
PADANG, KalderaNews.com – Suasana perayaan Milad ke-113 Muhammadiyah di Padang yang seharusnya dipenuhi suka cita, tiba-tiba berubah tegang dan hening setelah Wakil Wali Kota Padang, H. Maigus Nasir, membongkar fakta mengejutkan dari data kehadiran sholat subuh berjemaah siswa sekolah Muhammadiyah.
Di hadapan ratusan tokoh, guru, dan pengurus Muhammadiyah yang selama ini mendedikasikan diri pada pendidikan Islam, Wawako Maigus mengangkat ponselnya dan menampilkan data digital yang membuat hati hadirin berguncang hebat.
“Saya buka hape saya, cek data real-time,” ujar Wawako Maigus dengan nada prihatin.
BACA JUGA:
- Apa Perbedaan Sekolah Islam Terpadu dengan Sekolah Madrasah? Cek Perbedaannya di Sini, Yuk
- 5 Sekolah Islam Bertaraf Internasional Terbaik di Indonesia, Ada Pesantren Gontor yang Legendaris
- 9 Sekolah Islam Terbaik di Jakarta Lengkap dengan Alamatnya
Fakta yang terungkap sungguh menampar keras. Di SMP Muhammadiyah 5 Padang, dari total 426 siswa yang terdaftar, ternyata hanya 3 orang yang tercatat mengikuti sholat subuh berjemaah. Angka partisipasi ini bahkan belum menyentuh 1% dari total siswa.
Hening langsung menyelimuti ruangan. Tatapan tak percaya, kecewa, hingga rasa malu bercampur aduk di wajah para tokoh, mengingat Muhammadiyah dikenal gigih memperjuangkan pemurnian ajaran dan kedisiplinan ibadah.
Maigus melanjutkan dengan mengabsen data sekolah Muhammadiyah lainnya di Padang, dan hasilnya nyaris sama: angka kehadiran sholat Subuh berjemaah siswa jauh dari harapan, bahkan jauh dari layak.
Bukan Estimasi, Ini Data Digital Akurat
Angka-angka ini bukan sekadar tebakan. Data tersebut terekam secara otomatis melalui aplikasi Smart Surau, sebuah program unggulan Pemerintah Kota Padang. Aplikasi ini memantau partisipasi keagamaan masyarakat menggunakan sistem QR Code, di mana setiap kehadiran sholat berjemaah di surau atau masjid tercatat secara real-time.
Wawako Maigus Nasir menegaskan bahwa data ini menjadi indikator penting.
“Indikator keberhasilan seorang kepala sekolah, salah satunya adalah kemampuan mendorong partisipasi siswa dalam program Smart Surau hingga di atas 90 persen,” tegas Maigus.
Namun, kenyataan yang terungkap menunjukkan angka yang sangat kontras dengan target tersebut.
Kejadian ini sontak menjadi perbincangan hangat di kalangan internal Muhammadiyah dan masyarakat luas. Pertanyaan besar pun menggantung: bagaimana mungkin sekolah yang berafiliasi dengan organisasi Islam yang kuat justru gagal menanamkan kewajiban dasar dalam Islam kepada siswanya?
Data yang dibongkar Maigus Nasir di momen Milad Muhammadiyah ini bukan sekadar angka, melainkan cermin yang memaksa semua pihak—baik sekolah, pengurus, maupun orang tua—untuk mengevaluasi kembali sejauh mana penanaman nilai-nilai Islam telah berhasil diterapkan pada generasi muda saat ini.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com


Leave a Reply