,” ungkap Thomas.
Namun, karena cahayanya yang cukup redup (diperkirakan mencapai magnitudo +10 saat terdekat), pengamatan tidak bisa dilakukan dengan mata telanjang.
Kamu mesti memerlukan teleskop atau setidaknya binokuler untuk bisa melihat benda langit ini.
Cara amati Komet Lemmon
Agar pengamatan berhasil, Thomas juga memberikan beberapa syarat penting:
- Cuaca cerah
- Jauh dari polusi cahaya
- Medan pandang tidak terhalang pohon atau bangunan.
Komet ini dinamai Lemmon karena ditemukan pertama kali oleh astronom David C. Fuls pada 3 Januari 2025.
Saat itu, Fuls sedang melakukan survei di Gunung Lemmon, Arizona, menggunakan teleskop reflektor Cassegrain 1,5 meter milik Observatorium Steward Universitas Arizona.
Saat pertama kali terdeteksi, komet Lemmon hanya berupa titik cahaya yang sangat redup dengan magnitudo +21,5.
Namun, pengamatan lanjutan mengonfirmasi statusnya sebagai komet.
Setelah dihitung, para ilmuwan menemukan bahwa kunjungan komet ini terakhir kali terjadi lebih dari satu milenium (1000 tahun) yang lalu.
Komet Lemmon sempat menghilang dari pandangan pada 2 Juli 2025 karena melewati konjungsi Matahari.
Lantas, muncul kembali pada pertengahan Agustus 2025 dengan cahaya yang lebih terang, diduga akibat adanya ledakan aktivitas pada inti esnya.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply