Tanamkan Semangat Toleransi Peserta Didik, SMA Tarakanita Magelang Sambangi Pondok Pesantren Selamat

Peserta didik SMA Tarakanita Magelang di Pondok Pesantren Selamat
Peserta didik SMA Tarakanita Magelang di Pondok Pesantren Selamat (KalderaNews/Dok. Tarakanita)
Sharing for Empowerment

MAGELANG, KalderaNewscom – SMA Tarakanita Magelang sebagai bagian dari lembaga pendidikan memiliki cara bijak dalam membangun karakter dan kebersamaan di antara peserta didik maupu peserta didik dengan masyarakat.

Bagi sekolah-sekolah Tarakanita, program CC5+ menjadi salah satu identitas kuat dalam membentuk pribadi unggul yang berkarakter. Melalui CC5+ peserta didik diajak untuk menghidupi nilai-nilai: Compassion, Celebration, Competence, Creativity, dan Community.

Salah satu bentuk penghayatan nilai tersebut adalah kegiatan Celebrasi dan Penguatan Komunitas, yang menjadi ruang perjumpaan, refleksi, dan kebersamaan bagi seluruh warga sekolah dan masyarakat.

BACA JUGA:

Kegiatan kunjungan ke Pondok Pesantren Selamat merupakan salah satu bentuk membangun relasi antar peserta didik, menumbuhkan rasa percaya diri, menciptakan pengalaman sosial yang positif.

Melalui kegiatan kunjungan ini SMA Tarakanita Magelang menegaskan identitasnya sebagai komunitas yang inklusif dan penuh semangat persaudaraan. Inilah fondasi penting dalam membentuk generasi muda yang tangguh, berempati, dan siap membangun masyarakat yang lebih baik.

Kegiatan kunjungan ke pondok pesantren menjadi salah satu cara strategis untuk memperkuat relasi, toleransi, dan sikap saling memahami antarumat beragama maupun antar komunitas.

Kunjungan ke pesantren saat itu berbagai kegiatan yang lebih saling mengenal antar komunitas secara langsung yang salah satu kegiatannya adalah ceramah oleh Gus Tanzil selaku pengasuh pondok pesantren yang memberikan wawasan tentang hidup beralasi dan bertolensari dalam kehidupan antar umat beragama.

Peserta didik SMA Tarakanita Magelang di Pondok Pesantren Selamat
Peserta didik SMA Tarakanita Magelang di Pondok Pesantren Selamat (KalderaNews/Dok. Tarakanita)

Bagaimana kita hidup untuk saling menghormati, saling menjaga hat, dan tidak memandang orang lain lebih rendah dari kita.

Toleransi tidak hanya dipahami sebagaimana menerima perbedaan tetapi kemampuan memhami sebuah perbedaan yang menyatukan dengan mengembangkan empati dan keterbukaan.

Bagaimana manusia sebagai mahluk yang membawa kedamaian. Dalam kegiatan ini terjadi dialog yang sangat menarik bagaimana peserta didik bertanya tentang pernikahan campur, poligami, ataupun pola hidup di Pondok pesantren.

Dari dialog ini Gus Tanzil menyatakan bahwa toleransi terbentuk karena bagaimana kita berlaku adil untuk semua orang.

Setelah kegiatan dialog peserta didik melanjutkan dengan acara kebersamaan antara peserta didik SMA Tarakanita Magelang dengan santriawan–santriwati untuk saling mengenal dan memahami kehidupan komunitas masing masing.

Mereka membentuk beberapa kelompok untuk saling sharing antar mereka untuk saling memahami kehidupan di pondok pesantren Selamat dan di SMA Tarakanita Magelang. Kegiatan sharing sangat interaktif dan asik sehingga semakin mengenal satu dengan yang lain.

Setelah sharing, mereka masuk dalam budaya yang berkembang sebagai kaum muda. Dari pondok menampilkan musik rebana dan lagu bernuansa muslim, dilanjutkan dengan tampilan dari SMA Tarakanita Magelang dengan lagu lagu akustik.

Widya XI. 3 salah satu siswa SMA Tarakanita Magelang merasakan banyak hal yang sangat berkesan dan bernilai. Dari pondok Ia banyak belajar tentang kebersamaan, rasa syukur, dan persaudaraan sekaligus membuka wawasan baru mengenai toleransi.

Dari kegiatan ini merasa ada suasana yang mengasyikkan karena sambutan yang hangat dari teman teman pondok. Secara keseluruhan, ia merasa kesan yang mendalam dan membuat sadar pentingnya kebersamaan dan ikatan persaudaraan meskipun berbeda agama.

Kunjungan ke pondok pesantren bukan sekadar perjalanan studi, tetapi perjalanan nilai. Melalui perjumpaan, dialog, dan pemahaman langsung, kegiatan ini menjadi jembatan emas yang menghubungkan berbagai komunitas.

Jika kegiatan semacam ini terus dilakukan, generasi mendatang akan tumbuh dengan pemikiran yang lebih terbuka, empatik, dan toleran sesuai dengan semangat kebinekaan bangsa.

Kunjungan ke pondok pesantren adalah salah satu cara efektif membangun relasi dan toleransi di tengah masyarakat multikultural Indonesia.

Melalui perjumpaan langsung, dialog, dan pemahaman mendalam, kegiatan ini membantu memperkuat persatuan serta menciptakan ruang komunikasi yang damai.

Dengan semakin banyaknya kolaborasi dan pertemuan antar komunitas, diharapkan Indonesia dapat terus menjadi negara yang harmonis dalam keberagaman. (Yohanes Suryanto)

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*