
The Path To Financial Freedom, EduFulus – Tahun 2025 menjadi lembaran hitam bagi industri pasar modal Indonesia seiring munculnya gelombang pembobolan Rekening Dana Nasabah (RDN) yang dilakukan oleh sindikat kejahatan siber profesional.
Industri pasar modal Indonesia sepanjang tahun 2025 sempat diguncang oleh serangkaian serangan siber dan pembobolan Rekening Dana Nasabah (RDN).
Kasus ini menjadi alarm keras bagi para investor mengenai pentingnya keamanan data dan pemilihan platform investasi yang memiliki sistem pertahanan siber mumpuni.
Berdasarkan laporan dari berbagai sumber media dan keterangan resmi otoritas, berikut adalah ringkasan kasus pembobolan sekuritas yang sempat viral pada tahun 2025:
1). Kasus Panca Global Sekuritas (PSG) – Terbesar & Paling Viral
Kasus ini menjadi sorotan utama nasional pada September 2025. Dana nasabah pada RDN di Bank Central Asia (BCA) dilaporkan raib dengan total kerugian yang ditaksir mencapai Rp70 miliar.
Modus pembobolan ini pelaku diduga masuk melalui celah API dan sistem back-office vendor yang digunakan sekuritas.
Hacker menggunakan metode account take over (ambil alih akun), menjual saham nasabah, dan memindahkan dananya secara berlapis.
Dampak pembobolan ini pihak Panca Global Kapital Tbk (PEGE) akhirnya mengembalikan dana nasabah yang terdampak pada 10 September 2025 sebagai bentuk tanggung jawab.
2). NH Korindo Sekuritas & Trimegah Sekuritas
Dua sekuritas besar lainnya, NH Korindo dan Trimegah Sekuritas, juga dilaporkan sempat mengalami serangan siber yang menargetkan RDN nasabah.
Pola serangan ini menunjukkan tren penggunaan bot untuk mendeteksi momen saat dana tersedia di rekening dormant (rekening pasif) sebelum akhirnya dieksekusi oleh pelaku.
3). Mirae Asset Sekuritas – Laporan ke Bareskrim
Pada November 2025, muncul laporan bahwa nasabah Mirae Asset Sekuritas melapor ke Bareskrim Polri terkait hilangnya dana investasi senilai Rp71 miliar.
Meski masih dalam proses investigasi hukum, kasus ini menambah daftar panjang kekhawatiran investor ritel terhadap keamanan di broker-broker besar.
4). RHB Sekuritas (Melalui Bank Permata)
Sempat terjadi gangguan dan penutupan sementara layanan RDN di RHB Sekuritas melalui Bank Permata pada pertengahan September 2025.
Hal ini dilakukan sebagai langkah preventif setelah terdeteksi adanya aktivitas mencurigakan pada rekening tujuan yang diduga menjadi penampungan hasil kejahatan siber.
Mengapa Sekuritas Begitu Mudah Dibobol?
Pakar IT dan ITSEC Asia mengungkapkan beberapa titik lemah yang dimanfaatkan “maling digital” sepanjang 2025:
- Vendor Tunggal: Banyak broker menggunakan vendor IT atau sistem API yang sama, sehingga satu celah bisa membobol banyak sekuritas sekaligus.
- Autentikasi Lemah: Penggunaan password standar tanpa Multi-Factor Authentication (MFA) yang ketat pada sisi nasabah dan admin.
- Rekening Dormant: Akun yang jarang dipantau pemiliknya menjadi target empuk karena pelaku bisa mengamati pola dana tanpa disadari.
Menanggapi fenomena ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan aturan baru per 16 September 2025:
- Whitelist Rekening: Penarikan dana dari RDN kini hanya bisa dilakukan ke rekening atas nama nasabah yang sama atau rekening yang sudah masuk daftar whitelist.
- Perpanjangan Waktu Withdrawal: Proses penarikan dana diperketat untuk memberikan waktu bagi sistem mendeteksi anomali.
- Wajib Audit Siber: Seluruh Anggota Bursa (AB) diwajibkan melakukan audit keamanan teknologi informasi secara berkala.
SIMAK JUGA: Mediasi Mirae Asset – Korban Buntu, Korban Tuding Ada yang Ditutupi dalam Kasus Bobolnya Rp200 M
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus lainnya di Google News. Dus, jika Anda ingin bekerjasama dengan kanal EduFulus, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply