
JAKARTA, KalderaNews.com – Kritik keras dilayangkan kepada Presiden Prabowo! Kurikulum pendidikan lingkungan bukan solusi bencana ekologis. Kebijakan justru yang merusak lingkungan!
Pada peringatan Hari Guru Nasional lalu, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pesan kepada guru agar memperkuat pemahaman menjaga alam dalam silabus pelajaran.
Pesan ini disampaikan pada puncak peringatan Hari Guru Nasional, Jumat, 28 November 2025, sebagai respons terhadap bencana ekologis di Sumatera.
Presiden Prabowo secara tegas menyoroti pembabatan pohon sebagai penyebab utama kerusakan hutan dan sungai.
Ia berharap penguatan pendidikan lingkungan di sekolah dapat menjadi solusi konkret.
BACA JUGA:
- Darurat Banjir, 8 Kampus di Aceh dan Sumatera Pindah Kuliah Daring! Ujian Diundur Januari 2026
- 1.009 Sekolah Terdampak Banjir Sumatera, SD Paling Banyak Terdampak
- 30 SD di Aceh Barat Lumpuh Total Diterjang Banjir! Ribuan Murid Terancam Tak Sekolah
“Mungkin perlu kita tambah dalam silabus, dalam mata pelajaran, juga kesadaran akan sangat pentingnya kita menjaga lingkungan alam kita,” ujar Prabowo.
Pendidikan bukan solusi mujarab krisis lingkungan
Namun, wacana menjadikan pendidikan lingkungan sebagai solusi utama atas bencana mendapat respons kritis.
Dosen Psikologi Pendidikan Universitas Surabaya, Anindito Aditomo menilai, pandangan itu bisa menimbulkan bias serta mengaburkan akar masalah yang sesungguhnya.
Kata Anindito, pendidikan lingkungan yang mencakup pengetahuan, sikap, dan perilaku pro-lingkungan, termasuk panduan pendidikan perubahan iklim, sudah terintegrasi dalam Kurikulum Merdeka sejak 2023.
“Jadi jangan jadikan pendidikan sebagai solusi atas bencana dan kerusakan lingkungan. Seolah-olah ketiadaaan materi lingkungan di kurikulum atau kegagalan mengajarkannya adalah penyebab kerusakan lingkungan,” tegas Anindito.
Mantan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kemendikbudristek ini mengakui, meskipun sudah di level kebijakan, implementasi pendidikan lingkungan di lapangan memang belum kuat.
Anindito menekankan bahwa pendidikan lingkungan sangat vital untuk menumbuhkan kesadaran sejak dini terhadap isu perubahan iklim dan aktivitas manusia (antropogenik) yang menyebabkannya.
Ini penting agar anak-anak siap dan aktif merespons krisis iklim yang dampaknya akan sangat dirasakan generasi muda.
Meski demikian, penguatan implementasi di sekolah, termasuk sosialisasi, pelatihan, dan prioritas anggaran, harus dilakukan secara masif oleh semua kementerian/lembaga terkait dan pemerintah daerah.
Lebih lanjut, Anindito memperingatkan, sebaik apa pun pendidikan lingkungan, semuanya akan percuma jika tidak dibarengi dengan kebijakan pro-lingkungan yang kuat.
“Percuma! Jika kita, para orang dewasa, terus mempertontonkan ketidakpedulian pada alam. Apalagi kalau kita membiarkan, bahkan mengizinkan pembalakan hutan dan penambangan yang membabi buta,” tegasnya.
Bukan bencana alam, ini bencana ekologis!
Sementara, peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Universitas Gadjah Mada, Hatma Suryatmojo menegaskan, banjir bandang di Sumatera bukan sekadar ulah curah hujan tinggi, melainkan bencana ekologis akibat ulah manusia.
Hatma menjelaskan, fenomena ini merupakan bagian dari pola berulang bencana hidrometeorologi yang meningkat tajam dalam dua dekade terakhir.
Dia memaparkan penyebab utama bencana ekologis di Sumatera:
- Kerusakan ekosistem hulu. Kerusakan hutan di hulu DAS telah menghilangkan daya dukung ekosistem untuk meredam curah hujan.
- Hilangnya “spons raksasa”. Hutan rimbun di hulu DAS berfungsi vital sebagai penyangga hidrologis, ibarat spons raksasa yang menyerap air hujan ke dalam tanah.
- Cuaca ekstrem hanyalah pemicu awal. Dampak merusak banjir diperparah oleh rapuhnya benteng alam di kawasan hulu akibat hilangnya tutupan hutan, yang memicu erosi, longsor, dan akhirnya banjir bandang.
Hal ini secara jelas ditunjukkan oleh gelondongan kayu yang terseret banjir bandang.
Ini menandakan bahwa pembabatan hutan dan kegiatan eksploitatif lainnya adalah akar masalah yang harus segera diatasi dengan kebijakan tegas, bukan hanya mengandalkan perubahan kurikulum sekolah.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnyadi Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply