
Dugaan perundungan di SMAN 2 Bantul memicu gelombang kesaksian alumni lintas angkatan. Sejumlah mantan siswa mengungkap pengalaman pahitnya.
BANTUL, KalderaNews.com– Dugaan perundungan yang menyeret nama SMA Negeri 2 Bantul (SMADABA) terus menjadi sorotan publik.
Di tengah ramainya perbincangan di media sosial, sejumlah alumni mulai membagikan pengalaman yang mereka sebut sebagai perlakuan tidak menyenangkan selama menempuh pendidikan di sekolah tersebut.
Perbincangan bermula dari unggahan akun Threads @dinisandra_ yang mengajak para korban untuk menyampaikan pengalaman mereka.
BACA JUGA:
- Viral! Curhat Alumni SMAN 2 Bantul soal Trauma Sekolah, Disorot Netizen
- Teka-Teki Perlakuan Istana, Aksi BEM UI vs UBK-MH Thamrin, UI Pilih Absen?
- Nyinyiri Demo Mahasiswa, Inilah Sosok Kontroversial Ika Damayanti Fatma Negara
Unggahan tersebut kemudian memicu munculnya berbagai kesaksian dari alumni lintas angkatan yang selama ini memilih menyimpan cerita mereka sendiri.
Sejumlah alumni akui pernah alami perundungan
Sejumlah alumni mengaku pernah mengalami pengucilan, tekanan mental, hingga perlakuan yang meninggalkan dampak psikologis bertahun-tahun setelah mereka lulus sekolah.
Melalui unggahannya, Dinisandra mengajak para korban lain untuk bersuara dan mengungkap pengalaman yang pernah mereka alami.
“Terkait kasus adik kita alumni tahun 2025 SMA 2 Bantul yang terkena perundungan oleh pihak para pengajarnya, aku minta untuk korban lain speak up juga. Karena sudah ada dua korban yang hubungi aku tentang buruknya para pengajar di sana,” tulisnya.
Ajakan tersebut mendapat respons luas. Kolom komentar dan pesan pribadi pun dipenuhi pengakuan dari sejumlah alumni yang mengaku memiliki pengalaman serupa selama bersekolah di SMADABA.
Salah satu kesaksian datang dari Dicha Ahendrawati, alumni angkatan 2012. Ia mengaku pernah mengalami pengucilan saat duduk di kelas IPS 1. Menurutnya, hanya segelintir teman yang masih mau berinteraksi dengannya, sementara sebagian besar teman sekelas menjauh.
“Aku SMADABA alumni 2012 kelas IPS 1. Aku dikucilkan satu kelas dan hanya orang-orang tertentu yang masih mau berteman. Rasa sakit hatiku masih melekat sampai saat ini,” tulisnya.
Dicha mengatakan dirinya sebenarnya telah berupaya berdamai dengan pengalaman tersebut. Namun, kisah yang dialami adik kelasnya membuat kembali mengingat luka lama yang selama ini berusaha ia lupakan.
“Ya ampun, aku nangis bacanya. Yang kalian alami, aku alami dulu 14 tahun lalu. Itu membuka luka lama lagi yang mana luka itu sudah aku kubur dalam-dalam,” ungkapnya.
Ramai-ramai warganet berikan pengakuan
Kesaksian lain disampaikan seorang warganet yang mengaku pernah mengajar siswa pindahan dari SMADABA. Menurut pengakuannya, siswa tersebut sempat mengalami tekanan mental hingga enggan datang ke sekolah.
“Aku punya murid yang dulu pindahan dari SMADABA. Orang tuanya mengira anaknya berangkat sekolah. Padahal dia hanya naik motor muter-muter di jalan karena tidak mau ketemu guru BK,” tulisnya.
Ia mengaku tidak mengetahui secara rinci persoalan yang dihadapi siswa tersebut. Namun berdasarkan cerita yang diterimanya, kondisi itu berawal dari masalah yang berkaitan dengan kegiatan ekstrakurikuler tonti saat siswa masih duduk di kelas XI.
Setelah berhasil pindah sekolah, kondisi siswa tersebut disebut berangsur membaik. Ia mampu beradaptasi dengan lingkungan baru, menunjukkan prestasi akademik, dan akhirnya diterima di Universitas Gadjah Mada.
“Anaknya santun, pintar, dan mudah beradaptasi dengan teman baru. Alhamdulillah setelah lulus diterima di UGM,” tulisnya.
Ada yang pernah dituduh memakai narkoba
Kesaksian yang juga menyita perhatian datang dari seorang alumni dengan akun msowl10. Ia mengaku pernah mendapat tuduhan menggunakan narkoba tanpa bukti yang jelas serta diminta menjalani sejumlah pemeriksaan.
“Aku dituduh memakai narkoba. Ditantang tes darah untuk cek narkoba dan tes keperawanan. Fitnah kejam di zaman itu,” tulisnya.
Menurut pengakuannya, tekanan semakin berat ketika dirinya diminta menjalani tes kehamilan dan tes keperawanan di sebuah rumah sakit di Bantul dengan didampingi kedua orang tuanya.
Hasil pemeriksaan menunjukkan dirinya tidak hamil. Namun, ia mengaku tidak pernah menerima permintaan maaf dari pihak sekolah.
“Aku tidak hamil, tapi pihak sekolah tidak mau minta maaf. Aku tetap dipandang hina,” tulisnya.
Pengalaman tersebut, menurutnya, meninggalkan dampak psikologis yang masih dirasakan hingga kini. Setelah lulus, ia memilih menjauh dari berbagai hal yang berkaitan dengan masa sekolahnya, termasuk grup kelas dan relasi dengan sebagian teman lama.
“Aku menganggap semuanya selesai. Tapi rasa sakitnya masih terasa. Dendamnya masih ada. Aku masih sering terpicu. Aku jadi introvert dan membatasi diri dari lingkungan apa pun,” ungkapnya.
Laporan perundungan semakin bertambah
Di tengah ramainya perbincangan publik, Dinisandra menyebut jumlah alumni yang menghubunginya terus bertambah. Menurutnya, laporan yang masuk berasal dari berbagai angkatan, mulai dari alumni 2010 hingga 2025.
Ia menyebut telah menerima pengakuan dari seorang perempuan alumni 2010, seorang perempuan alumni 2012, dua laki-laki alumni 2025, seorang perempuan alumni 2021, seorang perempuan alumni 2020, serta satu perempuan lain yang baru menghubunginya melalui pesan pribadi.
Munculnya berbagai kesaksian tersebut kembali menyoroti dampak jangka panjang yang dapat ditimbulkan oleh perundungan dan tekanan psikologis di lingkungan pendidikan.
Sejumlah alumni mengaku masih menyimpan trauma, kekecewaan, hingga kemarahan yang belum sepenuhnya hilang meski telah bertahun-tahun meninggalkan bangku sekolah.
Kini, setelah kasus tersebut menjadi viral di media sosial, para alumni yang selama ini memilih diam mulai menyampaikan pengalaman mereka dengan harapan kejadian serupa tidak kembali dialami oleh generasi berikutnya.
“Kebetulan siang ini nanti aku sama korban utama mau ke kantor DP3A Bantul,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply