Waspada! Kemarau 2026 Datang Lebih Awal dan Lebih Kering, Begini Penjelasan Lengkap BMKG!

Krisis Air Bersih Saat Musim Kemarau
Krisis air bersih saat musik kemarau di Indonesia (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

JAKARTA, KalderaNews.com – BMKG memberikan peringatan serius: musim kemarau 2026 diprediksi akan tiba lebih cepat dari biasanya dan membawa sifat udara yang jauh lebih kering.

Pemicu utama berakhirnya fase La Niña Lemah pada Februari lalu, yang kini bergeser ke fase Netral dan diprediksi bakal “menyeberang” menjadi fenomena El Niño pada pertengahan tahun 2026.

BACA JUGA:

Kapan dan di mana mulainya?

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengungkapkan bahwa pergeseran angin monsun sudah mulai terlihat.

Sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) akan mulai merasakan teriknya matahari sejak April 2026.

  • April: Pesisir utara Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, NTT, serta sebagian kecil Kalimantan dan Sulawesi.
  • Mei – Juni: Menyusul di 347 wilayah lainnya.

“Hampir separuh wilayah Indonesia (46,5%) akan mengalami awal kemarau yang MAJU atau lebih cepat dari rerata historisnya,” jelas Faisal.

Puncak kemarau Agustus

Jangan remehkan bulan Agustus. BMKG memproyeksikan 61,4% wilayah Indonesia akan mencapai titik terkeringnya pada bulan tersebut.

Wilayah yang terdampak meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.

Yang perlu diwaspadai, durasi kemarau kali ini diprediksi lebih panjang dari biasanya.

Sekitar 64,5 persen wilayah Indonesia akan mengalami sifat kemarau “Bawah Normal”, istilah teknis untuk kondisi yang jauh lebih kering dan minim hujan.

Daftar wilayah terdampak kemarau lebih awal

  1. Sebagian besar Sumatra & Jawa.
  2. Bali & Nusa Tenggara.
  3. Kalimantan bagian Selatan & Timur.
  4. Sebagian besar Sulawesi & Maluku.
  5. Sebagian wilayah Papua.

Strategi hadapi kekeringan

Mengingat potensi kekeringan yang cukup tinggi, BMKG memberikan beberapa rekomendasi krusial bagi masyarakat dan pemerintah:

  • Petani disarankan segera menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang hemat air serta tahan kekeringan.
  • Revitalisasi waduk, embung, dan perbaikan jaringan irigasi harus dipercepat untuk menjaga stok air bersih dan operasional PLTA.
  • Pemerintah daerah diminta bersiaga penuh menghadapi risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta penurunan kualitas udara (polusi debu/asap).

“Informasi ini adalah peringatan dini (Early Warning). Kami harap para pemangku kepentingan segera mengubahnya menjadi aksi nyata (Early Action) untuk meminimalkan risiko bencana,” papar Faisal.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


398 views