Ini Alasan Sekolah Cikal Terapkan Sistem SKS Sejak Jenjang SD

Head of Marketing Cikal, Siti Winanti Kartika
Head of Marketing Cikal, Siti Winanti Kartika (KalderaNews/Dok. Cikal)
Sharing for Empowerment

Bukan cuma kuliah, Sekolah Cikal terapkan sistem SKS sejak SD agar anak bisa belajar sesuai minat dan bakatnya sejak dini.

JAKARTA, KalderaNews.com – Di tengah menjamurnya sekolah internasional yang menawarkan kurikulum global seperti International Baccalaureate (IB) atau Cambridge, Sekolah Cikal memilih jalan yang berbeda.

Tak sekadar mengadopsi kurikulum asing, Cikal mendesain model pembelajaran mandiri yang unik, salah satunya dengan menerapkan sistem kredit semester (SKS) mirip perkuliahan, bahkan sejak jenjang Sekolah Dasar (SD).

Head of Marketing Cikal, Siti Winanti Kartika, menjelaskan bahwa sistem ini sengaja dirancang agar setiap anak bisa belajar sesuai dengan kebutuhan dan minat (passion) mereka sejak dini.

BACA JUGA:

“Iya, dari SD sudah ada sistem kredit seperti kuliah. Jadi, dihitung berapa kredit yang harus dipenuhi agar kompetensi anak komplit di level tersebut. Ada program yang sifatnya wajib (compulsory), dan ada yang bisa mereka pilih sendiri,” ujarnya pada KalderaNews pada Rabu, 17 Juni 2026..

Melalui sistem ini, mata pelajaran dasar seperti matematika tetap menjadi menu wajib bagi seluruh siswa SD. Namun, anak-anak diberikan kebebasan untuk memilih kelas peminatan khusus yang sesuai dengan bakat mereka, seperti kelas arsitektur hingga visual art.

Keunikan kurikulum mandiri ini digagas melalui payung 5 Stars Competencies yang dikembangkan murni oleh Cikal.

Wina menegaskan, pendekatan emosional dan psikologis anak menjadi fondasi utama, sehingga Cikal tidak pernah memaksakan anak kelas 1 SD untuk wajib bisa baca-tulis jika secara kesiapan mental belum matang.

Menjinakkan Tantangan AI di Ruang Kelas

Selain sistem SKS, kesiapan Cikal dalam menghadapi era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) juga disesuaikan dengan porsi usia anak.

Cikal memandang kehadiran AI bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai tantangan yang harus diadaptasi secara bijak.

Untuk siswa jenjang sekolah menengah (SMP dan SMA), penggunaan AI sudah mulai diperkenalkan sebagai alat bantu riset, namun dengan pengawasan ketat terhadap keabsahan informasi.

“Kemarin sempat berbincang dengan guru Social Studies. Siswa diperbolehkan mencari informasi di AI, tapi mereka harus mendalami lagi dari mana sumber informasinya. Jadi, anak-anak diajarkan untuk tidak percaya 100 persen pada AI,” tambahnya.

Sementara untuk jenjang SD, Cikal masih membatasi penggunaan gawai dan laptop di kelas. Penggunaan teknologi baru diberikan pada siswa SD kelas atas yang memang membutuhkan riset untuk proyek akhir mereka.

Wina menambahkan Cikal belum membuka program khusus AI yang berdiri sendiri demi menjaga proporsi belajar anak di bawah umur agar tidak ketergantungan.

Fokus saat ini adalah mengajarkan pemanfaatan teknologi secara mendasar, termasuk etika penggunaan AI, sebelum nantinya mereka siap menggunakannya secara spesifik di dunia perkuliahan dan kerja.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnyadi Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*