Gen Z & Milenial Terjebak ‘Gaji Numpang Lewat’, Biaya Hidup Jadi Sumber Stres Nomor Satu

Generasi Milenial
Tanpa jaringan internet hidup mereka bakal terasa hampa.Penggunaan internet bisa meninggalkan jejak digital.(KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

JAKARTA, KalderaNews.com – Meski diproyeksikan bakal mendominasi 74 persen angkatan kerja global pada tahun 2030, generasi milenial dan Gen Z justru sedang berada dalam titik nadir kecemasan finansial.

Laporan terbaru Deloitte Global 2025 Gen Z and Millennial Survey mengungkapkan sebuah fakta pahit: untuk empat tahun berturut-turut, biaya hidup (cost of living) tetap menjadi momok nomor satu yang menggeser isu lingkungan hingga stabilitas politik.

Survei yang melibatkan lebih dari 23.000 responden di 44 negara ini memotret fenomena “hidup dari gaji ke gaji” (living paycheck to paycheck) yang dialami oleh 52 persen dari kedua generasi tersebut.

BACA JUGA:

Angka ketidakamanan finansial pun melonjak drastis; kini hampir separuh responden merasa tidak aman secara finansial, naik signifikan dibandingkan data tahun 2024.

Tekanan ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan pemicu utama stres kronis yang merenggut kebahagiaan mereka.

Antara Bertahan Hidup dan Mencari Makna

Tekanan ekonomi yang kian mencekik melahirkan strategi adaptasi baru melalui side hustle atau pekerjaan sampingan.

Menariknya, bagi sepertiga Gen Z dan Milenial, pekerjaan tambahan bukan lagi sekadar hobi atau ruang eksplorasi identitas, melainkan kebutuhan darurat untuk menambah napas finansial.

Data menunjukkan adanya korelasi kuat antara “isi dompet” dengan kesehatan mental; mereka yang puas dengan kompensasi cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik dan lebih mampu melihat makna dalam pekerjaannya.

Fenomena Phantom Wealth dan Retaknya Harapan Pensiun

Salah satu temuan paling mengejutkan dalam survei ini adalah adanya phantom wealth atau kekayaan semu. Di saat data makro ekonomi menunjukkan adanya akumulasi aset, banyak anak muda tetap merasa tidak kaya karena terjepit pengeluaran harian.

Hal ini memicu ketakutan masif akan masa tua, di mana sekitar 40 persen dari mereka khawatir tidak akan mampu pensiun dengan layak.

Akibatnya, loyalitas kerja pun memudar; gaji yang lebih tinggi dan keseimbangan hidup (work-life balance) kini menjadi alasan utama bagi sepertiga pekerja muda untuk segera hengkang dari perusahaan mereka saat ini dalam dua tahun ke depan.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*