JAKARTA, KalderaNews.com– Media sosial kembali diramaikan oleh isu serius terkait keamanan data. Kali ini, melibatkan sejumlah universitas besar di Indonesia.
Warganet turut menyoroti dugaan kebocoran data pribadi mahasiswa. Isu tersebut mencuat setelah seorang pengguna Facebook bernama Matt Murdrock mengunggah klaim temuan data mahasiswa di dark web.
Unggahan tersebut dengan cepat menyebar luas dan memicu perhatian publik. Dalam postingannya, Matt menyertakan sejumlah tangkapan layar yang diklaim berasal dari forum gelap, menampilkan kumpulan data sensitif yang diduga milik mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Tanah Air.
Dalam unggahan Matt Murdrock, tercantum sejumlah perguruan tinggi negeri maupun swasta yang diduga terdampak.
BACA JUGA:
- Data Terbaru! 15 Kampus Swasta Terbaik 2026 Versi Webometrics, Kamu Pilih yang Mana?
- Viral Biduan Dangdut Tampil di Panggung Isra Mi’raj Banyuwangi, MUI Soroti Potensi Penistaan
- Kampus Swasta Terbaik Indonesia Versi QS WUR 2026, Binus Masih Jadi Jawara
Di antaranya Universitas Brawijaya, Universitas Padjadjaran, Universitas Tanjungpura, Universitas Terbuka, Universitas Atma Jaya, Universitas Muhammadiyah, Universitas Siliwangi, Universitas Mulia, Universitas Perjuangan, Unisma, Universitas Pamulang, Universitas Cokroaminoto, Universitas Pancasakti, hingga Universitas Udayana.
Data Sensitif Diduga Beredar di Dark Web
Berdasarkan tangkapan layar yang diunggah, data yang diduga bocor mencakup informasi penting seperti nama lengkap mahasiswa, Nomor Induk Mahasiswa (NIM), alamat email, hingga kata sandi akun. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran besar terkait perlindungan data pribadi di sektor pendidikan tinggi.
Sejumlah gambar yang beredar juga memperlihatkan logo dan identitas universitas ternama. Hal tersebut memperkuat dugaan bahwa kebocoran data ini tidak bersifat tunggal, melainkan melibatkan lebih dari satu institusi dan berpotensi berdampak luas bagi mahasiswa maupun alumni.
Menanggapi isu tersebut, Spesialis Keamanan Teknologi Vaksincom, Alfons Tanujaya, menilai kebocoran data kemungkinan besar tidak berasal dari peretasan satu per satu universitas. Menurutnya, data mahasiswa bisa saja dikumpulkan oleh satu institusi atau badan publik tertentu.
“Probabilitas untuk diretas satu persatu ada, tetapi sangat repot dan (potensinya) relatif kecil,” ujar dia.
Alfons menduga data tersebut dikelola oleh suatu badan publik yang sistem keamanannya lemah, sehingga peretas berhasil mengakses dan menyalin keseluruhan basis data.
“Lalu yang mengelola badan publik itu tidak mengamankan dengan baik dan peretasnya berhasil masuk dan mengkopi semua data ini,” Alfons menambahkan.
Ia menilai kebocoran data mahasiswa ini sebagai peristiwa ironis, mengingat informasi yang tersebar sangat sensitif dan berpotensi disalahgunakan. “Data dia pernah kuliah di mana, ada nama orang tua, data kependudukan. Itu bisa dieksploitasi,” kata Alfons.
Oleh karena itu, Alfons mendesak agar badan publik yang mengelola data memiliki kesadaran tinggi terhadap keamanan informasi.
Ia juga meminta Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk turun tangan menyelidiki sumber kebocoran tersebut.
“Harus ada teguran. Kalau perlu sanksi, supaya mereka tahu bahwa mengelola data itu harus dengan konservatif dan baik,” kata Alfons.
Dampak Mulai Dirasakan Alumni
Dampak dari dugaan kebocoran data ini disebut sudah mulai dirasakan secara langsung. Salah satu alumni Universitas Islam Lamongan (Unisla), Hakim, mengaku kerap menerima panggilan dari nomor tidak dikenal dalam beberapa waktu terakhir.
“Makanya saya sering dapat telepon nomor baru, yang enggak jelas,” ujar Hakim.
Di sisi lain, pihak internal kampus Unisla disebut telah mengetahui isu tersebut. Seorang dosen Unisla yang enggan disebutkan namanya menyatakan bahwa informasi ini akan segera dilaporkan ke pimpinan kampus. “Iya mas, nanti akan diinformasikan ke pimpinan,” ujarnya singkat.
Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak kampus maupun pemerintah terkait kebenaran data, sumber kebocoran, maupun langkah konkret penanganan kasus tersebut.
Masyarakat, khususnya mahasiswa dan alumni, diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, segera mengganti kata sandi akun digital, serta mengamankan data pribadi guna mengantisipasi potensi penyalahgunaan informasi.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply