3 “Musuh” Sujiro Seam di Jakarta: Macet, Polusi dan Nyamuk, Teman Bilang Saya Manis, Jadi Darah pun Manis bagi Nyamuk

Duta Besar Uni Eropa untuk ASEAN, Sujiro Seam
Duta Besar Uni Eropa untuk ASEAN, Sujiro Seam (KalderaNews/JS de Britto)
Sharing for Empowerment

JAKARTA, KalderaNews.com – Menjadi diplomat di salah satu kota tersibuk di dunia membawa tantangan tersendiri bagi Duta Besar Uni Eropa untuk ASEAN, Sujiro Seam.

Dalam sebuah kesempatan dialog santai di Jakarta pada Senin malam, 26 Januari 2026., Seam secara terbuka membagikan pengalamannya mengenai tiga “musuh” yang paling tidak ia sukai dari dinamika kehidupan di Jakarta: kemacetan, polusi, dan gangguan nyamuk.

Strategi Menghindari Kemacetan

Hal pertama yang menjadi sorotan utama Seam adalah kemacetan Jakarta yang legendaris. Ia mengakui bahwa kemacetan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi produktivitas dan kenyamanan. Menariknya, Seam memiliki cara tersendiri untuk menyiasati hal ini.

BACA JUGA:

Ia berkelakar bahwa salah satu alasan ia memilih lokasi pertemuan tertentu adalah karena letaknya yang berada tepat di bawah kantornya, sehingga ia tidak perlu “berperang” dengan lalu lintas Jakarta yang padat.

Isu Polusi di Tengah Pertumbuhan Kota

Masalah kedua yang dikeluhkannya adalah tingkat polusi udara. Meski ia mencatat adanya sedikit perbaikan pada hari-hari hujan, polusi tetap menjadi perhatian serius.

Namun, sebagai seorang diplomat yang optimis, Seam memandang kemacetan dan polusi ini sebagai “efek samping” dari pertumbuhan kota yang luar biasa.

Ia takjub dengan perkembangan Jakarta yang kini menampung sekitar 42 juta jiwa, menjadikannya salah satu kawasan aglomerasi terbesar di dunia.

“Darah Manis” dan Gangguan Nyamuk

Hal terakhir yang ia sebutkan dengan nada bercanda namun personal adalah gangguan nyamuk. Seam merasa dirinya menjadi sasaran favorit nyamuk-nyamuk di Indonesia.

“Teman-teman saya bilang itu karena saya orangnya manis, jadi darah saya pun terasa manis bagi mereka,” selorohnya, merujuk pada alasan mengapa ia sering digigit nyamuk dibandingkan orang lain di sekitarnya.

Meskipun harus berhadapan dengan tiga tantangan tersebut, Seam tetap menegaskan kekagumannya pada energi dan pertumbuhan Jakarta.

Baginya, segala permasalahan tersebut adalah bagian dari dinamika sebuah kota besar yang sedang berkembang pesat menuju masa depan.

Diplomat dengan Pendekatan Dinamis

Duta Besar Uni Eropa (UE) untuk ASEAN, Sujiro Seam, merupakan sosok diplomat yang membawa energi segar dan pendekatan yang sangat dinamis dalam memperkuat hubungan antara dua blok kawasan paling berpengaruh di dunia.

Sejak mengemban misi diplomatiknya di Jakarta, pria berkebangsaan Prancis ini dikenal bukan hanya karena kecakapannya dalam bernegosiasi di meja bundar, tetapi juga karena kemampuannya memanusiakan diplomasi melalui keterlibatan langsung yang hangat dan komunikatif.

Kehadirannya menjadi jembatan krusial di tengah dinamika geopolitik global, di mana ia secara konsisten mendorong visi “Kemitraan Strategis” yang tidak hanya berfokus pada perdagangan, tetapi juga pada nilai-nilai bersama seperti pembangunan berkelanjutan dan supremasi hukum.

Gaya kepemimpinan Seam sering kali dipuji karena keterbukaannya terhadap publik dan kepiawaiannya dalam memanfaatkan media sosial untuk mendekatkan kebijakan Uni Eropa kepada masyarakat luas di Asia Tenggara.

Ia memahami betul bahwa hubungan antarnegara tidak akan berjalan optimal tanpa adanya hubungan antarmasyarakat yang kuat, sehingga ia kerap terlihat berinteraksi dengan kaum muda, aktivis lingkungan, hingga pelaku industri kreatif.

Dengan latar belakang pengalaman diplomatik yang luas, termasuk pengabdiannya di kawasan Pasifik sebelumnya, Seam membawa perspektif yang unik mengenai pentingnya ketahanan iklim dan transisi energi hijau yang menjadi agenda utama kerja sama UE-ASEAN saat ini.

Di balik setelan jas diplomatiknya, Sujiro Seam adalah figur yang sangat menghargai keberagaman budaya, sebuah kualitas yang membuatnya sangat diterima di lingkungan ASEAN yang majemuk.

Ia mampu menavigasi isu-isu kompleks, mulai dari sengketa dagang hingga kerja sama keamanan maritim, dengan sikap yang tenang namun tegas, selalu mengedepankan dialog sebagai jalan keluar utama.

Dedikasinya untuk memastikan bahwa suara Uni Eropa terdengar sebagai mitra yang setara dan suportif bagi sentralitas ASEAN menjadikan masa jabatannya sebagai babak penting dalam sejarah diplomasi kedua kawasan, membuktikan bahwa diplomasi modern membutuhkan kombinasi antara kecerdasan intelektual dan empati yang tulus.

Kelahiran Kamboja

Perjalanan karier Sujiro Seam menyimpan keunikan tersendiri karena ia merupakan personifikasi dari pertemuan budaya yang sangat jarang ditemukan di dunia diplomasi tingkat tinggi.

Lahir di Kamboja sebelum akhirnya pindah dan membangun kehidupan di Prancis, latar belakangnya sebagai diaspora memberikan dimensi personal yang mendalam pada setiap misi diplomatik yang ia jalankan.

Masa kecil atau akar sejarahnya di Asia Tenggara bukan sekadar catatan biografis, melainkan sebuah “kompas batin” yang memungkinkannya memahami nuansa psikologis dan sosiologis masyarakat ASEAN dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh diplomat Eropa pada umumnya.

Karier Seam di Eropa merupakan bukti nyata dari meritokrasi dan dedikasi intelektual yang luar biasa, di mana ia menapaki tangga birokrasi elit Prancis melalui pendidikan di institusi bergengsi seperti École Nationale d’Administration (ENA).

Sebelum menjabat sebagai Dubes Uni Eropa untuk ASEAN, ia telah mengasah ketajamannya di berbagai pos strategis, termasuk menjabat sebagai Konsul Jenderal Prancis di Houston serta memimpin misi diplomatik di Fiji dan negara-negara Pasifik lainnya.

Pengalaman panjangnya di Kementerian Luar Negeri Prancis memberikan ia pemahaman mendalam tentang kebijakan luar negeri Uni Eropa yang kaku, namun ia berhasil melunakkannya dengan sentuhan pendekatan yang lebih fleksibel dan adaptif.

Keunikan masa lalunya menciptakan simbiosis sempurna dalam gaya kepemimpinannya saat ini; ia adalah seorang teknokrat Eropa yang memiliki “hati” Asia Tenggara.

Kemampuannya untuk berbicara dalam bahasa diplomasi Barat yang lugas tanpa kehilangan kepekaan terhadap norma-norma ketimuran membuat Sujiro Seam menjadi sosok yang sangat efektif dalam menjembatani perbedaan pandangan antara Brussel dan Jakarta.

Transformasi hidupnya, dari seorang individu dengan latar belakang pengungsi atau imigran menjadi salah satu wajah paling berpengaruh bagi Uni Eropa, memberikan inspirasi bahwa diplomasi masa depan adalah tentang identitas yang inklusif dan jembatan budaya yang kokoh.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*