
JAKARTA, KalderaNews.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menerbitkan peringatan dini cuaca ekstrem yang berpotensi mengganggu kelancaran arus mudik Lebaran pada Minggu (22/3) dan Senin (23/3).
Hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat diprediksi akan mengguyur sejumlah wilayah strategis, menuntut kewaspadaan ekstra bagi pemudik di darat, laut, maupun udara.
BACA JUGA:
- Kapan Awal Musim Kemarau 2026 di Indonesia? BMKG Prediksi Kemarau Datang Lebih Awal di Sejumlah Wilayah Ini
- Duh, Jawa Timur dan Daerah Ini Akan Lebih Kering, April Mulai Kemarau dengan Puncaknyapada Agustus
- Waspada! Kemarau 2026 Datang Lebih Awal dan Lebih Kering, Begini Penjelasan Lengkap BMKG!
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengonfirmasi bahwa meski secara umum kondisi cuaca tergolong kondusif, terdapat dinamika atmosfer yang perlu diantisipasi, terutama di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan.
Minggu, 22 Maret: Fokus Wilayah Timur dan Tengah
Berdasarkan prakiraan BMKG, hari Minggu ini menjadi momen krusial bagi wilayah Indonesia bagian tengah dan timur.
Hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat berpotensi terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan dan Papua Pegunungan.
Sementara itu, hujan intensitas sedang hingga lebat juga membayangi hampir seluruh wilayah Pulau Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur), Bali, NTB, serta sebagian besar Kalimantan dan Sumatera.
Selain hujan, peringatan dini angin kencang juga dikeluarkan untuk wilayah Bangka Belitung, Maluku, Sulawesi Selatan, dan NTT.
Senin, 23 Maret: Pergeseran Intensitas ke Sulawesi Tengah
Memasuki hari Senin (23/3), konsentrasi hujan sangat lebat diprediksi bergeser ke wilayah Sulawesi Tengah.
Namun, wilayah lain seperti Sumatera Utara, Jambi, Lampung, serta sebagian besar wilayah Kalimantan dan Papua tetap berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat.
Peringatan angin kencang masih bertahan untuk tiga wilayah utama: Maluku, NTT, dan Sulawesi Selatan, yang dapat memengaruhi keselamatan pelayaran dan penerbangan.
Faktor Siklon Narelle dan Awan Cumulonimbus
BMKG menjelaskan bahwa cuaca saat ini turut dipengaruhi oleh Siklon Tropis Narelle di daratan Australia yang memicu peningkatan curah hujan dan gelombang tinggi di perairan selatan Indonesia.
Di sektor udara, keberadaan awan Cumulonimbus (Cb) di Indonesia bagian timur diwaspadai karena risiko turbulensi.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah telah menggencarkan Operasi Modifikasi Cuaca di wilayah Jawa untuk menekan intensitas hujan ekstrem hingga 20–50 persen.
Tips untuk Pemudik
Pihak otoritas mengimbau para pemudik untuk:
- Pantau Real-Time: Selalu mengecek akun Instagram @infobmkg sebelum berangkat.
- Atur Waktu Perjalanan: Hindari berkendara saat intensitas hujan sedang memuncak untuk menghindari risiko jalan licin atau banjir.
- Kesehatan Fisik: Tetap prima menghadapi perubahan cuaca yang dinamis, mengingat tahun 2026 diprediksi akan segera memasuki musim kering yang lebih panas setelah periode hujan ini.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply