JAKARTA, KalderaNews.com – Tekanan ekonomi masih menjadi momok bagi tenaga kerja di Indonesia. Laporan terbaru dari PwC Global Workforce Hopes & Fears Survey 2025 mengungkapkan bahwa hampir separuh atau 49 persen pekerja di tanah air mengaku mengalami tekanan finansial dalam pekerjaan mereka.
Survei yang melibatkan 812 responden dari Indonesia ini memotret kondisi pekerja di tengah ketidakpastian ekonomi global dan transformasi teknologi yang masif.
BACA JUGA:
- Waduh! Pekerja Indonesia Didominasi Lulusan SD, Lulusan SMK Paling Banyak Menganggur!
- Fenomena Overwork: 1 dari 4 Pekerja di Indonesia Bekerja Lebih dari 49 Jam per Minggu
- 1,2 Juta Kelas Menengah RI Tumbang, Jutaan Lainnya Berjinjit di Tepi Jurang
Meski angka tekanan finansial di Indonesia sedikit di bawah rata-rata global (55 persen), isu ini tetap menjadi tantangan serius bagi stabilitas domestik.
Beban Kerja dan Harapan Kesejahteraan
Dari total pekerja yang merasa tertekan secara finansial, 25 persen di antaranya menyatakan merasa kewalahan, sementara 41 persen melaporkan mengalami kelelahan (burnout) akibat kondisi kerja.
Kesenjangan antara beban kerja dan imbalan juga terlihat jelas. Meski 53 persen pekerja telah menerima kenaikan gaji dalam setahun terakhir, hanya 10 persen yang berhasil mendapatkan promosi. Kondisi ini memicu ambisi mobilitas karier yang tinggi:
- 32 persen responden berencana meminta kenaikan gaji.
- 31 persen berharap mendapatkan promosi.
- 18 persen mempertimbangkan untuk mencari pekerjaan baru.
Sisi Positif: Budaya Berpendapat dan Belajar
Di balik bayang-bayang tekanan ekonomi, pekerja Indonesia memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi dalam berkolaborasi. Sebanyak 76 persen responden merasa nyaman mengungkapkan pendapat dan ide kepada tim, jauh melampaui rata-rata global sebesar 62 persen.
Namun, terdapat jurang antar generasi. Gen X di level manajerial memiliki tingkat kenyamanan tertinggi (89 persen), sedangkan Gen Z non-manajer berada di angka terendah (68 persen), meskipun angka tersebut masih lebih baik dari rata-rata global untuk kelompok usia yang sama.
Selain itu, budaya belajar di Indonesia tergolong kuat. Sebanyak 72 persen responden melihat kegagalan sebagai kesempatan belajar, angka yang signifikan jika dibandingkan dengan rata-rata global yang hanya 54 persen.
Dampak Nyata Kecerdasan Buatan (GenAI)
Teknologi Generative AI (GenAI) mulai menunjukkan dampak nyata pada kesejahteraan pekerja. Indonesia mencatat tingkat adopsi yang cukup tinggi, di mana 69 persen pekerja telah menggunakan AI dalam setahun terakhir.
Data menunjukkan korelasi positif antara penggunaan rutin AI dengan keuntungan finansial:
- Peningkatan Gaji: 72 persen pengguna harian GenAI melaporkan kenaikan gaji, dibandingkan 52 persen bagi mereka yang tidak rutin menggunakannya.
- Produktivitas: 96 persen pengguna harian merasa lebih produktif.
- Keamanan Kerja: 82 persen pengguna harian merasa posisi mereka lebih aman di perusahaan.
PwC Global Workforce Leader, Pete Brown, menekankan bahwa teknologi saja tidak cukup. “Bisnis harus melampaui pelatihan. Pekerjaan itu sendiri perlu dirancang ulang dan kemitraan manusia-mesin perlu didefinisikan ulang,” ujarnya.
Meskipun akses terhadap sumber daya pembelajaran di Indonesia lebih baik dari global, kesenjangan antar level jabatan tetap ada. Sebanyak 89 persen eksekutif senior merasa memiliki akses pembelajaran yang memadai, namun angka ini turun menjadi 64 persen untuk pekerja di level non-manajer.
Laporan ini menjadi pengingat bagi para pemberi kerja bahwa di tengah transisi digital, kesejahteraan mental dan finansial karyawan tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga produktivitas dan loyalitas di masa depan.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply