The Path To Financial Freedom, EduFulus – Tabir gelap di balik pengunduran diri massal sejumlah petinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir Januari lalu akhirnya terkuak.
Masalah transparansi dan hancurnya kredibilitas pasar modal di mata internasional menjadi pemicu utama instruksi tegas dari Istana.
SIMAK JUGA: Bos OJK-BEI Mundur Berjamaah, Netizen: Saatnya “Bersih-Bersih” Total hingga Khawatir “Senin Berdarah”
Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan Hidup, Hashim Djojohadikusumo, secara blak-blakan mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto geram melihat kondisi pasar modal Indonesia yang sempat lumpuh akibat aksi jual masif.
“Kehormatan Negara Dipertaruhkan”
Dalam acara ASEAN Climate Forum di Gedung BEI, Rabu (11/2/2026) lalu, Hashim menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam melihat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk hingga terkena trading halt berkali-kali.
“Presiden Prabowo sangat marah. Beliau marah dengan apa yang terjadi minggu lalu, terutama dengan kehormatan negara kita yang dipertaruhkan,” tegas Hashim.
Menurutnya, pengunduran diri para pejabat tersebut bukan tanpa alasan. Pemerintah meminta mereka menanggalkan jabatan karena dianggap gagal menjaga transparansi pasar, sebuah fondasi yang menurut Morgan Stanley Capital International (MSCI) tengah bermasalah di Indonesia.
Empat Surat Teguran dari MSCI
Gejolak ini bermula ketika MSCI mengirimkan empat surat resmi kepada pemerintah Indonesia.
Isinya mempertanyakan aspek pengelolaan pasar modal yang dianggap tidak transparan. Dampaknya fatal: MSCI menghentikan sementara perubahan indeks bagi emiten Indonesia, yang memicu kepanikan investor global.
Kronologi Ambruknya IHSG (Januari – Februari 2026):
- 28 Januari: IHSG anjlok 8,27% ke level 8.237. Trading halt pertama diaktifkan.
- 29 Januari: Tekanan berlanjut, IHSG terjun bebas 10,04%. Bursa kembali membeku.
- 30 Januari: Pengunduran diri petinggi otoritas pasar modal secara serentak.
- 2 Februari: IHSG kembali merosot 5,31% di sesi pertama.
Peringatan Keras untuk Pejabat Baru
Hashim memberikan peringatan terbuka kepada Pjs Dirut BEI, Jeffrey Hendrik, dan perwakilan OJK, Hasan, bahwa pemerintah akan melakukan pengawasan super ketat mulai saat ini.
SIMAK JUGA: Gempa di OJK! Mahendra Siregar dan Petinggi Pasar Modal Serentak Mundur demi ‘Tanggung Jawab Moral’
“Pemerintah akan mengawasi Anda dengan ketat, dan saya serius. Ini semua tentang kepercayaan dan kredibilitas,” tambah Hashim, seraya menyebutkan ada delapan investor besar yang menemuinya untuk meminta jaminan integritas pasar.
Respons Otoritas: Langkah Korektif Segera
Menanggapi “semprotan” dari Istana, Pjs Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, memilih melihatnya sebagai bentuk dukungan institusional.
Ia mengaku siap melakukan langkah strategis untuk memulihkan nama baik bursa.
“Kami tentu berterima kasih mendapatkan dukungan yang luar biasa dari pemerintah. Pak Hashim memberikan dukungan bagi kami yang baru menjabat untuk melakukan hal-hal penting secepat mungkin. Dan itu akan kami lakukan,” ujar Jeffrey.
Meski IHSG sempat menunjukkan tanda-tanda penguatan di angka 8.329 pada penutupan pekan lalu, tugas berat kini menanti jajaran direksi baru: membuktikan kepada dunia bahwa pasar modal Indonesia bukan lagi “pasar gelap” yang minim transparansi.
SIMAK JUGA: Inilah Gerbong Pimpinan dan Kroni Pasar Modal yang Kompak Mundur Usai IHSG Ambrol
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus lainnya di Google News. Dus, jika ada yang tertarik menjalin kerjasama dengan di konten EduFulus, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply