Viral! Curhat Alumni SMAN 2 Bantul soal Trauma Sekolah, Disorot Netizen

Tangkapan layar curhatan alumni SMAN 2 Bantul di Threads
Sharing for Empowerment

Unggahan alumni SMAN 2 Bantul di Threads viral setelah mengaku mengalami depresi akibat fitnah oknum guru. Pihak sekolah klarifikasi.

BANTUL, Kalderanews.com-  Sebuah unggahan di media sosial Threads yang dibuat oleh akun @gh05tx0 menjadi perbincangan luas setelah berisi pengakuan seorang alumni SMA Negeri 2 Bantul (SMADABA) yang mengaku mengalami gangguan kesehatan mental akibat pengalaman buruk selama bersekolah.

Unggahan yang dipublikasikan pada 16 Juni 2026 itu telah memperoleh lebih dari 1.000 komentar. Dalam utas tersebut, pemilik akun membagikan foto surat keterangan medis yang menunjukkan riwayat perawatan psikologis yang dijalaninya sepanjang Juni hingga September 2025.

Berdasarkan dokumen yang diunggah, ia mengaku pernah didiagnosis mengalami sejumlah gangguan kesehatan mental, di antaranya depresi, gangguan bipolar, hingga episode depresi berat tanpa gejala psikotik.

Akui alami gangguan kesehatan mental karena jadi korban fitnah guru

Dalam unggahannya, ia menuding pengalaman tersebut bermula ketika dirinya masih duduk di bangku sekolah dan menjadi korban fitnah dari seorang guru. Akibatnya, ia mengaku dijauhi lingkungan pertemanan hingga mengalami tekanan psikologis yang berat.

“Singkat cerita aja, soalnya kalo diceritain semua bakal panjang. Alasan kenapa saya bisa kena Bipolar, MDD, ADHD sekaligus. Itu karena saya sekolah di SEKOLAH SAMPAH BERNAMA SMADABA. Kenapa bisa terjadi? pada tahun kedua saya bersekolah disana, saya difitnah sama guru sendiri,” tulis akun tersebut.

Ia juga mengaku sempat kehilangan arah hidup dan memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup akibat tekanan yang dialaminya.

Meski demikian, dalam unggahan lanjutan, pemilik akun menyampaikan bahwa dirinya kini berupaya bangkit dengan kembali menjalani pengobatan dan pendampingan psikologis melalui layanan BPJS di salah satu rumah sakit di Yogyakarta.

“Sebenarnya saya 2 bulan terakhir ini nyoba balik berobat lagi, tapi kali ini make BPJS buat berobat ke psikiater sama psikolog di salah satu RS di Jogja. Walau saya udah gapunya tujuan hidup dan ngerasa stuck hidupnya, setidaknya masih berusaha buat cari bantuan dan berobat,” tulisnya.

Picu simpati warganet di Threads

Unggahan tersebut kemudian memicu beragam respons dari warganet. Sejumlah pengguna Threads yang mengaku sebagai alumni SMAN 2 Bantul turut membagikan pengalaman serupa di kolom komentar.

Akun @msowl10 menuliskan, “Akupun alumni sana. Betul2 lingkungannya tidak sehat untuk kesehatan jiwa raga. Sama persis seperti yg kamu alami. Bahkan dituduh memakai narkoba. Ditantang test darah untuk cek narkoba dan test keperawanan. Fitnah kejam dijaman itu. Sungguh sampai mati gak akan pernah ada maaf untuk mereka.”

Komentar serupa disampaikan akun @dichahendrawati yang mengaku pernah mengalami perundungan saat bersekolah di tempat yang sama.

“Hiii mas salam kenal aku alumni SMA 2 Bantul jugaaa angkatan 2012 aku dlu di bully jugaaa masih inget tuh orang2 nya siapa aja.. dari kakak kelas dan temen sekelas maupun seangkatan. sumpah tuh sekolah anak2nya Toxic. jujur sampai saat ini masih sakit hati sama mereka,” tulisnya.

Sementara akun @fajarezka memberikan dukungan moral kepada pemilik unggahan.

“Mas, kamu udah lulus. Sudah dinyatakan menang dari peperangan. Bangkit mas. Lingkup itu sudah tidak dibutuhkan lagi. Biarin aja. Cari lingkungan baru. Percayalah. Lingkungan barumu tidak peduli dengan kabar burung masa lalu. I feel u mas. Angkat kepalanya ya mas!” tulisnya.

Sekolah buka suara

Menanggapi viralnya unggahan tersebut, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 2 Bantul, Suwondo, mengatakan pihak sekolah masih melakukan penelusuran dan klarifikasi terkait identitas pemilik akun.

Menurutnya, informasi yang beredar di media sosial belum dapat dipastikan kebenarannya karena sumber unggahan tidak jelas.

“Kita di sini adalah sekolah ramah anak, jadi persepsi saja. Saya pikir tidak benar. Di situ akunnya akun tidak ada namanya, bodong,” ujar Suwondo.

Ia menambahkan bahwa sekolah saat ini masih berupaya melakukan klarifikasi terhadap pemilik akun tersebut.

“Masih dalam tahap klarifikasi,” katanya.

Suwondo juga menyebut apabila pemilik akun benar merupakan alumni SMAN 2 Bantul, maka yang bersangkutan dapat menyampaikan masukan secara langsung kepada pihak sekolah.

“Karena secara hubungan bukan guru dan siswa lagi,” ujarnya.

Sementara itu, Guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMAN 2 Bantul, Husna Nisrina, mengatakan pihak sekolah masih melakukan tabayun terkait unggahan yang viral tersebut.

“Kami masih tabayun entah itu betul alumni atau mungkin orang lain yang mungkin pernah cerita atau apa,” kata Husna.

Menurutnya, isu kesehatan mental menjadi salah satu perhatian sekolah. Ia menjelaskan bahwa sekolah menyediakan layanan konseling, pendampingan psikologis, hingga mekanisme rujukan kepada tenaga profesional apabila diperlukan.

Husna mengatakan SMAN 2 Bantul juga bekerja sama dengan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Bantul dan DIY dalam memberikan pendampingan kepada siswa yang membutuhkan bantuan psikologis.

Selain layanan tatap muka, sekolah juga menyediakan layanan konsultasi daring yang dapat diakses siswa kapan saja.

“Namanya curon atau curhat online, jadi anak juga 24 jam bisa bimbingan,” ujarnya.

Hingga berita ini ditulis, pemilik akun pengunggah utas tersebut belum memberikan tanggapan saat dihubungi untuk dimintai konfirmasi lebih lanjut.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*